Mallory membuka pintu kamar Doyoung perhalan. Ia tidak terbiasa bangun siang hari, jadi setelah alarmnya menyala, Mallory segera mencuci wajah dan menyikat giginya. Dari kamar Doyoung, Mallory sempat mencium wangi teh yang khas. Ia pun memutuskan untuk turun ke bawah, menghampiri ibu Doyoung yang ternyata sedang berkutat di dapur dengan pakaian rapi.
"Mallory udah bangun, ya? Gimana tidurnya semalam?"
Mallory tersenyum tipis. "Nyenyak, tante. Tante mau Mallory bantu?"
"Kebetulan. Tante lagi buru-buru, kamu bisa oles selai ini ke rotinya? Biar tante yang bakar."
Mallory mengangguk, kemudian mengambil alih sendok selai dari tangan ibu Doyoung. Selagi Mallory mengoles selai, ibu Doyoung membakar roti yang sudah lebih dulu selesai dioles.
"Omong-omong, kamu sama Doyoung kenal udah lama?"
Mallory mengangguk sambil memberikan roti yang sudah dioles selai. "Lumayan lama, tante."
"Kamu tau? Kamu perempuan pertama loh yang Doyoung bawa ke sini. Selama ini tante ga pernah denger Doyoung deket sama perempuan, baru kamu."
"Tapi saya sama Doyoung ga ada hubungan apa-apa kok, tante." Jelas Mallory.
Mallory tidak mengerti kenapa Doyoung merahasiakan hubungannya dengan Dabin dari keluarganya. Bukankah yang lebih pantas diajak datang ke pernikahan kakaknya adalah Dabin?
Ibu Doyoung tertawa. "Tante tau. Doyoung udah berkali-kali bilang kalian cuma temen. Tapi tante juga tau anak tante suka sama kamu."
Mallory hampir saja mengatakan bahwa ia juga merasakan hal yang sama. Tapi tentu saja ia tidak dapat melakukannya. Gadis itu akhirnya hanya tersenyum tipis, tidak mau membongkar sisi kehidupan Doyoung yang keluarganya tidak tahu.
"Tante mau tau dong, kalian dulu ketemunya gimana?" Tanya ibu Doyoung.
"Doyoung waktu itu lagi makan di restoran saya, tante. Kebetulan saya yang ngelayanin."
Kedua mata ibu Doyoung melebar. "Wah, kamu punya restoran?"
"Restoran pasta dan pizza biasa kok, tante."
"Tante juga punya toko kue loh. Kamu bisa bikin kue?"
Mallory mengangguk. "Bisa sedikit, tan. Tapi kadang saya masih suka gagal kalau bikin kue." Ujar Mallory disertai tawa.
"Nanti tante ajak bikin kue, mau? Tante selama ini kalau bikin kue sendiri, soalnya Gongmyung sama Doyoung kalau diajak bikin kue malah main-main."
"Mau, tante. Mau banget." Jawab Mallory antusias.
Dulu, sebelum bundanya meninggal dunia, Mallory sering diajak membuat kue oleh sang bunda. Walaupun hasilnya agak berantakan, bundanya selalu mengajari Mallory dengan senyuman. Setelah sang bunda meninggal, Mallory terkadang tetap membuat kue untuk mengobati rasa rindunya. Tidak jarang gadis itu gagal dalam karyanya, entah terlalu keras atau kurang manis. Selama ini Mallory mencari akibat kegagalannya dalam membuat kue hanya dari internet, dan ia tidak pernah tahu jelas dimana letak kesalahannya. Jadi, tawaran ibu Doyoung benar-benar-benar membuatnya semangat.
Tiba-tiba, ayah Doyoung datang memasuki dapur. "Ma, teh papa udah jadi? Eh? Ada Mallory juga."
"Pagi, om." Sapa Mallory.
Ayah Doyoung tersenyum, kemudian mengambil tempat duduk di hadapan Mallory dan meneguk teh hangat yang sudah disediakan ibu Doyoung.
"Kacau ini, masa anak sendiri jam segini belum bangun, malah tamu yang jadi repot." Ujar sang ayah sambil menggelengkan kepalanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
mallory [kim doyoung]
FanfictionNama: Kim Doyoung Usia: 24 tahun Status: Udah punya pacar, tapi jatuh hati seorang sama pelayan di restoran pizza. read at your own risk. be a wise reader. April 7, 2020 - July 29, 2021 has reached: #1 in kimdongyoung #1 in dongyoung
![mallory [kim doyoung]](https://img.wattpad.com/cover/217433431-64-k330390.jpg)