Doyoung tidak membalas pesan terakhir Mallory. Gadis itu juga tidak mendengar kabar Doyoung beberapa hari. Mallory memilih untuk tidak ambil pusing, mengira bahwa Doyoung sama seperti laki-laki brengsek di luar sana, yang akan menghilang begitu saja setelah kebusukannya tercium. Rasanya, Mallory hanya membuang-buang waktu beberapa bulan belakangan melakukan pendekatan dengan laki-laki berparas tampan itu. Jika tahu akhirnya akan begini, seharusnya ia minta langsung dipertemukan saja dengan anak dari rekan sang ayah, tidak perlu menghabiskan waktu bersama Doyoung.
"Mal?"
Suara berat Jeffrey berhasil membuat Mallory kembali pada alam sadarnya. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali.
"Ah, sorry. Tadi kita sampai mana?"
Jeffrey menatap Mallory bingung. Keduanya sedang membicarakan kesepakatan tentang marketing restoran, tetapi Mallory kelihatannya tidak sama sekali peduli dengan penjelasan Jeffrey. Ia sendiri tidak tahu apa yang sedang kakak sepupunya itu pikirkan, tetapi melihat Mallory sampai melamun, sudah pasti ini bukan hal remeh.
"Lo kenapa?" Tanya Jeffrey, mengerti bahwa ada yang tidak beres.
Mallory menggeleng, memaksakan sebuah senyuman. "Ga ada apa-apa."
"Bohong."
Mallory tertawa pelan. "Gue serius, Jeff. Tentang kesepakatannya, gue setuju. Gue turun dulu ya."
Jeffrey akhirnya tidak mengatakan apa-apa lagi, tidak ingin mendesak Mallory yang mungkin belum ingin bercerita. Setelah Mallory berlalu dari ruangannya, laki-laki itu kembali fokus pada berkas-berkas di mejanya, mengamatinya satu-persatu.
Mallory sendiri memutuskan untuk pergi melangkahkan kakinya menuruni tangga. Sekarang sudah lewat tengah hari dan memasuki jam makan siang, restoran pasti sudah mulai ramai. Maka dari itu, Mallory segera mengambil apron pendek dan menggunakannya. Baru saja gadis itu mengikat tali apronnya, salah satu pelayan menghampirinya.
"Bu Mallory."
Mallory menolehkan kepalanya menghadap sang pelayan. "Iya?"
Sang pelayan terlihat takut menatap mata Mallory. Kepalanya menunduk, tetapi Mallory tahu bahwa ia menunduk bukan karena hormat, melainkan karena ragu.
"Ada yang mau kamu sampaikan sama saya?" Tanya Mallory.
"Itu, bu. Ada pelanggan di sana, minta dilayani sama pengantar delivery pesanan dia beberapa hari yang lalu. Di struknya, yang tercetak nama Ibu Mallory."
Mallory sempat terdiam, otaknya bekerja mengingat-ingat kejadian beberapa hari yang lalu. Sayangnya tidak hanya satu pesanan yang ia antar, jadi Mallory tidak bisa menebak siapa yang dimaksud oleh pelayan tersebut.
"Yang mana orangnya?" Tanya Mallory penasaran.
"Meja nomor sebelas, bu."
Mallory mengangguk, kemudian mengarahkan lehernya ke posisi meja nomor sebelas. Di sana, ada seorang gadis yang duduk sendirian.
Gadis yang ia lihat bersama Doyoung beberapa hari yang lalu.
Mallory langsung menghela napasnya. "Pesanan dia udah jadi?"
"Sudah, bu."
"Kalau gitu saya yang layanin. Kamu boleh kembali bekerja."
"Makasih, bu. Permisi."
Setelah sang pelayan berlalu, Mallory dengan cekatan mengambil daftar pesanan dan menyiapkannya di atas nampan. Kemudian, Mallory menyiapkan senyum ramahnya sebelum akhirnya melangkah menghampiri meja nomor sebelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
mallory [kim doyoung]
FanfictionNama: Kim Doyoung Usia: 24 tahun Status: Udah punya pacar, tapi jatuh hati seorang sama pelayan di restoran pizza. read at your own risk. be a wise reader. April 7, 2020 - July 29, 2021 has reached: #1 in kimdongyoung #1 in dongyoung
![mallory [kim doyoung]](https://img.wattpad.com/cover/217433431-64-k330390.jpg)