Halo!
Kangen ga? Aku up agak sorean karena siap daring haha. Jangan lupa vote comment ya, aku tunggu loh.
Happy reading.
_____________________
Gue rasa otak gue enggak sebego itu, karena seingat gue saat kemarin malam Alvin masuk kamar kita berdua masih dalam posisi saling memunggungi. Dan subuh ini gue bangun duluan sebelum adzan berkumandang, gue bangun 30 menit lebih awal. Dibawah sana satu tengan melingkar erat di pinggang gue. Leher gue pun juga merasakan hembusan nafas teratur, gayanya aja sok mau marahan.
Dipeluk bukan berarti kekesalan gue langsung lenyap seketika. Kekesalan gue justru semakin bertambah, ada rasa ga ikhlas saat Alvin memeluk gue secara diam-diam. Gue menyingkirkan tangan Alvin dengan sekali tarikan, dan dia masih terlihat nyaman di alam bawah sadarnya.
Kepala gue menoleh, "dih, gayanya aja sok-sokan marah. Kalau udah bucin mending nurut aja dah!"
Pinggang gue seakan tertarik kebelakang saat tubuh gue baru aja mau turun dari kasur. Tarikan tersebut sontak membuat posisi gue terjatuh di dada Alvin, pas banget muka gue terbenam disana.
"Mas, aku mau turun. Mau subuhan!" Ujar gue jelas dengan nada kesal, tak mendapatkan jawaban dari ucapan gue, langsung aja gue memaksakan diri untuk terlepas dari pelukan Alvin. Tapi gak berhenti sampai disitu, karena sekarang Alvin malah memasukkan satu tangganya di antara celah kepala gue dan malah semakin mengeratkan pelukannya. Elusan demi elusan yang gue rasakan malah membuat mata gue sekan kembali mengantuk.
"Belum adzan, gak ada yang nyuruh kamu turun dari kasur."
"Kita masih marahan!"
"Cancel sebentar."
Mana ada marahan pakai acara cancel segala. Emang dasarnya Alvin gak profesional. Gue mendengus sebal saat Alvin mengecup puncak kepala gue.
"Ga boleh cium-cium," peringat gue dan langsung saja menahan wajah Alvin yang sudah hampir mengecup kening gue.
"Tiap pagi gitu."
"Tapi sekarang aku ga mau, aku masih kesel sama Mas. Jangan cium aku, jangan peluk aku, jangan ngomong sama aku. Pokonya Mas jauh-jauh dari aku," Alvin langsung melepaskan tangannya dan menjauhkan kepalanya, tapi tubuh gue sama sekali belum memberikan reaksi. Harusnya, gue langsung melepaskan diri dari dia.
"Kenapa masih meluk? Katanya ga mau."
"Mas yang meluk aku."
"Mana? Coba liat. Sekarang tangan Mas dimana?" Kepala gue menunduk melihat posisi tangan Alvin. Benar, tangan itu udah terlepas dari pinggang gue. Bahkan sekarang posisinya gue yang memeluk Alvin sambil membenamkan diri di dadanya.
Gue malu.
"Gitu ya yang namanya ga boleh peluk-peluk? Gak boleh cium-cium?"
Gue langsung menjauhkan tubuh gue, "engga. Aku ga peluk Mas."
"Terus tadi itu apa?"
"Itu tanpa sadar."
"Alasan."
"MASSS!!" Tanpa sadar gue berteriak kesal, suatu hal yang sangat sering gue lakukan. Alvin tertawa kecil diiringi kepalanya yang menggeleng, dengan hentakan kaki yang keras gue turun dari ranjang dan masih dengan bibir yang maju kedepan.
Sedangkan Alvin, kalau ditanya masih marahan atau tidak tentu saja jawabannya masih. Cuma dirinya sudah terbiasa memeluk tubuh Vira saat tidur, tanpa pergerakan sadar pun tindakan itu akan terjadi begitu saja. Ada rasa nyaman saat ia memeluk tubuh Vira, tangannya yang lebar itu sangat pas untuk melingkar di tubuh ideal itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
COLD LECTURER (REVISI)
RomanceMendapati dirinya akan di jodohkan, Vira merasa konyol saat Handi-sang Ayah-tak sedikitpun mengizinkan dirinya untuk mengeluarkan sebuah argumen penolakan. Sial yang didapatnya saat mengetahui bahwa Alvin-salah satu dosen muda di kampusnya merupaka...
