#38

64.9K 4.7K 741
                                        

Hai! Selamat memasuki bulan September.

Link GC ada di bio aku!

Vote Dan comment nya yuk!

Selamat membaca❤️

_________________

Mobil yang gue kendarai terparkir rapi di halaman rumah Bunda. Dengan senyum yang merekah gue masuk kedalam.

Tanpa mengucapkan salam. Iya gue tau gue laknat.

"Bunda!" Panggil gue setengah berteriak. Gak ada suara Bunda yang terdengar.

"Ayah!" Panggil gue lagi, tetap gak ada.

Sekarang itu masih jam kerja, ga mungkin kalau Bunda sama Ayah gue jalan keluar. Setau gue, Ayah paling gak suka kalau jam kerjanya di ganggu sama kegiatan lain.

"WOI ADA ORANG GAK SIH!" Kali ini nada gue sedikit ngegas. Dari arah pintu, seorang cowok keluar dengan muka bantalnya.

"Berisik bego, pulang lo sana." Senyum gue langsung merekah. Disitu, seorang Fero berdiri dengan tatapan kesalnya.

Gue langsung lari, meluk dia. "Abang, miss you."

Fero membalas pelukan gue. Pelukan seorang Ayah dan Abang emang gak pernah salah, disitu gue dapat ketenangan dan juga kenyamanan.

"Mas mis mas mis. Gue kira lo udah gak ingat kalau juga punya abang." Di dalam pelukan Fero, gue terkekeh pelan.

Pelukan itu gue lepas, "Ayah sama Bunda mana?"

"Ini nih anak gak tau diri, Ayah sama Bundanya keluar Kota aja gak tau."

"Serius?"

"Makanya jangan rebahan aja kerjaan lo, sekali-kali orang tua itu di telpon. Mentang-mentang udah kawin." Ceramah Fero, gue melirik sinis kearah dia.

"Gue serius."

"Gue juga serius."

Berarti, Ayah sama Bunda lagi gak ada di sini.

"Emang kemana?" Tanya gue lagi.

"Jakarta."

"Ngapain?"

"Banyak nanya anjir, mending lo buatin gue kopi susu sana." Ini gak salah? Disini harusnya gue yang di buatin minum. Kenapa jadi dia?

"Disini gue yang tamu, berarti lo yang buatin gue minum,"

"Cepet!" Lanjut gue.

"Tamu pala lo, ini juga rumah lo. Sekali-kali buatin gak masalah sih."

"Jawab dulu pertanyaan yang tadi." Jawab gue, gak akan buatin sebelum pertanyaan gue terjawab.

"Ayah ada kerjaan, kayak biasa Bunda ikut nemanin."

Gue ngangguk. Pikiran gue langsung melayang ke Alvin, bahkan sehabis gue telponan sama dia malam itu, dia belum nelpon gue lagi sampai sekarang.

Entahlah, emang sesusah itu untuk kasih kabar ke gue dalam hidup dia.

Sesuai perintah, gue membuat 2 gelas kopi susu.

"Alvin ngajar?" Gue menggeleng.

"Terus?"

"Seminar."

"Di sini?"

"Gak, Bandung."

"Buset, pantes lo kesini."

Gue menghiraukan Fero, tangan gue sibuk mengotak-atik remote buat cari film yang seru.

_________________

COLD LECTURER (REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang