#48

76.2K 5.2K 1.1K
                                        

Hai!

Maaf baru up ya, tapi aku usahakan seminggu dua kali. Aku takut kalian kelamaan nunggu.

Aku seneng kalian mulai banyak yang vote dan comment. Jujur, itu sumber semangatku.

Chapter ini akan sedikit puitis ya.

Jangan lupa vote dan comment. Jangan malas ya wkwk.

Happy reading

"Jika kalian siap mengatakan cinta, maka kalian juga siap untuk mengubah hidup kalian 180°. Siap menerima hidup kalian yang baru, dan memulai nya dengan hati yang terikat sempurna."

_______________________


Alvin pov.

Flashback ke pertengkaran di kamar dan kejadian belakangan.

Sebelumnya, apa perlu saya mengenalkan diri lagi kepada kalian? Saya rasa tidak.

Kalian semua cukup tau siapa saya.

Tapi, apa perlu kali ini saya mengakui bahwa saya adalah pria bodoh yang bertindak diluar nalar? Mungkin iya.

Itu saya, dan saya mengakuinya.

Entahlah rasa apa yang sedang membuat hati saya gelisah beberapa belakangan ini. Perihal rasa sayang untuk istri saya, tak perlu kalian ragukan karena rasa sayang saya sudah tumbuh untuk Vira sejak pernikahan kami menginjak 3 bulan.

Hanya saja saya tak mengakuinya.

"Aku benci dengan takdir yang di goreskan untuk aku, termasuk mengandung anak kamu."

Lagi, untuk kesekian kalinya saya merasa tertampar. Saya akui saya bodoh, tapi niat awal saya adalah menjaga apa yang saya punya.

Melindungi apa yang saya sayangi.

Dan dia adalah istri dan anak saya. Anak yang bahkan belum sempat saya ajak untuk bercanda.

Biarkan saya bercerita tentang hati saya sedikit. Apa boleh?

Tapi saya tidak meminta persetujuan kalian.

Saat itu, mendengar kabar bahwa saya gagal menjadi seorang papa adalah hari dimana semua penyesalan saya tiba. Niat awal saya menjaga anak saya, tapi kenapa sekarang seperti saya yang membunuhnya melewati jalur sikap dan perasaan.

Tapi saya juga tak bisa untuk terus melihat sikap egois Vira hingga menyebabkan semuanya. Saya marah, tapi itu semua bermula dari saya. Saya kecewa, tapi itu tak sebanding dengan rasa sakit yang saya ciptakan untuknya.

Jadi, apa saya memiliki alasan yang kuat untuk menyalahkan Vira? Tidak, karena pada dasarnya saya yang salah dari segi manapun.

Saya tekankan, pernikahan itu di bangun untuk dijaga sampai mati. Dan itu sedang saya pertahankan saat ini.

Saya menikahi Vira, meneruskan peran ayah nya, melindungi anak gadis orang yang dipercayai kepada saya, dan berjanji untuk tidak meninggalkannya. Pernikahan itu bukan suatu hal yang pantas di jadikan untuk candaan. Saat saya mengucapkan ijab kobul dan terdengar kata sah, maka saat itu sepenuhnya diri saya berjanji. Berjanji untuk melindungi, menjaga, menyayangi, dan hidup bersamanya sampai saya mati.

Entah apa tindakan yang saya lakukan belakangan kemarin, saya manusia biasa yang juga memiliki rasa kasihan. Sudah saya tekankan, sikap saya ke Sania hanya sebatas makhluk sosial. Saya dan dia adalah dua orang yang pernah bersama, saya pernah menenggelamkan rasa saya terlalu dalam untuknya, tapi rasa itu sudah tidak berlaku saat dia pergi meninggalkan saya.

COLD LECTURER (REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang