#15

85K 5.2K 432
                                        

Makasih vote nya untuk part sebelah, jangan lupa vote nya ya❤️
______________
Seluruh keluarga kini tengah berkumpul di depan villa, mereka akan mengadakan acara bakar-bakar. Para anak-anak kecil yang berlarian kesana kemari membuat susana lebih hidup, semuanya tampak bahagia.

Lain dengan gue, walaupun muka menunjukkan keceriaan tapi hati ada yang ga beres, kayaknya gue mau balas dendam.

"Kamu kenapa?" tanya Alvin, sedari tadi ia selalu di diamkan membuat otaknya berpikir keras apakah dia melakukan kesalahan.

"Gapapa"

Percayalah, lain dimulut lain pula dihati, "susah banget jadi cewek, saya ini bukan cowok peka, jadi tolong jangan membuat otak saya berpikir" ucap Alvin, ia paling tak suka jika diberi kode, lebih baik ia diberikan soal 5 lembar.

Gue pergi dengan kekesalan yang masih menggebu-gebu, gue nyamperin anak-anak dari sepupu pak Alvin buat ikut main sama mereka.

"Tante Vira, sini main ama Dio" ucap seorang anak yang beranama Dio tersebut, gue melangkah kan kaki menuju ke arah Dio yang sedang bermain dengan balon di tangannya.

"Dio main apa?"

"Tadi di beliin balon ama mama" gue mengangguk, satu ide terlintas di otak gue. OTAK GUE INI KALO DI AJAK BERBUAT PERBUATAN GA ADA AKHLAK PINTER, COBA GINI JUGA PAS KULIAH.

"Dio mau bantuin tante gak? Nanti tante beliin es krim"

Mendengar kata es krim membuat mata Dio berbinar seketika, "Mau" jawab nya cepat.

"Dio bawain minuman ini ya ke om Alvin, terus nanti Dio tumpahin ke baju om Alvin, bilang aja Dio gak sengaja okey" bodo amat kalo gue ngajarin yang sesat, gue masih ada dendam.

Dengan polosnya Dio mengangguk dan segera melaksanakan perintah dari gue. ANAK YANG BAIK.

Byurrr!

"Ya Allah Dio, kenapa baju om di siram"

Gue udah cekikikan liat raut kesal dari muka pak Alvin, mampus emang dia aja yang pintar balas dendam.

"Maaf o-om, Dio di suruh sama tante Vira, kata tante Vira bilang aja gak sengaja" dasar bocah, ngapain dibilang pakai gue yang nyuruh, Bisa habis riwayat gue ini mah.

Alvin tersenyum miring, liat saja balasannya nanti.

"Yaudah om maafin, tapi lain kali jangan mau disuruh-suruh ya. Tante Vira itu akhlak nya kurang sekilo"

"Eumm, akhlak kurang sekilo itu apa om?" polos sekali kau nak, sama kayak author.

"Pokonya jangan mau aja, mending Dio main lagi sama yang lain ya" Dio mengangguk sebagai jawaban, setelah itu ia kembali bermain.

Gue udah deg-degan, siap menunggu balasan yang tak kalah kejam. Pak Alvin jalan ke arah gue dengan senyum miring nya, membuat bulu kuduk gue bangkit seketika.

"Ayo ikut saya"

"Gamau" Alvin tak menghiraukan tolakan tersebut, ia tetap berjalan dengan menarik tangan Vira, tak perduli dengan cengkraman nya yang kuat.

"Ayo, bakar ini semua" WHAT! GILA AJA.

Gue mendadak cengo, "pak, saya mana bisa kalau semuanya" tolak gue dengan memasang muka semelas mungkin, jujur gue ga bisa kalau udah tentang bakar-bakaran.

"Saya ga mau tau, kamu yang ajak saya bermain bukan"

IYE TAPI GA GITU JUGA MALIH.

"Vira mau bantu bakar? sini sama kita" ucap sepupu Alvin.

COLD LECTURER (REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang