Kalian cepet banget menuhin Vote nya, makasih yaa❤️
Jangan lupa Vote nya.
***
Rumah mama sedang hiruk kini, undangan dari mertua gue subuh tadi sama sekali tak bisa untuk di elak. Maka disinilah kami, membantu Mama dan Papa yang sedang berdebat kecil, sebab Mama berkali-kali memastikan kepada Papa bahwa dirinya sudah tampil menarik.
"Kamu itu lho, Ma, dimataku cantik terus. Pusing aku liat kamu bolak-bolik ngaca dari tadi."
"Ya, kan, kita mau liburan, Pa!"
"Walah, seharusnya itu lho mantu sama anakmu yang berlibur. Pengantin baru, bukan kayak kita gini!" Papa berderu, tangannya menutup pintu mobil yang di dalamnya sudah dipenuhi barang.
Gue terkekeh, "gak apa kok, Pa, liburannya bareng aja." Padahal, gue dan Alvin sudah memasuki usia 4 bulan pernikahan. Mau dibilang honeymoon, pun, tidak akan berpengaruh apa-apa.
Di penghujung pekan yang sama sekali tidak gue rencakan ini, datang sebuah tawaran dari Papa untuk gue dan Alvin ——— menginap di resort ——— yang kemudian timbul satu protes dari Mama, sebab wanita berumur di penghujung 40 itu ingin turut merasakan indahnya suasana di pinggir pantai parangtritis yang tampak eksotis.
Tak berselang lama, gue melirik ke kursi belakang. Rashilla sedang memejamkan matanya, yang dilakukan pula oleh Mama dan Papa. Kami menaiki satu mobil yang sama. Papa bilang, anggap saja ini sebagai sebuah tawaran untuk berbulan madu. Sialan! Bulan madu apa yang dimaksud kalau yang sedang kami lakukan ini malah kayak Family Gathering.
"Kenapa?" Degan tatapannya yang lurus ke depan ——— tak ia elakkan sama sekali ——— Alvin bertanya dengan nada ketusnya.
"Nggak."
"Kamu kurang nyaman?"
Gue memutar kepala, menatap Alvin yang masih saja sama. "Ini family gathering namanya."
"Lalu? Memang yang kamu harapkan apa?"
Mendengus kuat, gue kembali memutarkan posisi megarah ke depan. Memilih memutar lagu dan ikut untuk memejamkan mata sebab masih tersisa satu jam lagi untuk tiba di tujuan.
"Kamu mau tidur?" Alvin bertanya lagi, yang kali ini hanya gue sauti dengan gumaman.
"Jangan tidur."
"Saya ngantuk, ah!"
"Temani saya." Kali ini, matanya ia alihkan sebentar. Menatap gue seperkian detik yang lalu gue balas dengan tatapan pula. "Saya bisa ngantuk kalau semuanya tidur disini, kamu jangan tidur." Ia kembali berucap.
Menurunkan kaki yang tadinya bersila, gue melepas cepolan rambut untuk dibiarkan tergerai. "Bapak mau apa?"
"Itu ada kopi di bawah, ambilin." Menuruti perintahnya, gue mengulurkan sekaleng kopi kepada Alvin.
"Bukain, Vira. Saya nyetir," gue kembali menarik kopi tersebut, membukanya sesuai perintah. Lalu di bangku belakang, terdengar suara Papa yang tampak mulai membuka mata. Sontak saja, gue arahkan kopi tersebut ke mulut Alvin —— membuat ia sedikit tergugu karena malu.
"Aduh, begitu ya kalau pasangan baru," sahut Papa, yang kini menggeleng-gelengkan kepalanya.
Melihat aksi yang gue lakukan, tak lantas membuat Alvin diam saja. Di balasnya dengan menggenggam tangan gue dan ia letakkan diatas pahanya. Memberikan isyarat bahwa kami harus melakukan ini layaknya pasangan biasa, persis seperti apa yang pernah ia ucapkan setelah kami menikah 4 bulan lalu.
KAMU SEDANG MEMBACA
COLD LECTURER (REVISI)
RomanceMendapati dirinya akan di jodohkan, Vira merasa konyol saat Handi-sang Ayah-tak sedikitpun mengizinkan dirinya untuk mengeluarkan sebuah argumen penolakan. Sial yang didapatnya saat mengetahui bahwa Alvin-salah satu dosen muda di kampusnya merupaka...
