Hai, aku up nya cepet nih. Terimaksih untuk 500 vote di part sebelumnya. Kalian hebat meski yang baca mau 4k.
Happy reading❤️
_______________
Matahari siang ini tampak tak terlihat, digantikan dengan langit hitam yang perlahan menurunkan hujannya. Gue masih tetap diam, tak menanggapi lelaki yang sedari tadi mencoba mengajak berbicara. Kesal, itu yang gue rasakan.
Alvin duduk di tepi ranjang, mengamati wanitanya yang sedang menghadap ke jendela.
"Mau sampai kapan kamu marah" katanya.
"Aku gak marah" Alvin menghela nafas, apa dia salah?
Ia terlalu gengsi untuk mengatakan bahwa ia cemburu. karena sejujurnya, hatinya pun masih tak jelas kemana arah yang dituju.
"Kenapa diam?"
"Ga pa-pa"
"Selalu ga pa-pa, sampai kapan kamu mau ngerahasiain pernikahan ini. Semua orang juga akan tau, kamu juga lagi hamil. Tolong, berfikir dewasa" Alvin memang berbicara tegas, namun tak ada nada kasar dan membentak didalamnya.
"Gak bisa nunggu aku selesai semester 6, aku juga tau ini bakal secepatnya kebongkar. Tapi sabar dulu apa gak bisa?" jawab gue, hanya ada satu kata, Takut.
"Kamu suruh aku sabar, tapi kalau laki-laki lain dekatin kamu gimana aku bisa sabar" kali ini suaranya naik satu oktaf.
"Aku gak deket sama laki-laki, Giano cuma teman dan kakak tingkat aku. Salah kalau aku bergaul sama dia?"
"Perasaan laki-laki itu yang salah" ujar Alvin sinis, gue menyerngit kan kening.
"Dia gak ada perasaan apa pun sama aku, ga usah aneh-aneh gitu pikirannya"
"Ada, hanya kamu yang belum menyadarinya" gue sama sekali gak ngerti, kalau ada pun kenapa?
"Tapi kan aku gak ada perasaan sedikit pun sama dia, perasaan dia ya itu urusan hati dia. Emang nya aku bisa ngelarang?" gue mulai bertambah kesal, bodo amat kalau gue nyolot.
"Ck, terserah kamu" ucap Alvin pasrah.
"Ah, aku tau. Mas cemburu kan?"
Alvin melototkan matanya, "Gak" jawabnya cepat.
"Iya, ayo ngaku"
"Tidak sama sekali" ujar Alvin dengan nada dingin khas nya.
"Is, ya udah kalau gak mau ngaku" gue mengerucutkan bibir, kesal bukan main.
"Ya udah"
"Ck, aku masih marah ya. Jangan harap aku mau ngomong sama mas" ancam gue, meski tak berpengaruh sedikitpun.
"Dasar cewek, tadi aja bilangnya gak marah" ujar Alvin, memang menguji kesabaran Vira.
"Tau ah"
"Ya udah" setelah itu Alvin keluar dari kamar menuju dapur. Membuat segelas kopi susu yang akan menemaninya disiang yang gelap ini.
SERIUS?
GA ADA NIATAN BUAT NGERAYU GITU, DIBUJUK GITU.
MAIN KELUAR AJA, GUE PATAHIN TULANG LO LAMA-LAMA.
______________
Gue uring-uringan sendiri di kamar, seharian ini gue sama Alvin tetap berada di mode diam. Bahkan saat tadi makan pun, hanya ada suara sendok dan garpu yang terdengar.
Gue memutar balikkan badan, Alvin sudah menutupkan matanya tanda bahwa ia sudah masuk ke alam mimpi. Wajar sih karena ini juga udah pukul 1.30 dini hari.
KAMU SEDANG MEMBACA
COLD LECTURER (REVISI)
RomanceMendapati dirinya akan di jodohkan, Vira merasa konyol saat Handi-sang Ayah-tak sedikitpun mengizinkan dirinya untuk mengeluarkan sebuah argumen penolakan. Sial yang didapatnya saat mengetahui bahwa Alvin-salah satu dosen muda di kampusnya merupaka...
