[Unofficial part]

42.9K 2.8K 280
                                        

Hai!

Seperti judulnya, ini unofficial part.

Jadi bukan tentang Alvin-Vira, di tunda dulu mereka lagi sibuk uwu hehe.

Di baca aja, anggap aja ini hiburan, ya.

Enjoy-!
____________________

Argelian pov.

"Pokonya minggu ini kamu harus pulang ke Jakarta, jangan kayak anak lupa sama rumah. Kamu itu udah 4 bulan lebih gak pulang, padahal Jogja-Jakarta bukan jarang yang jauh, Lian."

Aku menghela napas sejenak, lelah sekali rasanya. Bukan tak ingin pulang, tapi aku sedang menghindari topik yang akan menyerangku. Nikah!

"Mi... Please. Kerjaan aku disini masih banyak. Aku janji bakal pulang, tapi sekarang bukan waktu yang tepat."

"Ajak adek kamu sekalian. Dia lagi libur semester, emang kalian gak kangen sama Mami Papi disini?"

"Kerjaanku bukan cuma dosen aja, Mi. Aku juga urus bidang properti, aku pasti pulang kalau memang kerjaanku udah beres."

"Kamu ini nolak terus, ya. Mami yang kesana kamu larang, kenapa sih? Kamu bakal mikir kalau Mami mau ngejodohin kamu?"

"Tapi kenyataannya gitu, kan, Mi. Aku gak mau pulang cuma buat ikutin kemauan konyol Mami."

"Di coba dulu, Lian," suara Mami terdengar lirih, aku paling anti jika Mami sudah memohon seperti ini. Tapi demi apapun, aku tidak bisa.

"Enggak, Mi. Aku gak mau, udah ya Mi, aku harus cek proposal. Assalamualaikum." Sambungan telpon itu aku tutup secara sepihak, maaf Mi. Tapi kali ini aku benar-benar tidak bisa.

Selagi aku masih nyaman dengan status ku yang sekarang, kenapa tidak? Aku sudah melihat kehidupan perjodohan teman rekan kerjaku, dan itu bukan hal yang menyenangkan.

Aku masih punya banyak waktu untuk menikah, umurku masih 28 tahun.

Kali ini biarkan aku untuk egois sejenak. Ini menyangkut kebahagian ku yang akan datang, aku tak mau di paksa. Oleh siapapun itu.

Jam menunjukkan pukul 1 siang, aku lupa kalau belum sholat dzuhur. Aku menutup laptop yang sedari tadi menyala, menggulung lengan kemejaku lalu keluar dari ruangan ini. Aku tidak ada kelas lagi, tapi ada beberapa proposal yang harus aku cek dan juga hasil kuis dari anak semester 5.

Sebelum itu, Aku mengirimkan pesan keseseorang. Mimantanya untuk datang keruanganku, dan syukurnya dia masih ada di kampus. Setidaknya aku masih bisa bernapas lega kali ini.

Sekitar 30 menit kemudian aku kembali keruangan dan sudah disugahkan pemandangan seorang gadis yang bersandar di tembok dengan ponselnya. Ku lihat dia sesekali tersenyum, ada apa?

Aku berdehem pelan, sebagai tanda bahwa aku sudah disini. "Ekhem."

Gadis itu menolehkan kepalanya, dan seketika raut wajahnya berubah.

"Saya habis sholat, udah lama nunggu?"

Dia menggeleng, "baru sekitar 10 menitan, kok, Pak."

"Masuk dulu, panas diluar."

Aku mempersilahkan dia untuk duduk, aku tahu dia capek apalagi menunggu diluar.

"Saya gak ganggu kamu, kan?"

"Kebetulan banget saya lagi free siang ini, Pak. Tadi cuma kumpul sama teman sebentar, ada apa ya, Pak?"

Bagus, aku semakin yakin untuk merepotkannya sekarang. Aku mengeluarkan setumpuk kertas yang dipenuhi oleh beragam macam jenis tulisan, dari yang sangat rapi atau bahkan seperti ceker ayam. Aku menyodorkan tumpukan kertas itu kearahnya, dan sepertinya dia kebingungan.

"Ini hasil kuis adek tingkat kamu di semester 5, saya minta tolong banget kamu bantu saya koreksi, ya. Ini tinggal setengah lagi aja kok. Gak terlalu banyak."

Kulihat wajahnya berubah, seperti... malas?

"Saya minta tolong banget, Dinaya. Nanti saya upahin, deh."

"Bapak, kan, punya assisten. Kenapa harus saya?" Ini adalah penolakan secara halus.

Aku ingin Dinaya yang membantuku kali ini. Asisten ku? Entahlah dia dimana, aku tak perduli kali ini.

"Dia lagi gak bisa, saya minta tolong banget, bisa kan?"

Dia mengangguk singkat, meskipun aku tahu itu terpaksa. Tapi tak apa, setidaknya bebanku sedikit terangkat. Ya walaupun ada bonusnya, sih. Aku bisa memandang wajah cantik naturalnya dari sini.

Aku memberikan 1 lembar kertas yang berisikan jawaban yang benar, setelah itu dia mulai mengoreksi. Aku pun kembali membuka laptop dan melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.

45 menit terlewati, aku dapat melihat sudah ada beberapa kertas yang di koreksi. Dinaya mengangkat kepalanya dan menggerakkan ke sisi kanan dan kiri.

"Capek, Dinaya?"

Dinaya tersenyum tipis, "sedikit pegel aja, sih, Pak. Nunduk terus soalnya."

"Kamu udah makan?" Aku hanya takut mengganggu waktu makan siang nya.

"Tadi sudah, Pak."

Aku mengangguk singkat, Dinaya kembali memeriksa soal sedangkan aku menyandarkan punggung ke kursi dan menatap Dinaya secara jelas dari sini.

Tangan dan lirikan matanya secara lincah memeriksa soal dan melihat jawaban yang benar. Rambut hitam kecokelatannya yang di kumcir kuda membuat akses ku lebih luas untuk melihat wajahnya, kulit nya tak terlalu putih tapi tak juga cokelat, wajahnya simetris. Sedikit polesan makeup yang dia pakai tampak seperti natural.

Dan entah sejak kapan, aku menyunggingkan senyum tipis.

"Malam ini, dinner sama saya mau?"

Setelah itu wajahnya terangkat dengan muka memerah.

Lucu sekali!

___________________

Ini cuma hiburan aja, ya. Bukan kisah berlanjut. Aku mau hilangin bosan aja, sih.

Emang kalian mau kalau mereka ada lapak sendiri?

Alvin-Vira nya di tunda dulu, hehe.

See you 😊






COLD LECTURER (REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang