Hai!
Lagi, aku up jam setengah 3 dini hari. Yang baca jam segini fiks kalian pasti jomblo yang gada mau ngingatin tidur kan? Kasian.
Btw, chapter kemarin kan aku cantumin link gc, tapi aku lupa kalau di situ ga bisa di klik. So, nanti check ulang di massage pemberitahuan ya:>
Vote comment jangan malas, saling menghargai hehe.
Happy reading.
"Karena hati gak akan pernah bisa di atur, hati bekerja sesuai rotasi nya sendiri."
________________________
S
e
orang laki-laki terus berlari kencang, dengan di ikuti seorang cewek yang terus tersenyum jahil padanya.
Lian berhenti tepat di ruangan dosen. Lebih tepatnya ruangan Alvin. Nafasnya masih memburu, ia membungkukkan wajahnya untuk membuang nafas lega.
"Takut kecoa, Pak?" Tanya seorang cewek tadi. Posisinya sudah berdiri di hadapan Lian.
Lian dengan cepat menggeleng, "enggak!"
Cewek itu tersenyum miring, dengan tangan yang ia lipat di dada.
"Terus, kenapa Bapak teriak terus lari pas kecoa nya tiba-tiba ada di atas sepatu Bapak?" Tanyanya jahil.
"Itu refleks Dinaya, gak usah sok tau kamu." Lian mendelik sinis kearah cewek di depannya ini.
"Tuh kan, Bapak takut. Ga lucu ah masa cool gini takut kecoa. Malah larinya kenceng lagi kaya setan." Ejek Dinaya, membuat muka Lian memerah. Gak ada akhlak sekali mahasiswanya ini.
Lian berdehem, mengembalikan kembali pesona cool yang ia tanamkan sejak lama.
"Ngapain kamu ikutin saya?" Tanya Lian. Dinaya tersenyum saat dosennya ini mengalihkan pembicaraan. Mengalihkan muka tegangnya.
Dinaya merasa games dengan dosennya ini, teriak nya itu loh. Teriak dengan suara berat dan serak khas seorang pria, iman Dinaya tergoncang.
"Saya ga ikutin Bapak."
"Kamu ngejar saya, apa lagi kalau bukan ikutin?"
Dinaya mengangkat sedikit tangannya, "ngasih file anak kelas ke Pak Alvin."
"O--oh, saya kira."
"Bapak berharap saya ikutin ya?"
Lian menggeleng, "gak sudi!"
"Tenang aja, Pak. Nanti saya bakal terus ikutin Bapak kemanapun Bapak pergi kok. Soalnya Ibu negara harus ikutin Bapak negara. Tapi ga sekarang ya, Pak." Jawab Dinaya peraya diri, sangat percaya diri malah.
"Gak usah halu kamu. Sana, saya ada urusan sama Alvin." Usir Lian, setelah itu ia kembali melangkah untuk lebih dekat dengan ruangan temannya ini.
Dinaya mengikuti langkah Lian.
"Gak usah ikutin saya, Dinaya. Kamu bisa gak sih lepas dari kehidupan saya? Saya risih, saya gak suka sama kamu." Protes Lian.
"Ya Allah, Pak. Saya mau kasih file ke Pak Alvin, bukan ikutin Bapak. Astaghfirullah."
"Terserah kamu, saya gak peduli."
"Ya emang terserah saya, kan diri saya." Iya, Dinaya ini anaknya emang ngeselin.
KAMU SEDANG MEMBACA
COLD LECTURER (REVISI)
RomanceMendapati dirinya akan di jodohkan, Vira merasa konyol saat Handi-sang Ayah-tak sedikitpun mengizinkan dirinya untuk mengeluarkan sebuah argumen penolakan. Sial yang didapatnya saat mengetahui bahwa Alvin-salah satu dosen muda di kampusnya merupaka...
