Special Part

61.8K 4.1K 445
                                        

Selamat sahur, aku sarankan untuk tidak dibaca saat sedang puasa ya. Pas sahur, atau buka aja. Kalau pengen banget, ya sudah gas aja.

Seperti biasa, cuap-cuap di bawah harus dibaca.

Jangan lupa vote comment!
___________________

Suara deru mesin mobil memasuki carport, disusul dengan pintu utama yang terbuka. Alvin—memilih pulang pukul empat sore ini, meninggalkan segala pekerjaannya yang menumpuk, meskipun ia terbiasa menyelesaikan itu semua dirumah.

Dengan langkah lebarnya ia memasuki kamar, tersenyum saat melihat tiga orang yang tengah tertidur diranjang dengan pulas. Membawa langkahnya mendekat, lebih dulu menghampiri istrinya.

"Sayang," mengusap pipinya pelan, yang membuat Vira menggeliat.

"Mas?"

"Ngantuk, ya?"

Vira menggeleng, tidurnya hanya sebatas kelepasan. "Kamu kok udah pulang? Ini masih sore, bukannya tadi kamu bilang bakal pulang jam 8 malam?"

"Jadwal ngajar aku udah kosong kok. Tinggal berkas-berkas di kantor aja, itu bisa aku bawa pulang." Alvin berpindah, tubuhnya yang tadi membungkuk kini sudah duduk diranjang. Menolehkan kepalanya, melihat dua anaknya yang masih tertidur dengan lelap.

"Mau main sama mereka?" Dengan cepat, Alvin mengangguk.

"Mandi dulu, dong."

"Nanti aja..."

"Aku gak bolehin kalau gitu. Kamu habis dari luar, kalau udah bersih baru boleh main. Mandi sebentar aja kok, sebentar lagi udah waktunya mereka bangun."

Tak ada sahutan, sebab untuk saat ini Alvin benar-benar malas membersihkan diri, walaupun itu hanya membutuhkan waktu 10 menit.

"Nanti malam teman-teman aku pada datang loh, mereka pasti rebutan buat main sama kembar. Kamu gak akan dapat bagian, dapatnya sore ini aja." Lagi, Vira memberi pengertian. Mengusap rambut Alvin dengan gerakan menyisir kebelakang, lalu memberikan satu senyuman.

Mana tahan Alvin untuk tidak main dengan anak-anaknya, walaupun itu hanya sekedar mencium pipi mereka, menyahuti ocehan yang bahkan tidak ia mengerti apa maksudnya.

"Bukain kemejanya."

Meskipun kini tangan Vira sudah menempel di dada Alvin, membuka tiap kancing yang terpasang, tapi ia tetap memberikan satu protes, "manja, biasanya juga buka sendiri."

Alvin sudah tegak, dengan tubuh polosnya. "Sun dulu, siap ini baru mandi."

Satu kecupan singkat di bibir mendarat, setelah itu Vira benar-benar menjauhkan tubuhnya. Kalau diladeni, permintaan Alvin sudah jelas akan semakin bercabang.

"Gak cukup, lagi."

"Nanti malam."

"Kalau begitu, lebih dari ciuman. Gimana?"

Vira menggeleng, "kalau itu, aku nolak."

Alvin tersenyum, yang memang beberapa bulan belakangan ini sangat sering ia tunjukkan. Tidak merasa masalah, meskipun ia sangat ingin—sangat ingin sekali.

_________________

"Siapa yang mau Papa gendong? Abang? Atau Adek?" Alvin sudah kembali keranjang, kali ini tubuhnya meloncat menaiki kasur. Menguyel-uyel pipi kedua anaknya dengan gemas.

"Mereka baru selesai minum susu, Mas. Kamu gendong Abang, aku gendong Adek. Punggungnya ditepuk-tepuk."

Alvin menurut, dengan telaten mulai mengangkat tubuh anak perempuannya. Menepuk-nepuk punggungnya untuk memaksakan agar bayi tersebut bersendawa. Begitupun sebaliknya yang Vira lakukan.

COLD LECTURER (REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang