#58

66.8K 4.9K 593
                                        

Halo! Adakah yang belum tidur?

Ngapain begadang, emangnya punya doi? Canda.

Vote kemarin ga tembus, triple up nya ga jadi dan aku ganti dengan double up tapi ga janji bakal sekarang. Pokonya satu part lagi menyusul masih di hari yang sama.

Vote comment jangan lupa, siders di ceritaku terlalu banyak hehe.

Typo koreksi.

Happy reading!
______________________

"30 menit lagi Mas. Cepet dong." Gue menatap jam yang terletak di dinding. Sesuai permintaan gue, khusus hari ini Alvin bakalan gue jadikan babu.

Siang ini gue maksa dia buat masak ayam rica-rica dengan waktu 1 jam. Gue tau dia ga bisa masak makanan khas, karena dia bisanya kebanyakan instan. Tapi keinginan gue kali ini sama sekali gak bisa di ganggu gugat.

"Ininya diapain? Bantuin dong, Mas gak bisa masak ginian." Tangan Alvin bergerak lincah memasukkan berbagai macam bumbu. Kondisi dapur saat ini bisa dibilang jauh dari kata rapi.

"Masa majikan bantu babunya masak sih. Ngadi-ngadi nih," mata Alvin menatap gue tajam, gue tersenyum kecil lalu kembali beralih ke ponsel gue.

"Ada pilihan buat nyerah gak sih? Mas gak yakin ini bakalan enak."

"Gak ada, udah cepet masak aja."

Terdengar helaan nafas kasar yang keluar, Alvin kembali memasak sebisanya dengan mulut yang tak henti bergumam bahkan hampir mengumpati Vira.

"Sabar, emang gitu kalau punya istri yang akhlaknya KKM."

Gue yang mendengar itu langsung melempar satu buah anggur yang lagi mau gue makan, "gak boleh gitu. Sesama goblok harus damai."

"Ngomongnya yang sopan, Vira." Tegur Alvin yang sama sekali gak berpengaruh di gue.

"Ngoghey," jawab gue dengan nada khas. Selang beberapa detik gue langsung tertawa lepas tanpa ada sebab. Humor gue akhir-akhir ini beneran lagi anjlok banget.

Cukup sekitar 25 menit gue menunggu, sebuah piring kini terhidang sempurna di hadapan gue. Gue mendongakkan kepala untuk melihat Alvin, wajahnya terlihat sedikit gusar.

"Kenapa Mas?"

"Aku takut gak enak."

"Enak gak enak pasti aku makan kok. Gak mungkin aku buang," ujar gue. Kini kaki gue sudah melangkah untuk mengambil dua piring nasi. Porsi yang gue ambil engga banyak, begitupun dengan Alvin. Kita berdua termasuk orang yang gak terlalu minat memakan banyak karbohidrat.

Gue mengambil satu potong ayam bagian sayap, lalu mengambil bumbu rica-rica. Satu suap nasi berhasil masuk ke dalam mulut gue, gue mengunyah dengan pelan untuk menilai rasa yang gue dapatkan. Alvin masih menatap gue dengan raut seperti menunggu sebuah jawaban, gue berhenti mengunyah dan meletakkan sendok dan garpu yang gue pakai di piring.

"Udah Mas bilang ini gak enak. Udah gak usah di makan, kita bisa delivery aja."

Padahal dia sama sekali belum coba masakan dia sendiri, tapi udah menilai negative lebih dulu. "Cobain dulu deh, Mas. Diambil itu ayamnya."

Kepala Alvin menggeleng membuat gue geram, gue mengambil satu sendok nasi dan sedikit potongan ayam dari piring gue, lalu mengarahkannya ke Alvin. "Aku suapin, ayo cepat."

"Aaaa---Mas cobain dulu. Rasanya engga seburuk yang kamu kira, percaya deh," dengan perlahan Alvin membuka mulutnya dan dengan senang hati gue langsung menyuapkan nasi itu kedalam mulut Alvin.

COLD LECTURER (REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang