Sesuai janji, aku double up. Maaf telat karna aku ngetik nya baru hiks, /tampol.
Buat yang udah komen dan vote, kalian mood booster aku sumpah, terimakasih banyak.
Selamat membaca❤️
_____________
Alvin masuk kedalam kamar, ia kira Vira sudah selesai dengan ritual mandinya rupanya belum.
Sudah hampir mau 1 jam gue mondar-mandir dikamar-mandi dengan mata yang terus menatap benda tipis itu. Gue masih terkejut sekaligus bingung gimana cara ngebilangnya.
"Bilang sekarang enggak?" gumam gue pelan, gue menatap ke arah perut gue. Masih enggak nyangka.
"Serius ini ada baby nya? Mama muda dong gue" gue terkekeh pelan, mengelus perut gue lembut sembari tersenyum hangat.
Suara ketukan pintu membuat jantung gue kembali berdetak cepat.
"Kamu ngapain?" tanya Alvin.
Gue segera membereskan sampah-sampah dan menyembunyikan tespek tersebut di kantong celana gue.
Gue membuka pintu kamar mandi dan tersenyum tak enak, "Ke-kenapa mas?"
"Kamu udah mau 1 jam dikamar mandi, lama" gue mengerucutkan bibir, iya tau lama tapi ini juga gara-gara lo.
"Bibirnya ga usah minta dicium sekarang, ntar malam aja" Alvin berujar ngaur, membuat pipi gue bersemu. Ambigu.
OTAK DEDEK MASIH POLOS.
OTAK GUE SUCI, OTAK LO KOTOR WOI PAK DOSEN.
"Udah minggir, mau wudhu nih" gue meminggirkan badan gue. Sembari menunggu, gue mengambil peralatan sholat.
Selesai dengan kewajibannya, sekarang gue lagi makan malam. Perut gue tiba-tiba kembali bergejolak saat makanan gue baru habis setengah.
Melarikan diri kekamar mandi, gue mengatur nafas setelah muntah. Alvin mengelus lembut punggung Vira.
"Masih mual lagi?" gue mengangguk, Alvin menarik gue kedekapannya.
Pelukan tiba-tiba saja dilepas, Alvin melihat ke arah tempat sampah yang dimana disitu ada tempat tespek gue tadi.
GOBLOK.
NGAPAIN LO BUANG DISITU SIH, VIRA.
"Ini apa?" tanya Alvin, ia menatap gue dengan tanda penuh tanya.
Gue menggaruk tengkuk belakang gue yang tak gatal, "A-anu itu"
"Ngomong yang jelas" gue menjadi semakin gugup saat nada dingin itu masuk melalui Indra pendengaran gue.
"Tempat tes-tespek" ujar gue pelan ketika dikata terakhir, gue merasakan ada hawa yang berbeda. Mendadak gue merinding.
"Tespek itu apa?"
ASTAGFIRULLAH!
GUE KIRA LO TAU ELAH.
"Mas gatau?" tanya gue balik.
"Kata orang ini alat buat hamil-hamil. Emangnya apa?" gue tertawa, tawa yang benar-benar sampai ngakak. Wajar sih dia gak tau, orang dia aja bisa suka sama perempuan itu udah suatu keajaiban.
OKE, INI TERLALU LEBAY.
"Itu memang buat tes kehamilan" jelas gue, Alvin mengangguk. Tak ada ekspresi yang gue inginkan sedikit pun.
"Oh" hanya oh, sepertinya ini akan menjadi kata favorit bagi Alvin dan kata terbenci bagi Vira.
"Mas, gak mau nanya yang lain?"
KAMU SEDANG MEMBACA
COLD LECTURER (REVISI)
RomanceMendapati dirinya akan di jodohkan, Vira merasa konyol saat Handi-sang Ayah-tak sedikitpun mengizinkan dirinya untuk mengeluarkan sebuah argumen penolakan. Sial yang didapatnya saat mengetahui bahwa Alvin-salah satu dosen muda di kampusnya merupaka...
