Halo!
Selamat menjelang subuh, hehe.
Di baca ya, jangan dilewatin.
April 2020, aku memulai cerita ini dan hiatus lalu kembali saat bulan maret. Dan maret 2021 ini, satu tahun aku bersama Alvin-Vira dan kalian rasanya sangat memberikan banyak kesan. Aku harus mengakhiri, aku gak mau menggantung kalian lebih lama lagi.
Alvin-Vira akan terus menjadi pasangan fav aku, karena mereka sama seperti imajinasi yang aku ciptakan di dunia ku sendiri. Pisah sama mereka berat banget rasanya. Kekurangan aku dalam menulis cerita masih sangat banyak tapi aku punya kalian yang selalu support aku.
Terimakasih untuk kalian ya, jangan lupa vote dan comment.
Semoga tidak kecewa ya!
Chapter ini 4000 kata, banyak banget kan. Penutup hehe.
Selamat membaca!
____________________
Gue meletakkan satu lembar foto USG di tangan Alvin.
"Semoga dede kembarnya bisa bikin marah kamu hilang ya, Papa. Selamat malam, Mas. Aku, dede kembar, sayang sama kamu sampai kapanpun itu."
Gue menyudahi ucapan gue dengan ditutupi satu senyuman tipis. Alvin mengambil foto USG yang sudah berada di genggaman tangannya, badannya kini terduduk dengan tegak. Kepalanya menggeleng dan setelah itu di iringi kekehan tidak percayanya.
"Ini dua?" Tanyanya masih dengan tatapan yang tidak percaya.
Gue hanya diam dengan kepala mengangguk pelan, Alvin menatap gue penuh dalam. Berulang kali matanya menatap gue dan hasil USG tersebut secara bergantian. Pelukan secara cepat dan erat langsung gue dapatkan setelah Alvin puas menatap foto tersebut, ia menubruk badan gue tapi masih dalam batas wajar. Alvin membawa kepala gue kedalam cerukan lehernya, dagunya bertumpu di pucuk kepala gue. Kedua tangannya memeluk tubuh gue dengan erat, badannya sedikit di goyangkan.
Gue merasakan ada sesuatu yang basah di kepala gue. "Makasih, makasih udah kasih aku hadiah yang gak pernah aku dapatkan selama 28 tahun aku hidup di dunia, makasih karena kali ini kamu benar-benar kasih aku apa itu arti bahagia, makasih karena kamu masih disini bertahan sama segala kekurangan aku, makasih udah sabar ngadapin sikap aku yang belum sepenuhnya bisa seperti apa yang kamu ingin, makasih untuk semuanya. Aku gak pernah berpikir kalau ulang tahunku akan semenyenangkan ini, bahkan aku gak sadar kalau ini adalah hari aku di lahirkan ke dunia. Hadiah kali ini, adalah hadiah yang paling berharga, aku merasa beruntung dikelilingi tiga makhluk terbaik yang sukses kasih aku kebahagian."
Alvin menjeda ucapannya, ia menarik nafas dalam sebelum mengecup pucuk kepala gue berkali-kali.
"Maaf, maaf udah bikin kamu nangis hari ini. Maaf udah marah sama kamu. Kamu wanita terhebat yang tuhan kasih untuk aku. Papa juga sayang banget sama Mama, dedek kembar juga. Sampai kapanpun itu bahkan ketika aku udah gak ada lagi." Tangan gue meremas kaos Alvin erat, berusaha untuk tidak menangis kita mendengar ucapan terimakasih dan maaf dari Alvin.
Alvin mengangkat kepala gue, membuat gue mendongak menatapnya, "kenapa enggak kasih tahu aku kalau kamu mau check up?"
"Maaf, Mas. Aku enggak tahu harus pergi sama kamu atau enggak, aku pengen ditemanin sama kamu tapi pas kamu bilang mau ada penelitian aku rasa kamu bakal sibuk banget. Aku inisiatif buat pergi ke dokter sendiri, pas aku lihat tanggal ternyata pas banget kalau sekarang kamu ulang tahun. Tapi Mas malah marah sama aku."
"Aku marah karena kamu gak tepatin janji, tapi marahnya udah hilang kok." Gue memukul pelan punggung Alvin. Membuat kekehan kecil keluar dari mulutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
COLD LECTURER (REVISI)
RomanceMendapati dirinya akan di jodohkan, Vira merasa konyol saat Handi-sang Ayah-tak sedikitpun mengizinkan dirinya untuk mengeluarkan sebuah argumen penolakan. Sial yang didapatnya saat mengetahui bahwa Alvin-salah satu dosen muda di kampusnya merupaka...
