Hai!
Chapter kemarin ada yang katanya nangis ya, eh maap. Aku sengaja pas tiba sad terus masukin lawaknya, biar kalian ga tegang banget. Cukup santai tapi mendalami.
Jangan lupa vote comment, udah panjang ini masa ga mau juga?
Selamat membaca.
_______________________
"Kita pisah aja ya, Mas?"
Setelah mengucapkan itu, bibir gue membentuk sebuah lengkungan indah.
Gue yakin, gue udah cerna ini baik-baik.
Gue bisa ngatasin perasaan gue, gue ikhlas kalau ujung nya tuhan cuma kasih kesempatan gue untuk mencintai Alvin sampai sini.
Demi apa pun, gue akan merasa lega kalau Alvin meng-iyakan keinginan gue. Karena dengan itu, alur hidup gue akan jelas di bawa ke arah mana.
"Sayang itu memang bersifat umum. Dan cinta itu hanya untuk orang tertentu, cinta ga harus di ucapakan secara langsung. Secara perlahan, cinta bisa di ungkap kan dengan pelan-pelan melalui perlakuan." Suara berat seorang cowok menggema, membuat gue mengangkat kepala ke atas.
"M-mas deng--"
"Perpisahan itu di larang sama tuhan ataupun agama, satu kata yang hanya berisi makna kosong. Tidak memiliki arti, umumnya sering kali terucap jika seseorang sudah lebih mementingkan ego. Tidak memikir seperti apa kerikil di depan yang harus di lewati sendiri. Seperti apa kehidupan lanjut nya dengan status yang baru. Dua orang mengucapkan janji di depan tuhan bukan untuk di ingkari, tapi untuk di jaga sampai mati." Lanjut Alvin lagi, masih dengan mata terpejam. Ia tidak tidur, ia hanya memejamkan matanya yang lelah.
"Mas dengar?"
"Perpisahan bukan kata untuk di jadikan candaan, jika benar-benar maka kedua orang tersebut harus berakhir di meja hijau. Memulai lembaran baru dan melewati lika-liku hidup sendiri. Dan kamu mau kisah kita seperti itu? Meninggalkan lembaran yang sedang di pertahankan oleh seorang pria untuk tetap kokoh dan terus berada di porosnya?" Sedikit melonggarkan pelukannya, mata Alvin terbuka menatap nanar ke bawah. Ke arah istrinya yang baru saja melontarkan kata haram.
"Aku bakal merasa tenang kalau kita di takdirkan berakhir di meja hijau. Aku juga merasa senang karena setidaknya aku pernah ada di hidup Mas meski itu ga selamanya."
"Dan anak kita bakal murka sama orang tua nya sendiri."
Sedikit tercenggang, apa anak gue bahagia dengan keputusan ini?
"Tidur, tubuh kamu masih di kuasai ego. Belum ada 24 jam, jangan ngebuat rasa sesak semakin menghimpit." Kembali memejamkan mata, berusaha menormalkan rasa sesak yang semakin menghimpit di relung hati.
"Aku yakin Mas bakal bahagia dengan keputusan ini. Buktinya, gak ada pancaran kesedihan di wajah Mas."
"Apa kesedihan harus selalu di tunjukkan? Orang punya cara tersendiri untuk melampiaskannya."
"Tap--"
"Tidur, Davira." Jika Alvin sudah menyebut 'Davira' berarti ia sedang marah.
Dua orang itu berpindah posisi, dengan punggung yang saling membelakangi. Berusaha memejamkan mata, meski salah satu di antaranya masih berharap penuh untuk bersama.
Sinar matahari pagi mulai terasa hangat, jam menunjukkan pukul 10 pagi. Gue ketiduran. Mata gue menyipit untuk menyetarakan penerangan yang masuk. Badan gue berbalik, tak ada tubuh tegap di samping gue.
Hanya berisikin satu buah guling putih dengan secarik stick note di samping nya.
Tangan gue mengambil kertas tersebut, mengucek mata sebentar untuk menghilangkan efek penglihatan yang kabur karena baru saja bangun.
KAMU SEDANG MEMBACA
COLD LECTURER (REVISI)
RomansaMendapati dirinya akan di jodohkan, Vira merasa konyol saat Handi-sang Ayah-tak sedikitpun mengizinkan dirinya untuk mengeluarkan sebuah argumen penolakan. Sial yang didapatnya saat mengetahui bahwa Alvin-salah satu dosen muda di kampusnya merupaka...
