#61

56.9K 4.5K 767
                                        

Halo!

Terlalu tengah malam ya up nya, sorry lama kegiatan ku numpuk di real life.

Btw, kalian bisa panggil aku nata atau apapun yang ada nata nya. Jangan thor, please:'

Vote comment jangan lupa-!

Happy reading!

______________________

Senyum mengembang di bibir Alvin saat melihat Vira berdiri di hadapannya. Ternyata 3 hari di luar kota adalah sebuh wacana, faktanya Alvin dan Papanya melanjutkan terbang ke Singapore, karena pusatnya memang berasal dari sana. Setelah menyelesaikan transit di Jakarta, akhirnya tepat hari ini Alvin pulang.

Alvin merentangkan tangannya dan langsung di balas dengan Vira yang langsung menghambur ke pelukannya. Punggung belakang Vira di usap pelan oleh Alvin dengan gerakan naik turun. Mereka melepaskan pelukannya karena di rasa cukup, tidak ingin mengundang berbagai macam pasang mata meskipun sudah ada beberapa yang mengamati mereka.

"Lama banget pulangnya."

"Kan harus lanjut ke Singapore," Alvin mengusap rambut gue, ia melirik ke tangan istrinya yang memegang 1 kunci mobil.

"Bandel ya sekarang."

"Kok bandel?"

"Udah Mas bilang gak usah di jemput, taunya malah di jemput. Bawa mobil lagi, siapa yang ngizinin?" Gue menyengir mendengar ucapan Alvin, gak ada yang izinin tapi gue sendiri yang mau.

"Aku kangen bawa mobil, kasian mobil aku nganggur di rumah. Yang dibawa mobil Mas terus." Jawab gue, Alvin menggeleng heran melihat itu.

"Jangan lagi ya, kamu kalau gak ada Mas diam aja duduk manis dirumah. Kalau kamu mau kemana-mana, tunggu Mas."

"Alasan, dulu enggak tuh. Aku sering di biarin pergi sendiri, Mas nya juga enggak peduli." Sindir gue, seketika wajah Alvin yang tadi tersenyum langsung berubah datar.

"Ngungkit."

"Kan emang gitu."

"Kamu mau mancing? Ga baik, kan Mas udah gak gitu lagi." Alvin menjawab dengan wajah yang masi tidak berekpresi.

"Tapi aku masih ingat,"

Gue langsung menarik tangan Alvin untuk keluar dari area kedatangan, "jangan marah-marah, Mas udah tua nanti makin tua."

Alvin mengambil alih kunci mobil yang gue pegang, ia membuka garasi dan meletakkan koper hitam berukuran kecil di sana. Kali ini gue cukup jadi penumpang dan mobil di ambil alih oleh Alvin.

Dalam perjalanan, gue sesekali melirik Alvin. Kemejanya sudah digulung sampai siku, tangan kirinya memegang stir sedangkan tangan satunya bertumpu di sebelahnya. Kebiasaan seorang Alvin, menyetir dengan satu tangan.

Gue mengalihkan pandangan gue, biar aja palingan ntar sampai rumah minta di peluk-peluk lagi.

"Bahan-bahan makanan habis, Mas, ke Transmart dulu." Ujar gue, Alvin melirik gue sekilas dan mengangguk.

Kalau gini gue beneran udah kesel, sifat nya balik lagi. Datar, gue menghembuskan nafas dan dengan sengaja gue menabok lengan Alvin kuat, mata gue natap dia sambil bibir gue sedikit mengerucut kesal.

"Bisa gak sih ngomong, jangan bikin kesel, deh, Mas!" Nada suara gue naik satu oktaf dan itu berhasil membuat Alvin menatap gue sambil sesekali matanya melirik kejalanan.

"Mas lagi nyetir, Vira."

"Nyetir ya tinggal nyetir, mukanya biasa aja dong gak usah datar gitu."

Gue kembali membenarkan posisi duduk gue, kaki gue udah naik menjadi duduk bersila. Sedangkan Alvin masih diam tanpa membalas ucapan gue. Gue tau dia kesel, di dalam hati gue sibuk merutuki mulut gue yang kalau ngomong gak di saring.

COLD LECTURER (REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang