Hai!
Maaf telat up, lagi banyak problem banget akhir-akhir ini yang bikin jadi ga mood ngetik.
Link gc cek di papan pesan yaa!
Jangan lupa vote dan comment!
Happy reading.
'Logika dan hati itu beda tipis.'
_____________________
Selepas Sania pergi, gue ga langsung beranjak di cafe ini. Gue cuma duduk diam, memandang sekitar dengan tatapan sendu. Gue ga tau, seringkali hati dan otak gue ga sinkron dalam menentukan pilihan.
Orang bilang, apa-apa itu harus pakai hati. Tapi yang diri gue mau, apa-apa itu harus pakai logika.
Simple nya gini, hati gue milih Alvin. Gue masih mau bangun impian bersama sama pasangan gue, sama orang yang memang sudah terikat kuat sama gue. Tapi dilain sisi, logika gue seakan berkata 'lo ga takut memulai yang baru sama orang yang sama? Ga takut dengan rasa sakit yang nanti akan datang lagi dalam versi yang sama ataupun versi berbeda?'
Itulah gue, terlalu mendominasikan logika dari pada hati. Padahal, bukan itu yang gue mau.
Gue egois, dan Alvin juga punya sifat yang sama. Diantara kita ga pernah ada yang mengalah, karena ego masing-masing terlalu tinggi.
Kita gak sefrekuensi, dan kita gak sejalan.
Gue memandang keluar, keliatan dari dalam cafe kalau langit lagi gelap. Iya, hujan, dengan posisi gue yang masih berdiam di cafe.
Tangan gue mengambil ponsel. Berniat untuk mengecek nya sebentar. Sekitar 30 menit yang lalu, ternyata ada 2 pesan dari Alvin.
Gue terkekeh sebentar waktu ngeliat nama dia yang gue buat panjang masih bertahan di kontak gue. Dulu, gue kasih nama itu karena dia jarang nunjukin ekspresinya ke gue. Selain itu, hal yang gue ingat sampai sekarang adalah dia glowing tanpa memakai skincare secuil pun. Cuma gue maskerin, itupun dia selalu nolak dan alhasil cuma 1 bulan sekali.
Benar ternyata, kulit cowok lebih sehat dari pada kulit cewek tanpa di kasih apapun.
Muka tembok datar glowing.
Dimana?
Mas jemput.
Cuma itu, akhir-akhir ini kalau gue keluar Alvin memang selalu nanyain dan ujungnya dia mau menjemput gue. Perhatian kecil yang bisa ngatasin sedikit demi sedikit keegoisan gue.
Gue gak balas chat itu, melainkan langsung gue telpon.
Jawabannya cuma singkat, sekedar 'otw' ngeselin ga sih.
Gue nunggu tetap di dalam cafe, sambil mainin ponsel gue. Sekitar 20 menit, gue merasakan seseorang yang duduk di sebelah gue.
Mata gue melirik ke samping.
"Lah, kaya setan beneran ini laki gue." Gumam gue, Alvin mengangkat bahunya acuh. Dengan santai mengambil minuman gue dan meminumnya hingga kandas.
Gue menatap gelas yang sudah kosong tersebut, "minum aku," gumam gue sedih.
"Udah habis tuh." Tunjuk Alvin kearah gelas tersebut.
"Mas abisin!"
"Haus." Jawab Alvin santai. Yang bisa gue lakuin cuma natap dia sebel. Minuman itu baru gue minum setengah dan ga sampai dalam 3 menit udah kandas gitu aja.
KAMU SEDANG MEMBACA
COLD LECTURER (REVISI)
RomanceMendapati dirinya akan di jodohkan, Vira merasa konyol saat Handi-sang Ayah-tak sedikitpun mengizinkan dirinya untuk mengeluarkan sebuah argumen penolakan. Sial yang didapatnya saat mengetahui bahwa Alvin-salah satu dosen muda di kampusnya merupaka...
