Hai!
Simbiosis mutualisme nya yuk, vote satu detik gak akan ngerugiin waktu kalian:)
Happy reading.
'Tidak semua kebohongan itu salah, terkadang itu di lakukan demi sebuah kebaikan.'
___________________
Gue terdiam, memejamkan mata erat. Kram, itu yang gue rasain sekarang. Posisi badan gue yang langsung jatuh ke lantai dan itu kencang. Yang ada dipikiran gue sekarang cuma anak gue, berharap dia gak kenapa-napa.
Rasa nyeri di bawah perut gue seolah bikin gue mati rasa, seperti rasa kontraksi mungkin. Gue gak tau, ini pengalaman pertama gue di dunia perhamilan.
Secara pelan, gue coba bangun meski perut gue masih kram di bawah sana. Gue berjalan keluar dari kamar mandi, mengambil ponsel gue yang udah tergeletak di kasur.
Gak ada pilihan lain selain nelpon abang sendiri, meski ini itu masih jam kerja dia. Gue nyari kontak abang gue, udah 3 kali gue telpon dan gak kunjung di angkat, berakhir naas dengan panggilan yang kembali terputus.
Kram di perut gue semakin berasa. Mau nelpon Bunda tapi takut, Bunda tau nya gue di rumah. Mau nelpon Alvin, tapi gue masih kesel sama dia.
Gue pejamin mata gue erat, nahan rasa kram di sana. Sekali lagi, gue telpon abang gue.
Diangkat, akhirnya.
"Halo?" Suara bang Fero masuk ke indra pendengaran gue.
"Bang, perut gue kram." Ujar gue pelan, mau ngegas juga lagi nahan sakit.
"Kram kenapa? Cuma bentar doang kali itu."
"Habis jatuh, perut gue ngehantam lantai."
"Terus gimana? Istirahat dulu deh. Gue masih kerja ini."
"Keburu mati anak gue bego!" Ujungnya gue juga ngegas kan.
"Jarak nya lumayan jauh dek, pusing sendiri gue kalau gini."
"Ya udah gue nelpon Alvin nih ya."
"Eh jangan, tunggu 30 menit. Gue otw."
Telpon mati, gue tetap terduduk diam dengan perut yang kram. Sumpah, rasanya itu bener-bener bikin gue panik. Apa lagi gue jatuhnya ga etis, langsung nabrak ke perut.
Benar kata Fero, dia nyampe dalam waktu 30 menit. Posisi apartment ini yang ada di lantai 3 itu lumayan susah buat gue sampai ke lantai bawah.
"Ah elah napa bisa jatuh gitu sih, hati-hati makanya."
"Diam bisa ga, gue udah panik." Balas gue.
Bang Fero megang bahu gue, syukurnya dari kamar ini ke lift itu gak jauh. Sesekali gue meringis nahan rasa kram.
Di mobil gue cuma nutup mata gue, sesekali buang nafas berat.
"Bang, takut."
"Kenapa?" Fero ngejawab sambil fokus sama jalan. Dia lebih naikin kecepatan mobil karena ga tega ngeliat adek nya yang udah keringatan gitu.
"Kalau dia kenapa-napa gimana?" Cemas mendominasi gue saat ini.
"Berdo'a aja supaya ga kenapa-napa."
"Kalau nyatanya engga?"
"Ya mati, di ambil tuhan. Kosong perut lo ntar balik-balik." Sebenarnya Fero ngejawab gitu bukan buat nakut-nakutin. Lebih ke kasih candaan, ya meski candaan dia itu dark.
KAMU SEDANG MEMBACA
COLD LECTURER (REVISI)
RomansaMendapati dirinya akan di jodohkan, Vira merasa konyol saat Handi-sang Ayah-tak sedikitpun mengizinkan dirinya untuk mengeluarkan sebuah argumen penolakan. Sial yang didapatnya saat mengetahui bahwa Alvin-salah satu dosen muda di kampusnya merupaka...
