Happy reading, semoga meng asyikkan❤️
"Gak akan ada yang namanya terindah kalau ujungnya bukan untuk bersama."
_______________
Menatap berbagai macam make up yang sudah tertata di meja rias, gue tersenyum senang karena pada akhirnya ini semua gue gunakan.
"Ga usah pakai make up segala" frustasi Alvin, pasalnya sudah satu jam lebih ia menunggu namun Vira tak kunjung selesai.
Mulai dari mandi, memilih baju kebaya, mencatok rambut dan kini make up.
"Sabar mas" ujar gue yang mulai memoleskan make up ke wajah gue.
"Kita cuma mau kondangan, gak lama" ujar Alvin benar, hari ini salah satu keluarganya ada yang menikah.
"Stt, udah mas diem dulu"
"Sejak kapan sih kamu make up kayak gitu, biasanya juga gak pakai" omel Alvin, gue tersenyum.
"Mas liat nya sekarang kan, berarti sejak sekarang"
"Udah diam, nanti ga selesai nih" lanjut gue, kini gue mulai memaki blush on bewarna pink natural di area pipi.
Alvin diam, menunggu istrinya yang entah kapan selesai.
Setengah jam kemudian, gue bangkit dan mengambil tas.
"Udah, ayok"
"Lama!" gue berdecak, ini juga demi kecantikan yang sempurna.
Alvin meneliti pakaian Vira, ia memandang tak suka pada rok Vira yang sedikit ketat.
"Ga ada protes ya, udah ayok!" ucap gue cepat saat Alvin meneliti pakaian gue.
Sesampainya di tempat tujuan, gue turun dan langsung berpapasan dengan Mama dan Papa.
"Kalian kok lama sih" ujar Mama, Alvin melirik tajam ke arah Vira.
"Menantu Mama dandan nya lama!" ujar Alvin, gue mencubit lengannya secara diam-diam.
"Ga pa-pa dong, kan biar makin cantik" bela Mama, membuat gue tersenyum penuh kemenangan.
NAH ETA!
YAKALI GUE KONDANGAN BURIK, KAN HILANG PESONA GUE NTAR.
"Ini kamu gak capek kan sayang?
"Kan lagi hamil nanti kalau capek bilang aja" lanjut Mama kembali, gue menggeleng.
"Enggak kok, Ma"
"Ya udah kalian masuk aja dulu" gue dan Alvin mengangguk, lalu beriringan masuk kedalam gedung yang sudah ramai.
Jujur, disini banyak yang gak gue kenal. Karena ini juga bukan saudara dekat dari keluarga Alvin, gue cuman senyum ketika ada yang menyapa dan selebihnya diam.
Jejeran makanan yang terhidang disini cukup menggiurkan, gue mengambil segelas orange jus yang tampak lebih nikmat.
"Kamu gak makan?" tanya Alvin, gue menggeleng.
"Enggak, nanti aja" Alvin mengangguk.
Panggilan seseorang membuat Alvin melihat ke arah sumber suara, keningnya berkerut berkerut saat melihat wajah yang tak cukup asing.
"Heh! Sombong amat lo ya, Vin"
"Siapa?" tanya Alvin dengan satu alis terangkat.
"Buset, Rival goblok" ujar orang yang bernama Rival dengan nada gas.
Gue hanya diam menatap keduanya.
"Oh"
"Udah gitu, Vin. Dingin lo hilangin napa!"
KAMU SEDANG MEMBACA
COLD LECTURER (REVISI)
RomanceMendapati dirinya akan di jodohkan, Vira merasa konyol saat Handi-sang Ayah-tak sedikitpun mengizinkan dirinya untuk mengeluarkan sebuah argumen penolakan. Sial yang didapatnya saat mengetahui bahwa Alvin-salah satu dosen muda di kampusnya merupaka...
