#55

62K 4.9K 838
                                        

Haii!!

Udah 9 hari ga up, lama banget ya. Keasikan nonton fantopia, nyari momen. Tiap ke wp, ada aja gitu panggilan buat balik ke ig, tiktok, tweet. Yang ngerti aja.

Semoga suka chapter ini.

Happy reading 😊
_________________________

Segerombongan keluarga Mahardika udah berdiri di ballroom hotel, dengan dress code yang sudah ditentukan. Serba putih dan elegan.

Gue memakai dress dibawah lutut yang terdapat belahan di bagian kiri. Rambut gue ditata secantik mungkin dan di hias dengan hiasan rambut yang di lapisi berlian diatasnya. Wajah gue sedikit diberi polesan make-up natural, karena dari asalnya gue juga ga menyukai bidang make-up.

Sedangkan Alvin memakai kemeja putih yang dilapisi jas diluarnya. Rambut Alvin diberi pomade agar lebih bervolume.

"Kenapa sih liatin aku gitu banget?" Tanya gue waktu menyadari tatapan Alvin yang gak biasa.

Alvin menggeleng, "kamu beda." Ujar Alvin, berbisik ditelinga gue

Gue merinding, jujur. Gimana ga merinding kalau hembusan nafas Alvin berasa banget di daun telinga gue.

"Apa yang beda?"

"Lebih feminim, cantik, anggun."

Plis pipi jangan murahan!

Gue berdehem untuk ngehilangin rasa malu, "ehm..aku emang cantik tiap hari."

Alvin menarik tangan gue, membawanya kedalam genggaman. Gue mengikuti
langkah Alvin, sesekali melihat kekanan dan kiri.

Gue disini karena ada acara. Sepupu Alvin, lebih tepatnya Fernan yang dulu ngegoda gue nikah. Akhirnya. Dan hokinya, dia dapat istri yang asalnya dari Singapore, ga heran sih karena dia juga tinggal di negara ini.

"Congrats." Gue memberikan selamat kepada dua orang tersebut. Si cowok ini pun tersenyum kearah gue.

"Istri ga jadi gue datang, gue kira Alvin ga bawa lo." Tunjuk Fernan kearah Alvin.

Gue terkekeh kecil, karena tau itu cuma bercanda. "Rugi dong kalau ga datang. Suntuk di jogja doang."

Gue berpindah haluan, kearah istrinya. Ngelakuin hal yang sama dan kenalan. Karena baru kali ini gue kenal dia.

"Datar banget lo natap gue Vin. Napa lo? Lusuh banget tu muka."

"Diem lo." Ujar Alvin, gue udah berdiri lagi di samping dia. Alvin kembali genggam gue.

"Mas, lepas dulu ih." Yang Alvin lakuin justru mempererat genggamannya. Gue cuma bisa pasrah.

Fernan julurin tangannya kearah Alvin, Alvin ngangkat alisnya bingung. "Kenapa?"

"Lo ga mau sungkem sama gue?" Tanya Fernan, Alvin menggeleng.

"Ngapain? Ga mau."

"Kasih selamat gitu, hambar banget lo sama gue."

"Mas, ga usah datar banget deh sama sodara sendiri." Tegur gue, kan ga enak.

Alvin julurin tangannya, "selamat. Semoga istri lo ga capek punya suami kaya lo."

Fernan menatap Alvin sinis, "do'a itu yang bener. Kalau lo lupa, Vira juga pernah capek sama lo. Untung dia sabar, cantik pula. Kenapa ga gue duluan yang kenal coba."

Alvin kasih tatapan tajamnya. Gue tau ini bercanda, tapi Alvin ya tetap Alvin. Cemburuan nya ga akan bisa di hilangin.

"Ga cantik, biasa aja."

COLD LECTURER (REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang