Hai!!
Maaf aku ngaret 1 hari, kemarin sama hari ini tu bener-bener sibuk. Mulai dari urusin video dan tadi ada acara. Sorry.
Link gc nanti aku kasih di message ya.
Jangan lupa vote dan comment. Setidaknya coba bikin aku seneng gitu wkwk.
Warning, chapter ini sedikit mengandung utun 2. Dosa aku udah di catat malaikat pas ngetik ini, dosa kalian tanggung sendiri bye!
Happy reading.
_______________________
"Mas gak tau ini apa, tapi ini kaya... cinta?"
Kata terakhir dari mulut itu, membuat mata gue terbulat sempurna. Kaget, jelas. Siapa yang gak mengharapkan cinta dari seseorang yang lagi lo tunggu kepastiannya?
Mendadak mulut gue kelu, berat buat ngomong sesuatu. Tapi dari tatapan Alvin, terdapat tatapan teduh di sana. Dalam dan ngebuat gue merasa nyaman.
Lagi dan lagi, dengan mudah gue jatuh kepesona dia. Tatapan Alvin yang selalu dalam berhasil buat gue sedikit merasa ragu dengan keputusan yang udah gue buat.
Gue ga mau lemah kaya gini, gue mau diri gue yang dulu. Yang ga mudah jatuh kepesona orang lain, yang bisa bersikap cuek, yang bisa bodo amat. Tapi sekarang semuanya itu lenyap, gue merasa ini bukan gue. Bukan gue dengan segala kelemahannya. Jujur, gue ga pernah tunjukkin kelemahan gue di depan orang lain. Cuma Alvin yang berhasil bikin pertahanan gue runtuh.
Bahkan saat hidup gue di atur Ayah, ada rasa ga terima. Sempat mikir ini hidup gue, tapi sedikitpun gue ga pernah melihatkan sisi lemah gue.
Iya, seorang Alvin Geraldi Mahardika berhasil merombak hidup gue. Dan gue benci itu.
"Masih di ambang-ambang, Mas. Jangan bilang cinta cuma karena takut kehilangan. Karena kalau suatu saat aku benar-benar pergi, ga akan ada alasan aku untuk kembali. Tentuin dengan jelas." Mata gue bertemu dengan Alvin. Sama-sama saling menatap dalam.
"Butuh apa lagi, Vira? Mas udah ngerasain itu. Kamu perlu apa lagi?" Tanya Alvin, sedikit frustasi.
"Engga, Mas. Kamu ga ngerasain itu. Kamu ngomong gitu karena kamu takut kehilangan aku." Ujar gue, tetap bertahan pada pendapat gue.
Alvin melonggarkan pelukannya, mengeluarkan helaan nafas berat. Seperti banyak menanggung beban.
"Mas berjuang tapi ga kamu liat, Mas coba ungkapin apa yang mengganjal di hati Mas tapi ga kamu percaya. Jadi mau kamu apa biar kita bisa kaya dulu lagi?" Gue mengerjapkan mata mendengar ucapan Alvin.
Gue salah? Gue cuma sampein pendapat gue.
Dimana letak salahnya?
"Aku cuma masih belum bisa percaya, Mas. Masih banyak pertanyaan yang aku simpan."
"Tanyain, selagi Mas bisa bakal Mas jawab."
Gue membenarkan posisi badan gue, merapatkan tubuh gue ke Alvin. Otomatis badan gue bersentuhan dengan dia.
"Vira, posisinya." Tegur Alvin.
Gue mengerutkan kening, "kenapa? Aku cuma mau liat muka Mas lebih dekat. Ada kebohongan atau engga."
"Kamu ga percaya sama Mas?"
Kepala gue menggeleng polos, "udah sering di bohongin. Udah mati rasa, Mas."
KAMU SEDANG MEMBACA
COLD LECTURER (REVISI)
RomanceMendapati dirinya akan di jodohkan, Vira merasa konyol saat Handi-sang Ayah-tak sedikitpun mengizinkan dirinya untuk mengeluarkan sebuah argumen penolakan. Sial yang didapatnya saat mengetahui bahwa Alvin-salah satu dosen muda di kampusnya merupaka...
