Hai!
Maaf telat up, lagi banyak editan hehew. Ga bener banget si, kamarin juga lagi malas buka wp:>
Link gc cek di papan pesan yaa!
Jangan lupa vote dan comment!
Happy reading.
______________________
"Yok, iyokkk!! Hoii! Tungguin gue anjir, idiot!" Teriak gue di koridor kampus, dari tadi gue terus-terusan teriakin nama Iyok sambil lari ngejar Iyok.
Iya, namanya Iyok. Bagus banget kan? Bukan, itu bukan nama asli dia. Itu cuma panggilan anak kampus buat dia. Dan terkadang gue plesetin jadi idiot.
"Stop manggil gue idiot ya, Ra. Jangan sampai gue do'ain lo jadi penghuni jahanam."
"Jangan dong, do'ain jadi penghuni surga firdaus aja. Pahala, Yok." Jawab gue, membuat Iyok memutar matanya malas.
Malas ngehadapin cewek yang selaku istri dosen di depannya ini.
"Dah lah, males gue ngomong sama lo. Bye!" Ujar Iyok, kembali melanjutkan langkahnya.
Gue segera berlari lagi, samain langkah gue sama Iyok.
"Sorry deh sorry, tungguin Yok!"
"Apa Bu Dosen?" Iyok memberhentikan langkahnya, berujar dengan nada sabar.
"Bagus tuh panggilannya, berasa orang kelas atas gue."
"Dih, sombong lu! Ingat, mati ga pandang derajat."
Gue menyengir, "lo yang ketik makalah ya?"
"Gak, gue ga mau." Tolak Iyok. Gue menghembuskan nafas pelan.
"Kita satu kelompok, Yok. Mana kita cuma berdua."
"Ya terus?" Tanya Iyok, gue menatap kesal kearah dia.
Gue menggaruk kening gue, "gini aja deh, gue yang penelitian. Lo yang ketik makalah nya. Gimana?"
"Lo tau gue orangnya mageran, Ra."
"Yok, ini nilainya gede loh. Kesempatan, nilai kuis gue kemarin lumayan hancur. Kalau kita bikin makalah ini, setidaknya ada penambah nilai di kelas Pak Alvin." Jelas gue.
"Nilai gue ga hancur, lo aja sana. Pak Alvin suami lo kan, goda aja sana kasih jatah terus imbalannya tambahin nilai lo."
"Mana bisa gitu, Yok. Dia ga pernah mau bantu gue."
"Please, Yok. Bulan depan kita udah UAS."
"Oke, tapi traktir gue makan sushi sekarang. Ikut gue, kita ke Mall."
"Gue kasih uang nya aja gimana?"
"Ga mau, gue mau makan sepuasnya jadi lo harus ikut."
Gue menatap Iyok datar, masa iya gue bilang kalau Alvin possessive? Auto diketawain gue.
"Ga boleh sama laki gue keluar bareng cowo lain, Yok. Dia possessive, capek gue ladenin dia marah-marah."
Iyok menghembuskan nafasnya, dari pada dia kena serangan maut. Lebih terima aja.
"Oke, 300 ribu." Iyok menyodorkan tangannya, persis kaya anak yang minta uang 2 ribu ke emaknya buat beli teh gelas.
Gue membulatkan mata, "buset, mahal banget. Lo makan di tempat sultan? Ga ada, gue ga punya duit."
"Ya udah kalau ga mau, gue ga mau bantu lo bikin makalah juga. Lo tau kan? Gue itu pintar, makalah lo bisa aja gue perbaiki jadi lebih baik." Iya juga, tapi gue ga punya 300 ribu.
KAMU SEDANG MEMBACA
COLD LECTURER (REVISI)
RomansaMendapati dirinya akan di jodohkan, Vira merasa konyol saat Handi-sang Ayah-tak sedikitpun mengizinkan dirinya untuk mengeluarkan sebuah argumen penolakan. Sial yang didapatnya saat mengetahui bahwa Alvin-salah satu dosen muda di kampusnya merupaka...
