#35

69.4K 5.4K 537
                                        

Haihai!!

Ga telat dong ya, ini masih hari kamis kok.

Chapter ini panjang, vote nya jangan malas dong.

ITU DI UJUNG KIRI ADA TANDA BINTANG JAN DI ANGGURIN NAPA WOI.

Astaghfirullah, khilaf nge gas wkwk maap.

Aku harap kalian gak bosen sama cerita ini, karena aku pun merasa sedikit aneh sama alur yang ku buat haha.

Yang masih baca di hari kamis ada?

Selamat membaca, mbloo!!

________________

"MAS KO BERHENTI DISINI?!" ujar gue, kencang dan cempreng. Gila aja, dia ga berhentiin gue di depan kayak biasa. Kali ini masuk, dengan keadaan sedang ramai.

Alvin mengangkat bahu nya acuh, ia mematikan mobil nya. "Kenapa?"

"Ya ga bisa gitu lah, is."

"Semua orang juga bakal tau, turun!" Alvin berkata tegas, ia keluar dari mobilnya.

Udahlah, Ayok.

Gue turun, muka gue mungkin terlihat santai. Tapi sebenarnya gue udah deg-deg an. Langkah gue lebih lambat di banding Alvin, sesekali gue menunduk ke bawah saat mata gue bertabrakan dengan orang lain.

Alvin berhenti, memutar balikkan badannya. "Jalan di samping aku." setelah mengucapkan itu, dia lanjut berjalan.

Mau tak mau gue mempercepat langkah, menyamakan dengan langkah Alvin.

Harus nya tiba di belokan, Alvin lurus ke ruangannya sedangkan gue masih lumayan jauh. Namun Alvin mencegah langkah gue, ia melirik ke arah jarinya dan jari gue.

"Kenapa?"

"Cincin kamu?" tanya Alvin, mata gue melihat ke arah jari gue. Ah gue ingat, cincin itu gue taro di tas kampus gue.

"Ada, di dalam tas."

"Pakai."

Gue menggeleng, "ga mau."

Alvin menatap gue tajam, gue menuruti permintaannya. Memakai cincin tersebut di jari manis gue.

Setelah itu, Alvin beranjak. Melanjutkan langkahnya tanpa meninggalkan sepatah kata pun.

Kelas pertama gue dimulai jam 9, Alvin masuk ke dalam dengan tampang datarnya. Sontak seluruh mata meghadap gue, kayak narkoba aja.

INI PADA KENAPA SI? GILA.

Tak ada intro atau bisa dibilang pembukaan terlebih dahulu, Alvin segera menjelaskan materi.

"Ada yang ingin di tanyakan?"

Salah satu mahasiswa mengangkat tangannya, "diluar materi boleh, Pak?"

"Silahkan."

Semua mahasiswa di kelas mendadak menjadi cenayang, mereka tebak bahwa yang di tanyakan pasti menyangkut dengan foto yang sedang hangat-hangatnya di lambe kampus.

"Bapak sudah menikah?" tanya orang tersebut, gue melirik ke arah orang itu. Tajam.

Alvin diam sebentar, tubuhnya ia sandarkan di meja.

Alvin mengangkat tangan kirinya, "saya harap mata kalian tidak buta untuk melihat ini." ujar Alvin, menunjukkan jari nya yang terikat cincin.

Banyak yang mendesah kecewa, mereka kehilangan salah satu dosen ganteng. Namun, bercabang pertanyaan mendadak muncul di benak mereka.

COLD LECTURER (REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang