#49

71.2K 5K 594
                                        

Hai!!

Jam 2 lewat malam, niat banget emang. Buat yang tadi dapat notif, sorry belum selesai ngetik malah pencet publish.

Kemarin link gc aku hapus hehe. Ada yang nanya di dm. So, silahkan masuk karena kita bakal seru seruan disana. Aku tunggu yaa, shutt disana banyak spoiler btw, bahkan rencana kedepan bisa aja aku kasi bocoran jga. Tergantung hati si.

https://chat.whatsapp.com/BqMjDFLYDA922gn3Oo49JL

THANKS FOR 1 MILLIONS READERS!! I'M SO HAPPY FOR THIS <3

Masih ga nyangka aja, kaya ga pernah kebayang di pikiran aku hehe.

Jangan lupa vote comment, yu yuuu bikin aku makin seneng sama notif-notif kalian.

Happy reading.

"Akhir yang bahagia itu bukan tentang harus bersama. Tapi tentang bagaimana orang tersebut menemukan jati diri dia, tentang dia yang berhasil bahagia dengan pilihannya.

__________________________

"Gue ga mau."

"Harus mau."

"Sekalinya ga mau ya ga mau."

"Gue bilang harus berarti harus ya, Ra!" Zara melotot, gue heran sama ini anak. Doyan nya debat sama gue.

"Kan gue yang jadi emaknya ntar, kenapa lo yang ngebet?" Tanya gue dengan nada sinis.

Zara mengembungkan pipinya, sok imut. "Karena gue mau punya ponakan."

"Ya minta dong sama keluarga lo, ngapa jadi gue yang kena sasaran?" Mata gue menatap Zara sinis.

"Ya gue anak tunggal dodol, bego banget punya teman heran." Ujar Zara, ngegas pastinya.

Gue memukul tangan Zara, "lo yang bego, lo kira bikin anak gampang? Ngedapetinnya gampang? Engga, kayak ajang giveaway. Kalau takdirnya, baru di kasih."

"Gampang lah, lo sekali ngedesah juga jadi."

Lagi, tangan gue kembali memukul Zara. Kali ini lebih kuat bahkan sampai bunyi.

"Kalau sekali ngedesah jadi anak, berarti sekarang gue udah punya lebih dari 1 anak."

Zara tersenyum, senyum mesum maksudnya. "Berarti lo sering ngelakuin ya?"

"Bego, Zara anjing. Musnah lo!" Teriak gue pas di depan muka Zara.

"Diam ah, kalem dikit Zar ini lagi di rumah dosen loh." Ujar Nisa, menengahi aksi adu bacot gue sama Zara.

Nisa emang anaknya kalem, selalu diam kalau ribut. Bisa di bilang emaknya kita.

Kita bertiga duduk di karpet bulu ruang keluarga yang di campur sama ruang tamu. Zara sama Nisa emang ngunjungin gue hari ini, mereka mau liat gue katanya. Tadi mereka sempat nangis waktu ngedengar cerita gue, ngeliat mereka nangis ya gue juga ikutan nangis.

"Gue gak masak, belum di bolehin aktifitas sama Mas Alvin." Ujar gue. Ini udah jam 1 siang dan ini pas banget sama jam makan siang.

Nisa menggeleng, "gak papa, Ra. Istirahat aja lo. Gue minum doang juga jadi." Ujar Nisa menunjuk gelas yang berisikan minuman.

COLD LECTURER (REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang