#57

62K 5.2K 988
                                        

Hai! Tumbenan aku up sore.

Aku perhatiin vote sama comment nya mulai menurun banget ya, semangat vote kalau mau aku double up di chapter selanjutnya:)

⚠️CHAPTER INI MENGANDUNG KEBENGEKAN DAN KEGOBLOKAN SEORANG ALVIN⚠️

Happy reading!
_______________________

Kaki jenjang berkulit putih itu sudah lebih dari 10 menit berdiri di depan pintu kamar mandi tanpa berniat melangkah lebih jauh. Gue masih menatap wajah polos Alvin yang tertidur dengan mulut sedikit terbuka layaknya orang tidur seperti biasa. Otak gue masih memikirkan gimana caranya untuk memberi tahu Alvin tentang kabar yang baru aja gue dapat.

Tubuh gue terus bergerak gelisah, tangan sebelah kanan gue juga menggenggam erat testpack. Gue manarik nafas dalam dan langsung membuangnya dengan sekali hembusan. Kaki gue melangkah ke sisi ranjang sebelah kiri.

Melepaskan sendal bulu, gue kembali masuk dan membaluti tubuh gue dengan selimut. Tubuh gue kini sudah berbaring miring dengan wajah Alvin yang menghadap ke gue.

Alvin sedikit mengerang dan bergerak, perlahan matanya terbuka dengan penglihatan yang masih menyipit, netra gue dan netra dia sontak bertemu. Gue memberikan satu senyuman tipis.

"Kok udah bangun?"

"Tadi aku mau pipis." Ujar gue, ya benar kan?

Tangan Alvin bergerak menarik tubuh gue dengan gerakan kencang, dada gue langsung bersentuhan dengan tubuh dia. Alvin memberikan beberapa kecupan kecil di area wajah dan juga sudut bibir gue.

Sebelumnya, Alvin sama sekali gak pernah melakukan hal seperti ini di pagi hari. Tindakan Alvin yang sama sekali diluar dugaan itu langsung membuat wajah gue memerah.

"Mas, kamu sehat?" Tanya gue.

Sekarang tangan Alvin sedang sibuk mengelus-elus rambut panjang gue. "Enggak."

"Loh?"

"Kepala Mas pusing banget, terus rada mual dikit." Jelas Alvin, gue langsung tertawa. Kali ini bukan bingung, karena gue udah tau apa penyebabnya.

"Kok ketawa sih? Suaminya lagi sakit juga."

"Itu bukan sakit, Mas. Kamu itu jarang banget sakit model beginian." Ucap gue yang jelas membuat Alvin kebingungan.

"Terus apa dong?"

"Coba deh search di google. Apa penyebab suami mual di pagi hari." Arah gue, Alvin langsung saja mengambil ponselnya.

Jarinya sibuk mencari artikel dan membacanya dengan fokus bahkan sampai mata Alvin menyipit.

"Syndrome couvade. Semacam morning sickness tapi terjadi pada pria, di sebabkan karena peningkatan hormon dan kertakaitan yang kuat antara calon ayah dan janin." Baca Alvin, gue menggigit bibir gue sendiri menahan rasa gugup dan geli.

Pandangan Alvin terlepas dari artikel tersebut, ia kembali menghadap gue. "Syndrome couvade? Janin siapa yang berkaitan sama Mas? Mas ga pernah kolaborasi berkembang biak selain sama kamu. Terus itu hasil produksi siapa?"

Tawa gue seketika pecah, yang tadinya gue mau membuat suana menjadi haru tapi langsung hancur gitu aja saat Alvin menyebutkan kata berkembang biak dan produksi.

"Kok kamu ketawa sih? Ini Mas lagi bingung, masa iya kolaborasi sama kamu tapi jadinya di rahim orang lain. Teknologi transfer sperma semacam apa itu."

Udah, gue ga kuat. Yang tadinya gue cuma ketawa sekarang gue malah ngakak sambil memegang perut gue yang terasa geli.

Kenapa setiap moment kehamilan gue ga pernah ada sisi romantisnya. Semua itu pasti dihancurkan oleh otak Alvin yang tiba-tiba ngebug dan berubah menjadi spesies orang goblok.

COLD LECTURER (REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang