#46

75.7K 5.7K 1.8K
                                        

Haiii!!

Aku udah ngetik chapter ini selama 2 kali, yang pertama ke hapus pas udah 2500 word. Dan aku ngetik ulang lagi, bisa bayangin nyesek nya? Pegel+paksa ngetik walau bad mood:)

Masih ga mau vote ya? Jangan jadi siders:)

Selamat membaca, semoga suka.

'Aku kehilangan alasan aku bertahan.'

_____________________

Di dalam ruangan itu, suasana berubah menjadi tegang. Dengan dokter yang menampilkan USG 4D untuk melihat lebih jelas, kedua pasangan itu diam-diam di dalam hati juga saling merapalkan do'a.

"Mulai pendarahan kapan ya?" Tanya dokter tersebut, nada lembutnya terkesan memberi ketenangan.

"Ke-kemaren, dok." Jawab gue, gugup.

"Apa obat yang saya kasih tidak bereaksi?"

Semakin terdiam, netra gue menatap Alvin sekilas. Takut-takut setelah mendengar jawaban gue Alvin akan marah.

"Obat nya gak saya minum." Cicit gue pelan, mengalihkan kepala ke arah perut gue. Gue tau, ini ceroboh.

Untuk sekejap, hening mengisi. Alvin yang mengerti arah pembicaraan pun menatap layar monitor dengan tatapan berbeda. Sekilas ia melirik ke arah istrinya yang sudah kembali bersiap menangis.

"Umumnya, saat memasuki minggu ke 20 bayi akan melakukan pergerekan dan sang ibu bisa merasakannya. Janin juga melakukan pergerakan sadar seperti mengisap jari jempol miliknya. Tetapi, dari yang saya periksa, janin di perut ibu sama sekali tidak ada pergerakan, detak jantung nya juga sudah sangat melemah. Saat minggu ke 20 ini juga sum-sum tulang belakang bayi mulai menghasilkan sel darah, tapi itu tidak terjadi dari hasil pemeriksaan tadi. Pendarahan yang terjadi juga cukup membuat efek besar bagi bayi di dalam kandungan."

"Intinya aja dok, saya ga ngerti." Ujar Alvin, memecah kebingungan di kepalanya.

"Bayi nya sudah tidak bisa di pertahankan, keadaan nya yang sangat lemah dan pertumbuhan yang tidak normal sangat tidak memungkinkan bayi akan terus berkembang seperti pada umumnya. Efek nya juga bisa beralih ke ibu dari bayi."

Kepala gue sontak melihat ke arah dokter, air mata yang tadi tertahan kini luruh kembali. Anak gue pergi karena kebodohan gue sendiri, dia pasti marah sama gue. Impian gue yang udah tersusun rapi kembali runtuh untuk kesekian kali nya.

Kenapa harus alasan gue bertahan yang pergi?

Kenapa engga gue aja?

Gue merutuki diri sendiri, terlalu ceroboh dengan apa yang gue lakukan. Gue memikirkan perasaan, sedangkan anak gue? Gue abaikan.

Gue gak yakin setelah ini tuhan bakal kasih gue kepercayaan lagi, kalau ini aja gue sia-siain gitu aja.

"Itu artinya, saya keguguran dok?" Tanya gue di sela-sela tangis.

Dokter tersebut menarik napas nya dalam sejenak, "saya tidak bisa melakukan apa pun kalau ini sudah kehendak tuhan."

Tangis gue semakin deras di iringi isakan yang keluar.

Dokter tersebut melengkah ke arah Alvin, berbicara hal penting dengannya.

"Untuk melakukan tindakan kuretase, anda bisa mengisi data istri anda sebagai bukti penangan tingkat lanjut yang akan kami lakukan."

Alvin mengangguk, dokter tersebut berlalu. Sebelum Alvin mengikuti langkah dokter tersebut, dia maju buat natap istri nya sejenak.

"Mas..." panggil gue lirih.

COLD LECTURER (REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang