Sasuke keluar dari ruangan Kepala Sekolah, dengan menggandeng tangan Sakura. Dan tak lupa, ekspresi angkuh nya itu.
Takkk
Sakura melepas pegangan Sasuke. Mana mau dia dipegangi bocah itu. Lagipula kan, ia terpaksa menurut demi kelancaran akting dan senang-senang nya.
"Wah, Bocah... kau arogan juga, ya. Hanya dengan mengandalkan nama keluarga mu, kau bisa sombong kesana-kemari!" ejek Sakura. Sasuke hanya tersenyum tipis, kalem tanpa beban.
"Memang nya kenapa? Uchiha ada untuk dimanfaatkan dan memudahkan kelancaran akses atau apapun. Akan sangat bodoh jika di sia-sia kan." jawab Sasuke tenang. Melirik kearah Sakura yang nampak tak puas.
Srattt
Bukkk
Begitu mereka berada di lorong yang sepi, Sasuke dengan cepat menarik Sakura dan mengkabedon nya. Membuat gadis berhelaian soft pink itu terkejut. Ia berontak pun cukup sulit karena bocah ini mengungkung nya erat-erat.
"Lalu, bagaimana dengan mu? Kamu sendiri nyatanya bukan orang miskin sebatang kara, yang selalu tertindas atau sengasara. Kamu bahkan memanfaatkan posisi mu di rumah sakit itu, untuk mengambil stok makanan mu... bukan?"
Apa?
Well, Sakura rasa tak ada gunanya ia bersembunyi di depan pemuda kurang ajar di depan nya ini. Hanya membuang-buang waktu untuk berkelit darinya. Jadi...
"Itu bukan urusan mu."
Sasuke menyeringai karena Sakura tak menyangkal nya seperti biasa. Sakura sendiri hanya memberinya tatapan malas. Ya, dia akui, itu memang perbuatan salah. Tapi, ia jarang sekali melakukan nya. Hanya jika stok darah di rumah sakit kebanyakan. Toh, ia menggantinya dengan uang nya juga. Juga, uang itu digunakan untuk menyetok tipe darah yang persediaan nya kurang.
Ah, ia lebih suka meminum langsung dari tempat nya. Atau mungkin... sedikit berburu di hutan?
"Dan... saatnya aku menandaimu!"
Sakura menyipitkan matanya saat Sasuke mulai menunduk, dan hendak-
"HOI! DILARANG MESUM DISINI!"
Seruan heboh Naruto berhasil membuat Sasuke menghentikan aksi nya. Sakura menyeringai kecil saat Sasuke menatapnya gregetan. Sasuke tak mendeteksi dan tak peduli dengan sekitar nya, karena fokus nya hanya pada Sakura.
Sakura sendiri menyadari keberadaan Naruto. Terdengar dari kejauhan, belum lagi wangi nya... sudah jelas.
Takkk
Sakura dengan santai menepis kedua tangan Sasuke yang mengkabedon nya. Walau begitu, kekuatan nya itu cukup besar. Bahkan Sasuke hampir saja jatuh, jika ia tidak bisa mengendalikan dirinya.
"Huh, terimakasih kamu telah datang, Naruto!" cetus Sakura bergegas menghampiri Naruto, dengan senyum kelegaan dan kesenangan di wajah cantiknya.
"Sama-sama, Sakura-chan. Si Teme kan tidak akan membiarkan mu dan dia itu nekat!" jawab Naruto yang di balas decihan Sasuke dan kekehan halus Sakura. Sakura sendiri mengakui, bahwa bocah arogan dan kurang ajar itu memang nekat. Jika tidak, bagaimana mungkin ia berani melakukan hal seperti tadi... padanya?
Sasuke melangkah mendekat.
"Ayo, sebaiknya kita segera bergegas ke kelas. Guru pasti sudah datang." ajak Sakura seraya berkelit dari Sasuke yang hendak menggenggam tangan halus nya yang pucat dan super dingin.
"Ah, benar. Yang tadi menghambat sekali, eh." setuju Naruto. "Btw, kau baik-baik saja, kan? Pasti si Teme ini menggunakan posisi dan status nya untuk menyelesaikan dengan cepat, kan?" tanya Naruto tepat sasaran.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Pure
FanfictionSemenjak kedatangan pemuda itu, semuanya berubah... Semenjak dia menanyakan Alaska, semuanya berubah... Dan semenjak dia berada disana, semuanya berubah... Berbagai misteri muncul satu persatu. Dimulai dari salah satu antek geng pembully itu... dan...
