34. Uchiha Residential

534 102 8
                                        

"Permisi, Tuan Muda. Tuan Kagami meminta anda untuk meneliti beberapa proposal ini!"

Seorang wanita cantik, berambut biru keunguan pendek, mendekat, langkah nya anggun sekali. Saat ia menatap kebawah, riasan matanya yang berwarna biru keunguan, terlihat jelas.

"Oh, itu kamu, Konan! Ah, Ayah memang tak membiarkan aku bebas!" keluh Shisui seraya menerima laporan itu. Konan hanya mengangguk. Tanpa ada sedikit pun emosi di wajah cantik nya.

"Bagaimana dengan penghapusan jejak penyelidik? Orang yang kau sukai, ups maksud ku, Yahiko, kan dia memiliki andil besar untuk menyelidiki itu." tanya Shisui sengaja mengerjai Konan. Bagaimanapun, wanita itu terlalu kaku! Ia belum pernah melihat Konan tersenyum atau tertawa sekalipun. Seperti tak ada emosi saja.

"Semuanya beres. Tak ada jejak. Tuan Muda, lain kali berhati-hati lah!" peringat nya. Shisui menyengir ria. "Terimakasih atas perhatian mu!" ucap nya seraya menebar senyum mempesona. Namun, tak ada efek pada Konan. Wanita cantik itu hanya mengangguk pelan. Kemudian, dengan sopan pamit pergi.

"Aish, kasihan sekali. Perbedaan nya dan Yahiko terlalu besar. Aku khawatir, jalan apa yang dipilih Konan dan Yahiko pada akhirnya." gumam Shisui, lantas kembali fokus dengan proposal di tangan nya.

🌹🌹

Sakura kembali bekerja seperti biasa. Hanya saja, terkadang ia tak bisa berkonsentrasi karena perasaan itu. Bahkan, Sasuke yang awal nya tidak merasakan apapun, mulai merasakan nya. Ada sedikit kekhawatiran di mata nya.

Ya, awal nya ia tak merasakan nya, karena fokus nya selalu kepada Sakura. Dan sekarang, saat ia diam dan tenang, ia merasakan perasaan itu dengan sangat jelas.

Sasuke terus saja memikirkan dan mengira-ngira, ada apa itu? Entah mengapa, semakin kesini, perasaan nya semakin tak nyaman.

Bahkan setelah Sakura usai bekerja dan bahkan setelah selesai mengajari Gaara, perasaan itu malah semakin kuat.

"Apa kamu merasakan nya?" tanya Sakura datar. Bagaimanapun, ia sudah tak fokus lagi kepada Eiji dan Fumio. Yang penting adalah perasaan aneh itu. Hanya Sakura, Madara dan Izuna yang akan tahu, perasaan macam apa itu?

Itu begitu kuat dan sangat menekan.

Suasana di mobil hening. Biasanya Sasuke akan dengan sengaja menggoda Sakura. Tapi kali ini, dia diam saja. Pikiran nya melayang entah kemana.

"Lebih baik kau antarkan aku pulang ke rumah ku, Bocah!" cetus Sakura. "Tidak! Kali ini, kita pergi ke mansion pribadiku. Tenang saja, duo Kakek dan Saudara-Saudaraku tidak akan muncul" jawab Sasuke tegas.

"Tapi-"

"Jangan menolak! Aku tidak suka penolakan!" jawab Sasuke memotong perkataan Sakura. Membuat gadis berhelaian merah muda itu kesal seketika.

"Kau pikir kau siapa dapat mengatur sesukamu? Kamu memilih aku melompat keluar dari sini, atau ikuti perintah ku?!" cetus Sakura kesal dan marah.

Entah mengapa, ia merasa itu bukan ide yang bagus tinggal di mansion milik Sasuke. Bagaimanapun, perasaan nya terus terasa tak nyaman. Ia pikir, lebih baik dan aman jika ia kembali ke rumah nya yang lain.

Rumah asli Sakura itu, sebenarnya di sebuah mansion mewah yang terkesan kuno. Dengan campuran gaya Jepang dulu dan era Victoria. Sedangkan rumah jelek itu, hanya sebagai cadangan. Demi kepentingan akting nya.

Namun, saat ini tak tepat jika ia harus ke mansion nya. Dia sedang di awasi. Jadi, pilihan terakhir adalah rumah jelek itu.

"Kau pikir aku tidak tahu apa yang dipikirkan dua pengawas sialan itu?! Pokok nya kau tinggal berdua bersamaku! Aku janji tak akan melakukan atau memaksakan apapun padamu, toh aku sendiri cukup segan padamu." jawab Sasuke cukup kesal. Setelah fenomena aura dingin di kelas itu, membuatnya berpikir dua kali untuk berusaha menandai Sakura.

Bukan karena dia tidak mau. Malahan dia sangat menginginkan nya. Hanya saja, selalu saja ada penghalang dan Sakura tak akan bersikap santai. Gadis itu tak akan ragu bergerak padanya. Itu bisa jadi berbahaya untuk nya.

Maka dari itu, ia harus melakukan beberapa cara. Tak lupa, dengan membuat Sakura memiliki perasaan kepadanya. Itu sebuah keharusan! Akan tak lengkap rasanya jika Sakura sudah ditandai oleh nya, tapi tak ada sedikitpun percikan perasaan gadis itu padanya. Ah, ia harus berusaha keras untuk mendapatkan gadis sekeras dan sekuat Sakura!

"Tapi-"

"Ayolah, kamu bisa bebas berkeliaran dan bersenang-senang nanti nya. Aku akan mengatasi dua orang itu untukmu. Bukankah kamu berniat menyelesaikan semuanya cepat-cepat?" tanya Sasuke.

Sakura diam sejenak.

Ia sudah mengirimkan pesan pada Raiden untuk mengurusi situasi nya nanti. Jadi, ia bisa segera pergi membunuh sekarang juga. Ini juga bisa menjadi cara ia menghindari dari Sasuke dan akan kembali di pagi hari, membuat dua pengawas itu menyangka nya tak kemana-mana semalaman itu.

"Baiklah."

Ada sedikit keraguan di hati nya. Satu sisi, demi menyelesaikan ini semua. Dan yang terakhir, ia merasa tak boleh tinggal disana. Karena perasaan tak nyaman itu.

Ah, berharap saja ia terhindar dari masalah. Dan kalau pun, ya, ia harus bisa keluar dari situasi bermasalah itu.

🌹🌹

Uchiha Residential

Mobil mewah itu berhenti di depan gerbang. Penjaga segera begerak maju. Sasuke mengeluarkan kartu akses nya, dan gerbang terbuka lebar. Mobil mewah itu pun, secara perlahan masuk, diikuti satu mobil lain nya.

"Wow.. untuk yang pertama kali nya, aku memasuki Uchiha Resident. Disini, dingin sekali. Suasana nya cukup menekan!" komentar Eiji, bercicit pelan. Fumio yang mendengerkan nya hanya mengangguk pelan.

Memang, Uchiha adalah keluarga aristokrat tingkat atas yang tak akan bisa disandingkan dengan keluarga aristokrat lain nya. Tak pernah ada seorang pun yang berani dan bisa memasuki resident ini. Hanya sesama klan terkemuka setingkat Uchiha lah yang bisa memasuki nya.

"Uchiha saja sudah semenekan dan semenyeramkan ini. Apalagi Ootsutsuki yang kehadiran nya sudah seperti hantu?" bisik Eiji lagi. Ia melihat sekeliling nya yang nampak sunyi dan kosong. Tidak ada seorang pun yang terlihat di setiap jalan. Biasanya, di resident lain, akan ada satu orang atau beberapa, untuk jalan-jalan di malam hari. Tapi ini.... tidak ada sama sekali. Sesaat, Eiji menyesal membiarkan Fumio ngotot bertugas kemari mengikuti Sakura.

"Shh diam lah. Sebaiknya perhatiakan kedepan!" decak Fumio cukup kesal karena Eiji terkesan cerewet. "Jika begini, seharusnya Nona Haruno aman saja, bukan? Dengan akses dan keamanan tingkat tinggi seperti ini, rasanya akan minim kemungkinan terjadi kriminalitas disini" monolog Eiji membayang-bayang.

"Bukan hanya masalah aman tidak nya Nona Haruno.  Tapi, kita juga harus membuktikan bahwa omong kosong gadis-gadis manja itu salah besar!" jawab Fumio. Bisa dirasakan, ia begitu membela Sakura. "Ck, kau benar. Susah sekali jadi orang yang baik!" jawab Eiji berdecak.

Ia melirik ke jok belakang yang terdapat peralatan bekas makan mereka. Semuanya milik Sakura dan sudah di cuci bersih. Ah, mereka belum sempat mengembalikan nya. Selama Sakura di sekolah, mereka kembali untuk membersihkan diri dan tak lupa melapor pada atasan.

Hingga akhirnya, mobil mewah itu berhenti di depan sebuah gerbang.

Setelah pemuda Uchiha itu membuka gerbang dengan kartu akses nya, mereka mengikuti.

"Woaah ini hutan?" gumam Eiji kagum. Mobil melaju sampai cahaya terang samar-samar, kini terlihat jelas. Ada banyak patung malaikat mewah yang terang benderang karena lampu, air mancur, dan tanaman hias mahal.

Dan...

Sampailah mereka di depan sebuah mansion yang nampak seperti sebuah istana.

Eiji dan Fumio tak bisa untuk tak mengagumi nya.

Kemewahan ini... tak ada tandingan nya!

🌹🌹

Hayoooloh bakal ada sesuatu gak nih? Soalnya kan perasaan para vampir itu udah gak nyaman nyehehehehe

Well, ya gimana sama chapter ini?

Semoga kalian sukaaa

Arigatou

.
.
.

Sabtu, 3 April 2021

The PureTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang