Denali, Alaska....
Sakura menyeka darah dari mulut nya. Entah sudah keberapa kali nya Sakura berusaha memanfaatkan kekuatan nya yang tersisa untuk membuat terobosan, namun selalu gagal. Berakhir dengan ia yang semakin lemah dan kembali berburu hewan untuk ia minum darah nya.
Langit sudah sore menjelang malam, Sakura bergegas kembali ke kediaman nya yang jauh dari peradaban manusia. Well, rumah nya memang berada di area bersalju.
Sekembalinya ke rumah, ia melihat Sasuke nampak sibuk dengan baby Sarada. Memang, akhir-akhir ini Sasuke banyak diam. Membuat Sakura sedikit... khawatir? Namun, ada juga rasa lega di hati.
Memang, hasil seperti inilah yang sudah ia harapkan dari Sasuke begitu ia tahu tentang konflik antara dia dan banyak orang-orang itu. Apakah Sasuke akan menunggungi nya atau tidak, Sakura menunggu jawaban itu.
Namun, masih ada satu hal yang ia sembunyikan. Tentang kekuatan nya yang melemah akibat mengandung dan melahirkan Sarada. Ia enggan mengatakan nya pada Sasuke. Entahlah, ia khawatir Sasuke akan marah dan menyalahkan atau mungkin akan membenci baby Sarada.
"Kamu sudah kembali?"
Pertanyaan Sasuke mengejutkan Sakura yang tengah melamun seraya memperhatikan nya.
"Pikiran mu kosong. Kamu khawatir padaku?" tebak Sasuke tepat sasaran. Sakura hanya memutar bola matanya malas dan bergegas mendekat. Ia mengambil baby Sarada dan duduk di sofa di depan Sasuke.
"Kenapa aku harus mengkhawatirkan mu?" walau sinis dan penuh ejekan, Sasuke mengerti akan kekhawatiran nya. "Aku memikirkan semuanya. Aku tak ingin sesuatu terjadi padamu dan Sarada. Aku tidak peduli tentang masalah mu atau apa. Selama kamu ada dan tidak hilang, aku akan berusaha semampuku mempertahankan semuanya!" cetus Sasuke seraya menatap Sakura dalam dan serius.
Sakura tertegun.
Apakah itu kebenaran?
Sakura tak yakin. Namun, mata itu jernih tanpa ada niat buruk atau apapun. Hanya ada keseriusan dan keteguhan dari tekad yang kuat disana. Sesaat, Sakura merasa ada sesuatu yang aneh dengan perasaan nya. Namun, ia memilih mengabaikan nya dan dengan sengaja mulai bersikap sembrono.
"Hahaha, benarkah?" tawa Sakura terdengar garing. Namun, ia nampak memaksakan tawa itu. "Tentu saja!" jawab Sasuke seraya duduk bersandar ke sofa.
"Aku sudah memikirkan apa yang harus aku lakukan demi kedamaian dan keselamatan kita bertiga!" cetus Sasuke mengejutkan Sakura. "Oh? Bernarkah? Bagaimana itu? Padahal aku yakin, setiap rute pelarian sudah ditutup." tanya Sakura. Sasuke diam.
"Yah, dengan kekuatan mereka, aku juga yakin semua rute sudah di tutup. Jalan satu-satunya memang harus melawan mereka dan memaksa menerobos ke rute itu!" jawab Sasuke seraya menatap Sakura lurus.
"Tenang saja, aku akan memotong rute yang sulit dan menemukan rute yang mudah untuk kita semua. Kamu hanya perlu membawa Sarada lebih dulu dan aku akan menyusul." sambung Sasuke seraya merenung. Sakura tersenyum tipis. Keputusan dan rencana yang bodoh, memang. Namun, Sasuke benar, tak ada rute lagi dan jalan satu-satu nya adalah bertarung demi dapat menerobos secara paksa.
"Eh, bukankah kamu begitu takut terpisah dariku?" ejek Sakura. Sasuke tersenyum tipis. "Ya, aku sangat takut. Tapi, saat ini aku harus menahan perasaan ku dulu. Kamu dan Sarada harus pergi dan selamat. Tenang saja, aku akan kembali dengan baik-baik saja!" jawab Sasuke yakin.
Sakura diam.
Namun, tatapan matanya agak kosong.
Itu berarti, Sasuke akan menjadi umpan. Dan Sakura hanya perlu bergerak cepat untuk kabur dan sembunyi, kemudian menunggu Sasuke kembali menyusuli nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Pure
Fiksi PenggemarSemenjak kedatangan pemuda itu, semuanya berubah... Semenjak dia menanyakan Alaska, semuanya berubah... Dan semenjak dia berada disana, semuanya berubah... Berbagai misteri muncul satu persatu. Dimulai dari salah satu antek geng pembully itu... dan...
