Ruangan itu sangat gelap. Lebih gelap dari gelapnya langit di malam hari. Namun, seolah tak mengganggunya, ia terus melangkah maju dan berdiri di dekat jendela yang menghadap hutan langsung, yang mana gelap gulita.
Sinar bulan menerangi. Masuk ke jendela besar itu. Menyorot orang itu. Orang itu hanya diam. Tak banyak berkata-kata. Dia menunduk, menatap kulit pucat nya yang terkena sinar bulan. Matanya memancar sorot dingin tak bernyawa.
Sedetik kemudian, sudut bibirnya tertarik. Menampilkan senyuman sangat menawan. Membuat wajah nya yang luar biasa, semakin luar biasa saja. Bibir merah itu terbuka perlahan.
"Ah, aku ingin memastikan nya."
🌹🌹
Tap... Tap... Tap...
"Sialan, benar-benar merepotkan!" umpat sosok bersurai soft pink seraya mengeluh. Ia menenteng banyak kantong belanjaan. Berisi kebutuhan sehari-harinya. Well, inilah merepotkan nya hidup sendiri. Semuanya dia urus sendiri!
Srattt
Brukkk
"Ah maaf, maaf!"
Sakura mendongak dan melihat kumpulan para gadis yang menubruk nya. Ekspresi dan nada bicara mereka nampak tidak tulus. Jadi, dia memilih tak menghiraukan dan mulai memunguti barang-barang nya.
"He, bukankah kau si Haruno sok itu? Kudengar kau berani menggoda Sasuke-kun!"
Sakura hanya diam saja mendengar ocehan gadis yang memimpin kelompok itu. Ya, kelompok itu adalah Karin and the gang. Berisi murid famous yang berasal dari keluarga konglomerat dan angkuh.
Sakura kerap kali menjadi korban bully-an mereka. Namun, tidak terlalu parah. Hanya mengejek saja, tak kurang, tak lebih. Namun, kali ini sepertinya berbeda.
"Khe, dasar jalang! Sudah kuperingatkan untuk tidak menggoda satupun murid laki-laki di sekolah! Kau lupa?!" seru Karin kesal seraya menjambak kasar surai soft pink itu. Sakura hanya diam. Tak ada ringisan kesakitan keluar dari bibir nya yang ia tutup rapat.
"Kenapa diam, huh?! Kau menentangku?!"
Plakk
Karin dengan keras menamparnya. Kali ini tanpa berkompromi, para gadis itu mulai beraksi. Kawanan Karin mulai melakukan sesuatu yang jahat. Semua bahan makanan seperti telur, tepung, susu, sayuran dan yang lainnya, mereka lemparkan pada gadis itu. Mereka bahkan tanpa ragu menendang nya.
Lagi, Sakura hanya diam. Tatapan nya walau tak tergoyahkan, ada rasa kesedihan disana. Matanya berkaca-kaca, seolah siap menangis kapan saja.
"Khe, rasakan itu! Ini peringatan! Jika kau melakukan nya lagi... akan lebih dari ini! Ayo pergi, girls!"
Sakura menunduk dalam. Kacau sudah. Tak ada lagi yang tersisa sedikit pun.
"Hei."
Eh?
Sakura mendongak.
Cahaya bulan bersinar. Menyinari sosok pemuda tampan berkulit pucat di depan nya. Iris onyx nya menatap Sakura yang kacau, dalam-dalam.
"Ah?? Sasuke-kun?? Eh oh, maaf... aku bau!" kata Sakura seraya menepuk-nepuk lengan jaket nya dan menjauh, menjaga jarak dari Sasuke. "Sejak kapan kau disini?" tanya Sakura penasaran.
"Baru saja." jawab Sasuke singkat. Seraya memperhatikan gadis lusuh dan kotor itu. Ia tak sengaja melihat Sakura di supermarket. Gadis itu nampak membeli banyak kebutuhan pokok dan kebutuhan sehari-harinya. Ia sendiri terkejut melihat Sakura dapat membawa itu semua sampai kemari.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Pure
FanfictieSemenjak kedatangan pemuda itu, semuanya berubah... Semenjak dia menanyakan Alaska, semuanya berubah... Dan semenjak dia berada disana, semuanya berubah... Berbagai misteri muncul satu persatu. Dimulai dari salah satu antek geng pembully itu... dan...
