38. Undangan

752 33 6
                                        

Setelah beberapa langkah menjauh dari mobil. Sebuah suara lembut menghentikan langkahnya.

Mungkinkah kamu berubah pikiran?

Vero tersenyum penuh arti, akankah akan kembali seperti semula?

Namun saat dia menengok. Wanita itu sudah berjalan menuju ke arahnya dengan membawa sebuah amplop mewah persegi yang cukup besar berwarna emas. Ia tahu itu apa.

Dan di dalam sana pasti ada sesuatu hal yang membuatnya menelan pil pahit.

Undangan!!

Apa ini undangan pernikahan?

Mengapa begitu mewah?

Tentu saja!!

"Aku hanya ingin memberimu ini" Ucapnya setelah sampai di depan Vero dan menyerahkan sesuatu yang berada di tangannya.

Vero tersenyum kecut. Ia mengambil undangan itu dengan raut wajah yang entahlah. Tidak perlu menggambarkannya lagi!!

"congratulations to both of you"

Clara mengangguk. Dan Vero mengangkat undangan itu dan menggoyangkannya sedikit sambil pamit untuk melanjutkan perjalanan.

Clara pun tak menunggu lama dan langsung masuk ke dalam mobilnya. Melajukan mobilnya menuju tempat dimana foto prewedding ke empat akan dilaksanakan.

Di dalam undangan sudah ada foto prewedding dengan 3 gaun yang berbeda. Namun untuk yang ke empat ini akan di gunakan untuk membuat poster dimana saat di depan gedung akan dipajang foto kedua mempelai.

Hal ini sudah di rencanakan sejak lama.

Vero melangkah dengan menengadahkan wajahnya. Sinar matahari pagi menyambut pandangannya. Setiap orang yang melihat pasti memiliki rasa kekaguman pada pria yang berdiri di bawah matahari pagi ini.

Vero berdiri bersandar di pohon sambil menumpangkan kedua tangannya terlipat di dada.

Satu tangannya mengamati sebuah amplop yang sangat mewah.

"Bukankah setiap pertemuan pasti ada perpisahan? Lalu kenapa seperti ini? Seperti domba yang kehilangan induknya. Aku tidak sudi" Cibirnya pada diri sendiri.

Namun ia merasa tidak nyaman di hatinya. Mungkinkah setelah melihat mereka berdua menikah akankah hatinya akan merasa lebih baik?

Huh, menyebalkan!!

"Sial, kenapa jauh banget rumah sakitnya. Perasaan tadi gue liat udah deket dah. Harusnya tadi numpang dikit lagi ke depan," Kesalnya dengan wajah tak tahu malu.

.
.
.

🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
.

Seorang wanita melihat sosok pemuda yang tampan itu masuk ke dalam ruangan dengan wajah yang di tekuk beberapa lipatan.

"Dek, kenapa tuh muka?" tanya Evelyn yang melihat wajah kusut Vero.

"Kusut amat itu muka kek cucian lecek" Cibir seseorang lagi.

Vero membelalakkan matanya melihat lelaki itu. "Kak Krist, ini beneran lo?" tanyanya tak percaya.

Lelaki yang bernama Krist itu mendengus. "Hanya beberapa tahun gak ketemu dan lo udah lupain gue?" tanyanya.

"Mana mungkin. Gue ga akan lupain orang yang udah rawat gue selama 7 tahun dong. Meskipun cuman dikasih duit sama makan doang. Kalo sakit gak di urus" Ucap Vero mencibir.

Krist melotot lalu berpaling ke arah Azka. "Papah itu nggak bener pah. Krist selalu rawat Vero dengan sepenuh hati"

Azka hanya menggelengkan kepalanya melihat anak-anaknya yang sudah tumbuh dewasa sekarang. Semakin tambah umur bukannya tambah dewasa. Malah semakin seperti anak kecil.

Love You Captain |On GoingCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang