Ia berhenti di depan patung kemeja itu. Mengusap bahannya dan mengangguk dengan puas.
Pegawai wanita itu mengikuti di belakang: "pilihan anda sangat baik! Ini adalah gaya baru yang baru saja dibawa kembali dari Paris kemarin sore. Kemeja ini adalah kain kepadatan tinggi ultra-300an dengan rasa lembut dan nyaman. Ini adalah yang terbaik dalam kain kaos. Dan ini hanya ada 3 sejak keluaran terbarunya"
"Bungkus ini" Vero menyerahkan kartu hitam kepada pegawai.
Pegawai itu nampak terkejut, dan buru-buru menerimanya dan mengambil kemeja itu hendak membungkusnya.
Namun Vero menahannya, ia mengambil baju itu dan berjalan menuju ruang ganti untuk memakainya.
Menahan nafas sejenak, akhirnya pegawai itu rileks. Memegang kartu hitam di tangannya yang gemetaran. Ia belum pernah melihat orang membayar dengan kartu ini sebelumnya. Tentu saja ia kaget. Kartu ini adalah kartu tanpa limit. Dan betapa hebatnya kartu ini ia sangat mengetahui.
Vero keluar dari ruang ganti dengan memakai baju tersebut. Ketampanannya berlipat-lipat. Berjalan menuju kasir untuk mengambil kartu. Dengan hormat, pegawai itu menyerahkan kartu dengan hati-hati.
Setelah mengambil, Vero berjalan keluar toko dan mengendarainya menuju perusahaan.
Di tengah jalan, terlihat sosok kecil mungil sedang celingak-celinguk kanan kiri dengan membawa banyak dokumen, makanan dan minuman.
Menghampiri wanita kecil itu dan turun untuk menyapanya.
"Gadis kecil" panggilnya.
Wanita itu menoleh. "Mengapa kamu?"
"Kenapa aku?" tanya Vero.
"Kamu. Mengapa kamu bisa disini?" Tanya wanita kecil itu yang ternyata adalah Chelsea.
"Apakah kamu peduli? Sampai bertanya kemana aku pergi?"
Chelsea mengernyit. "Bukankah aku bertanya mengapa kamu ada disini?"
Vero merasa masam di wajahnya. "Ini bukan jam istirahat, mengapa kamu keluar?"
Melirik tumpukan dokumen yang ada di tangannya. Wanita itu menjawab "Mesin fotocopy rusak. Jadi aku pergi ke depan untuk fotocopy berkas ini"
Vero mengangguk. Ia berjalan menuju mobilnya dan membuka pintu. Menjalankan mobilnya tepat di depan wanita itu. "Masuk"
"Hah?" tertegun sejenak, wanita itu tidak tahu bagaimana merespon.
Vero melirik. "Masuk, kita sejalan"
"Oh" wanita itu langsung masuk ke dalam mobil.
Melihat hidung wanita itu memerah, mulut Vero gatal untuk bertanya. "Ada apa denganmu?"
Chelsea menggosok hidungnya sambil teredam dan berkata, "Aku tidak merasa cuacanya dingin ketika aku keluar di pagi hari. Kurasa hanya saja hidungku tidak nyaman dan aku tidak masuk angin."
"Ingat untuk memakai jaket ketika keluar" Vero mengatakan itu tanpa sadar. Chelsea menoleh melihat wajah acuh itu dan mengerutkan kening. Namun tidak berkata apapun lagi.
Mobil memasuki area perusahaan. Mobil Vero berhenti di depan. Mereka berdua turun dari mobil dan berjalan beriringan. Namun semua tatapan karyawan membuat Chelsea tidak nyaman. Ia menyusut ke belakang hingga berada di belakang Vero.
Vero melirik wanita itu dan tidak mengucapkan apapun lagi. Samar-samar ia mendengar wanita itu berkata dengan suara yang kecil.
"Terimakasih"
Vero melengkungkan bibirnya setipis mungkin hampir tak terlihat. Namun jika dapat dilihat dengan cermat, mata Vero melengkung sebuah senyuman.
.......
KAMU SEDANG MEMBACA
Love You Captain |On Going
Novela JuvenilBisa nggak masa lalu itu terikat? Apakah mungkin seorang yang kita temui pertama kali akan menjadi yang terakhir untuk kita? Apakah tidak ada yang lebih berhak selain cinta pertama? Cinta pertama bisa bertahan sampai akhir Cinta pertama juga bisa ti...
