"Jarang banget lu ngumpul sama kita" ucap Fiian di sela kegiatan menyetir mobilnya ke arah sekolah Vero.
"Baru beberapa hari yan, udah kangen gue lo?" Jawab Vero.
Ia membuka foto gadis yang masih ia cintai.
"Kamu terlalu cantik untuk aku sakiti" gumamnya dalam hati.
"Belom bisa lupain mantan?" Tanya Fiian mengejek.
"Dia terlalu cantik buat di lupain yan," jawab Vero sambil tersenyum.
"Gimana ya deskripsi seorang Clara? Dia cantik, baik, lucu, imut, anggun, polos dan sabar walaupun disakiti," ucap Fiian dengan melirik Vero dengan menekan perkataan terakhir.
"Nggak usah ngelirik gitu, sok nyindir-nyindir. Anjir lu" ucap Vero.
Fiian terkekeh.
"Eh yan gue mau cerita sama lo" ucap Vero.
"Apa?" tanya Fiian tanpa menatap Vero karena ia sedang menyetir mobilnya.
"Liat gue dong Yan. Nggak sopan banget si" gerutu Vero.
Fiian merasa geregatan. Se-box tisu yang berada di dashboard mobil ia lemparkan dan mendarat tepat di depan wajah Vero karena pada saat itu Vero menoleh ke arah Fiian.
"Kampret lu" umpat Vero.
"Lagian, punya otak napa gesrek semua si. Pinternya aja ngga ada sama sekali" jawab Fiian.
"Yaelah yan nggak usah ngejelek-jelekin gua deh. Nih dengerin cerita gua" ucap Vero.
"Hmm" jawab Fiian dengan gumaman.
"Di satu sekolah gue ada cewek namanya Lisa. Gue pertama kali ketemu Lisa di jalan, saat itu dia di gangguin preman. Terus masa pas di sekolah dia nggak bilang makasih ke gue. Padahal dia inget kalau gue yang nolongin dia" ucap Vero.
"Dia gimana? Maksudnya ciri-cirinya gimana?" tanya Fiian yang mulai tertarik dengan obrolan ini.
"Dia cantik, sexy, dia orangnya cuek bahkan ketus banget, dia nggak pernah mau di bantuin orang lain, aneh banget, kan? Masa nih ya, gua pas lewati di taman, gua ngeliat dia nge-dance sendirian trus kakinya terkilir, gue tolongin tuh eh malah gue di suruh pergi. Trus gue nggak tega dong, gue balik lagi dan nganterin dia ke tukang urut, Bukannya makasih malah gue di suruh pergi. Nggak tau terima kasih banget kan tuh cewek. Tapi kalo di liat di lucu juga" ucap Vero sambil terkekeh geli.
Fiian melirik Vero, ia merasa sahabatnya itu menemukan hal yang baru.
Misalnya, dia mulai tertarik dengan gadis itu.
"Nih udah nyampe" ucap Fiian.
Vero keluar, Fiian mengikutinya. Mereka bersalaman ala laki-laki dan keduanya berpelukan.
"Thanks Yan" ucap Vero.
"Yoi. Lumayan juga cewek-cewek disini" ucap Fiian sambil melihat ke sekeliling sekolah.
"Gak usah genit, inget umur" ucap Vero sambil memukul kepala Fiian.
"Anjing sakit tai" umpat Fiian sambil memegang kepalanya.
"Ver?" panggil seseorang yang tak jauh dari mereka.
"Eh bang, kenalin ini sahabat gue. Fiian. Dan yan, ini sohib gue Gema" ujar Vero sambil mengenalkan keduanya satu sama lain.
"Gema"
"Fiian"
"Oh iya Ver, gua cabut dah. Gue pasti bakal dapet hukuman ini mah udah nerobos pagar sekolah. Temen anjing lu emang" gerutu Fiian saat tau jika ia kembali ke sekolah pasti mendapat kejutan yang--- yahhh begitulah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love You Captain |On Going
Teen FictionBisa nggak masa lalu itu terikat? Apakah mungkin seorang yang kita temui pertama kali akan menjadi yang terakhir untuk kita? Apakah tidak ada yang lebih berhak selain cinta pertama? Cinta pertama bisa bertahan sampai akhir Cinta pertama juga bisa ti...
