Angkringan, 2016. Alwitra Dwitama.
Sepertinya sifat burukku kembali muncul. Mengetahui kabar yang berasal dari bibir ibuku sendiri mengenai Mita yang katanya sudah hamil tiga bulan. Rasanya aku masih tidak percaya bahwa takdirku mengikhlaskan. Hmmm..nyatanya ia sudah bahagia dengan Dhani. Buah cinta keduanya terdengar juga kabarnya sampai pada keluargaku yang hingga detik ini masih berhubungan baik dengan keluarganya. Memang takdirku dengan Mita hanya sebatas bersahabat. Cukup sudah..
Aku berkesempatan untuk bermalam di rumah malam ini. Tentu saja kali ini aku tidak akan tinggal diam di rumah. Seperti kata Bang Feri, lebih baik aku mencari angin malam bersama para lettingku yang sedari tadi sudah sibuk saling share location! Oke, aku akan pilih salah satu tempat dari ketiga orang rekan yang mengirimkan tiga lokasi yang berbeda itu.
Angkringan pinggir jalan—Angkringan Solo.
Sampai di sana aku langsung disambut dengan keramaian rekan-rekanku. Kira-kira berjumlah delapan orang. Tidak sampai sepuluh, tapi rasanya sudah seperti kumpul satu kompi!
Sialnya, aku kembali bertemu dengan Dwiki. Sejujurnya aku berharap bisa menghindarinya, karena selalu saja terjadi hal-hal di luar dugaanku tatkala ada Dwiki. Seperti waktu itu, niat kami berdua hanya sekedar mencari angin dan membeli jajanan otak-otak, Dwiki justru mengiyakan ajakan Agung tanpa sepengetahuanku. Dan, dunia sesempit yang orang-orang sering katakan. Aku bertemu untuk yang kedua kalinya dengan gadis bernama Anjani itu.
Semoga malam ini damai kudapati..
Kulihat mereka semua berpenampilan layaknya anak remaja yang tengah menongkrong. Ada yang tampak asyik bermain game, stalking media sosial cewek, hingga berbincang mengenai kegiatan kami setelah IB ini. Kalian tentu tahu bukan di golongan mana saat ini aku? Ya. Karena Dwiki jarang sekali kukalahkan, aku akhirnya hanya menonton ponselku yang digunakan Dwiki untuk melihat-lihat akun sosial media wanita-wanita berjilbab itu. Entahlah, apa Dwiki sekarang ini sudah memiliki pekerjaan sampingan selain memuji semua wanita manglingi? Yakni, menjadi layanan biro jodoh?
"Ki, sini HP-ku! Ngabisin kuota saja!"
"Lohh eh, kamu itu tak bantu lho Wi.."
"Bantu apa!?"
"Cari cewek yang pasti sesuai sama kriteriamu. Kalau Mita 'kan nggak berjilbab, ini aku carikan dengan bonus surga nanti. Ukhti-ukhti.."
"Aku malas mikir itu."
"Kenapa!?"
"Mauku nurut pilihan ibu saja."
Dwiki menertawaiku. "Pasti karena semua pilihanmu nggak pernah benar! Hahhahah.."
Agung yang juga duduk lesehan berhadapan dengan kami—aku dan Dwiki turut tertawa. Bisa-bisanya aku dipermalukan karena ulahku sendiri! Ya Rabb..
"Aku itu kadang heran sama kalian berdua. Jujur nih ya, soal urusan ganteng..Alwi sudah jelas!" Besar kepala-lah aku karena dipuji demikian oleh rekanku sendiri. Sangat puas rasanya dibandingkan lebih unggul dari pada Dwiki. Haha!
"Tapi soal keberuntungan, Dwiki selalu beruntung." Kelanjutan ucapan Agung yang membuatku seketika kesal dan melempar tusuk sate angkringan yang satenya telah kumakan itu.
"Benar 'kan, Wi!? Aku berbicara fakta loh!"
"Fakta yang kamu jabarkan itu nggak mengenakkan didengar, Gung. Diam dan pura-pura tidak tahu saja!" kesalku.
Dwiki yang berhenti tertawa pun mulai menyahut. "Gung, jangan jujur-jujur. Nanti lahar panasnya ngalir lagi.."
Setelahnya kurebut ponselku dari tangan Dwiki. Kini giliranku untuk bermain ponselku sendiri. Apa kegiatanku? Melanjutkan kegiatan yang tadi Dwiki lakukan sebelumnya! Ya, sudah terlanjur membuka sebuah hastag hootd—wanita berjilbab. Tidak ada salahnya juga 'kan kulanjutkan melihat foto-foto yang menyejukkan hatiku ini. Jujur saja, kini kriteriaku sudah lebih baik dari sebelumnya. Itu semua karena ibu selalu memberiku nasihat tentang wanita yang terbaik. Ibu berkata, wanita yang baik bukan hanya ia yang terlihat cantik paras saja. Namun juga cantik hati dan akhlaknya.
Adem ayem bawaannya..
Tapi mataku membelalak seketika mengetahui sebuah postingan akun resmi milik sebuah universitas yang menampilkan sebuah gambar seseorang yang tidak asing bagiku. Anjani! Fotonya berjilbab cokelat muda dan memakai almamater kampusnya itu tampak bersinar. Tangannya membawa sebuah buku paket. Senyumnya lebar dan hmm..manis. Ya, kuakui. Di dalam foto ini, Anjani memang tidak menghadap pada kamera. Mungkin foto ini merupakan foto candid. Dengan caption panjang lebar tentang fasilitas taman kampus Anjani itu, aku tahu..fotonya dipilih karena tampak bagus meski diambil tanpa sepengetahuannya.
"Cieeee.."
"Lambemu Wi-Wi! Jare orang seneng," (Mulutmu, Wi-Wi! Katamu nggak suka)
"Apa sih, Ki!?"
"Barusan foto Anjani 'kan? Mana sini, lihat!" Belum sempat kuizinkan Dwiki melihatnya. Ia sudah merebutnya secara paksa dan tiba-tiba dari tanganku. Biasalah..
"Wiihh, sumpah uayu banget! Seumpomo aku durung kedanan Lila, aku gelem karo Anjani!" (Sumpah cantik banget! Seandainya aku belum tergila-gila dengan Lila, aku mau sama Anjani!)
"Heh, Lambemu! Iya, kamu mau sama dia. Tapi dianya yang nggak mau sama kamu!" (Mulutmu!)
"Lha memangnya kenapa? Aku humoris, Wi. Aku yakin, aku akan selalu membuat wanita yang kucintai tertawa bahagia saat bersamaku. Memangnya kamu? Gengsian, muka triplek! Nggak ada bagus-bagusnya."
"Iya benar, Ki. Aku setuju sama kamu. Tapi yang aku heran, kenapa Anjani bisa suka sama kamu!?" Kali ini ucapan Agung seketika membuatku dan Dwiki saling tatap tak mengerti. Mengapa Agung bisa melontarkan pertanyaan tentang itu? Apa ia tahu suatu hal yang aku dan Dwiki tidak ketahui?
"Apa!? S—suka?"
"Iya, Ki. Masa kamu nggak bisa lihat dari cara gadis itu menatap Alwi. Dia suka sama Alwi!"
Anjani suka denganku? Yang benar saja, Bung! Kalau sampai hal itu terjadi, dia harus menyiapkan berlembar-lembar tissue untuk menghapus air matanya, karena aku tidak mungkin membalas perasaannya! Lagipula, Agung ada-ada saja!
"Wi, lain kali kalau ketemu sama Anjani, aku mau amatin-lah gimana cara dia natap kamu. Aku penasaran sama apa yang barusan dikatakan Agung. Padahal kemarin 'kan pertemuan pertamamu Gung sama Anjani."
"Iya-lah! Aku ahlinya soal membaca hati wanita."
Seketika ekspresiku dan Dwiki berubah masam. "Helleh! Kamu itu ahlinya membaca pesan wanita tanpa mau membalasnya. Heh, Gung! Ingat ya, jangan banyak-banyak 'bidikan'! Kalau semuanya minta di DOR, kelar hidupmu. Cewek zaman sekarang, sekali disakiti..bilangnya semua cowok sama aja!"
Aku tertawa keras mendengar ucapan Dwiki barusan. Benar juga ya..memang unik-unik cewek zaman sekarang. Maunya diseriusin, giliran diseriusin bosan, terus ninggalin pakai alasan..kamu terlalu baik buat aku. Eh, pas kita cari serepan dan lagi menyeleksi cewek, bilangnya kita ini pemilik asrama putri!
"Untung aku nggak.."
"Yo awakmu kuwi uwis ana sing pasti! Kari ngejar wae gengsine setengah mati!" (Ya kamu itu sudah ada yang pasti! Tinggal mengejar saja gengsinya setengah mati!)
Aku terdiam sejenak.
Sial! Perkataan Agung benar-benar membuatku resah. Seakan terus terngiang-ngiang padahal baru beberapa saat yang lalu terdengar olehku. Benarkah bila dari tatapan Anjani padaku sudah bisa disimpulkan bahwa ia menyukaiku? Dan, apa barusan kata Dwiki? Benarkah Anjani pasti? Tapi, perasaan tidak bisa dipaksakan. Aku tidak menaruh hati padanya.
***
Tenang gaesss, tarik napassss..komen yang buanyakkk!!
KAMU SEDANG MEMBACA
BERBATAS (Bertanya Balas atau Lepas) [Completed]
RomanceKisah Binar Anjani yang tanpa sadar mengagumi sosok Alwitra Dwitama. Kekagumannya tersebut lantas berujung pada rasa cinta dalam diam. Keduanya terpisahkan karena tugas Alwi telah usai. Hingga Tuhan kembali mempertemukan lagi keduanya di kondisi y...
![BERBATAS (Bertanya Balas atau Lepas) [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/232445477-64-k783807.jpg)