2014, Ujung Negeri | Alwitra Dwitama
Kata orang-orang, aku ini tertutup. Pendiam bahkan sangat dingin. Aku memang tak begitu suka bercanda. Hidup harus lurus dan serius. Akan tetapi, ketika bersama keluargaku sendiri.. jangan ditanya. Akulah yang paling menghibur.
Mungkin saat ini mereka tengah kehilanganku. Nyatanya aku diberangkatkan satgas di ujung negeri satu bulan yang lalu. Ibu dan bapak melepasku dengan perasaan campur aduk. Mungkin bagi ibu, aku ini masih anak manjanya yang tak bisa jauh dari pelukan beliau.
Lucu sekali tatkala kulihat tangis ibu pecah. Bukan maksudku tertawa saat ibuku bersedih. Namun nyatanya meski telah menjadi istri seorang prajurit, ibu tetaplah seseorang yang paling khawatir melepas putranya yang juga seorang prajurit. Mereka mengantarkanku hingga dermaga dan hingga aku lenyap menyembunyikan diriku di balik jendela kapal. Aku berlayar tanpa menatap lagi kedua orang tuaku.
Katakan saja aku kejam. Tak mau melihat kedua orang tuaku untuk yang terakhir kalinya. Benar kataku, terakhir kalinya. Karena kami disini tak tahu akan dapat kembali atau tidak. Setiap prajurit yang diberangkatkan untuk bertugas menjaga keamanan dan mengabdi di ujung negeri, bisa kapan saja pulang nama.
Namun tak masalah bagiku, karena aku telah menjadi milik negara. Selama satu tahun ke depan aku akan hilang dari pandangan ibu dan bapakku. Sudah kewajibanku. Seberat apapun tempaan itu, aku akan tetap melaluinya dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab.
Mungkin kepergianku untuk satgas ini, mengingatkan ibu pada sosok bapak yang juga dulunya meninggalkan beliau tatkala hamil aku. Ketika itu bapak lamanya lebih dari satu tahun, karena tiba-tiba suasana memanas. Baku tembak antar manusia yang tak pernah lagi takut akan pintu gerbang kematian itu, seakan menguatkan sisi kekhawatiran didiri ibu. Untukku pastinya.. putra kebanggaannya.
Untung saja tadi ada gadis itu yang menawariku untuk naik gunung. Alhamdulillah.. pesan singkatku untuk ibu tersampaikan.
Ibu
Pesan Terkirim
Assalamu'alaikum Ibu. Putramu baik-baik saja disini. Kami makan dan minum dengan enak. Jangan terlalu mengkhawatirkan Alwi, Bu. Ibu harus tetap semangat menjalani hari-hari ibu dengan segudang kesibukan Ibu menjadi pengurus PERSIT. Ibu jangan telat makan. Tunggu Alwi pulang sebelas bulan lagi, Insyaallah Ibu.. Wassalamu'alaikum Bu.
Mungkin besok aku akan kembali kemari. Karena terburu-buru tadi, aku bahkan belum sempat mengirimi pesan pada bapakku.
Perihal sikapku yang sangat dingin bahkan kejam pada gadis itu. Setelah ditolong olehnya aku tak mengucapkan terima kasih, bukan tanpa alasan. Aku hanya ingin bersikap biasa saja. Membangun benteng yang kokoh agar aku hanya fokus bertugas disini.
Apalagi jika kuperhatikan dia berbeda dari anak-anak gadis lain di desa ini. Kulitnya bisa dibilang paling putih. Cantik, kuakui. Tapi sayangnya, dia kurang mempedulikan pendidikannya. Bukan maksudku menghakimi hidup orang yang tak melanjutkan pendidikannya. Hanya saja, meskipun seorang wanita. Tak ada alasan baginya untuk tak melanjutkan mengenyam pendidikan. Apalagi dengan adanya kenyataan bahwa desa mereka ini tertinggal. Bukankah ia seharusnya bisa berpikir lebih luas.
Apa yang nanti dapat ia berikan untuk desanya ini?
Entahlah.. aku tak peduli dengan urusan gadis itu.
Mungkin baginya ijazah SMA sudah dapat mengantarkannya pada kesuksesan. Memang sarkas bicaraku jika sudah menyangkut pendidikan. Biarlah. Aku sekali lagi menegaskan, tak peduli.
Bagaimana aku bisa tahu bahwa ia lulusan SMA? Karena Bang Adinlah yang kerap kali mewawancarainya. Semoga dia tidak salah mengartikan perhatian Bang Adin yang hanya menempatkan dirinya sebagai Abang. Karena pada kenyataannya Bang Adin sudah bertunangan sebelum berangkat kemari.
Aku hanya tak mau nantinya dia menyalahartikan sikapku. Sedangkan di desa inipun banyak sekali para gadis yang terkadang suka mencuri-curi perhatianku. Aku tak menggubrisnya. Dikatakan sombong, silahkan..
Namun semua sikapku itu hanya kutujukan pada para gadis-gadis saja. Tidak berlaku untuk para orang tua. Seperti sekarang ini. Aku membantu seorang bapak yang hendak naik gunung dengan motor bututnya. Kubantu dengan tenagaku. Mendorong motor yang bannya kesat di pasir yang cukup terasa panas di kakiku yang beralaskan sepatu pdl.
"Terima kasih Bapak Tentara!" teriak bapak itu yang kulihat telah berada di atas sana. Aku hanya mengulas senyum tipisku.
Melangkahkan kakiku untuk kembali ke tempat semula. Sebelum Bang Feri memarahiku.
Sore harinya aku dan kawan-kawanku merebahkan diri di tempat yang telah disediakan untuk kami semua. Malam tentu saja aku tak berjaga. Karena kemarin aku telah naik jaga. Hingga kumanfaatkan malam ini untuk sekedar menjelajahi hutan dan mencari aneka hewan-hewan yang mungkin tak kutemui di kotaku.
"Eei eii Dik! Mau kemana kamu!?"
Sialnya aku tertangkap oleh mata elang Bang Feri. Apalagi yang dapat kuperbuat jika sudah dipanggil olehnya. Aku berbalik badan. Kemudian bersikap siap dan hormat. "Siap Bang! Izin Bang, saya mau berjalan-jalan. Mencari angin."
"Kembali ke kamarmu! Istirahat. Tidak ada acara jalan-jalan cari angin. Kamu pikir kita ini sedang bertamasya atau piknik begitu!?"
"Siap salah Bang! Izin Bang, barangkali sebentar saja. Lima belas menit.." Cengiran andalan mulai kukeluarkan. Siapa tahu Bang Feri akan mengubah perkataannya barusan
"Ooo main-main kamu ya.."
"Siap salah Bang! Izin mendahului kembali ke kamar." Aku tak lagi melanjutkan debatku dengan Bang Feri.
"Awas kamu ya kalau ketahuan saya lagi!"
Aku yakin ending-nya nanti tidak akan baik. Kepalaku yang sudah kubotaki sebelum berangkat satgas inilah yang akan menjadi korbannya. Tentu saja aku tidak mau!
Sebenarnya hubunganku dengan Bang Feri tidak sekaku senior dengan adik pada umumnya. Nyatanya Bang Feri masih satu rumpun keluarga denganku. Ia merupakan kakak sepupuku. Putranya pakde budheku. Tapi tak pernah sekalipun ia pandang bulu tatkala menghukumku yang terkadang masih suka bandel.
Bukannya aku mau melawan abangku. Tapi aku senang saja terkadang menjahilinya. Sikapnya yang selalu tegas dan berwibawa, menurun padaku. Haha.. dimata orang-orang lain tapi. Tidak dimata ibu bapakku.
Belum sempat aku kembali masuk ke kamar. Pandanganku tercuri oleh sosok wanita yang berjalan dengan gerombolannya. Wanita-wanita sholehah yang baru saja pulang dari masjid kecil hasil perjuangan kami. Ya, masjid sederhana namun suci dan bersih itu dibangun oleh para pengabdi negeri. Pasukan-pasukan yang baru saja kembali ke pangkuan keluarganya. Dan, kini aku dan kawan-kawankulah yang menggantikannya.
Tak mau terlalu lama memandangi para gadis yang tampaknya menyadari posisi berdiriku itu, akupun segera masuk ke kamar. Meski kudengar beberapa dari mereka menahan jeritan malu dan salah tingkahnya. Disana tadi juga ada gadis yang siang tadi menolongku.
Entahlah.. bagaimana aku bisa menjadi sekejam ini padanya? Padahal dia sudah menolongku tadi.
***
Next? Vote dan komen ya💚
KAMU SEDANG MEMBACA
BERBATAS (Bertanya Balas atau Lepas) [Completed]
RomanceKisah Binar Anjani yang tanpa sadar mengagumi sosok Alwitra Dwitama. Kekagumannya tersebut lantas berujung pada rasa cinta dalam diam. Keduanya terpisahkan karena tugas Alwi telah usai. Hingga Tuhan kembali mempertemukan lagi keduanya di kondisi y...
![BERBATAS (Bertanya Balas atau Lepas) [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/232445477-64-k783807.jpg)