BAB IX

4.5K 367 9
                                        

2014, Alwitra Dwitama

Resiko satuan tugas di tempat yang cukup terpencil. Bonus, berada di daerah ujung negeri. Yang setiap saat harus siap bila kegentingan membuatku berlari meski kesadaran belum sepenuhnya ada dalam diriku. Belum lagi tatkala melewati malam-malam sunyi di sini. Sungguh.. meski hampir menginjak tiga bulan, tetap saja. Keramaian kota tempatku sehari-hari mengabdikan diri masih sangat nyaman rasanya. Bagaimana tidak? Di sana serba ada. Mau makanan apa, bisa dengan mudah di dapat. Sinyal pun sangat lancar. Penerangan begitu memadai. Hiruk pikuknya membuatku sangat rindu. Titik.

Termasuk rindu pada kedua malaikat tak bersayapku. Beliau bapak dan ibuku. Sedang apa mereka di sana?

Aku berjalan menyusuri jalanan yang mulai menanjak ini. Berharap tidak ada hewan buas yang akan menjahili kakiku. Bukan sepatu PDL yang biasanya kukenakan, hanya sepatu biasa. Karena pakaianku pun hanya celana jeans panjang berwarna hitam dan kaos hijau army yang tertutup dibalik jaket hitam yang melekat di badan kekarku.

Dinginnya begitu menusuk. Namun tidak sekalipun langkahku mundur. Sebentar lagi, kurang beberapa langkah aku akan sampai di tempat yang ingin kukunjungi malam ini juga. Depan rumah Anjani!

Jangan salah paham. Tak ada niatanku untuk mengapelinya. Huh, lebih baik kugunakan waktuku untuk istirahat daripada mengapeli gadis itu. Tujuanku kemari tak lain dan bukan adalah untuk mendapatkan sinyal. Demi kedua orang tuaku di rumah, aku rela menanjaki tanah yang membuatku mengeluarkan keringat malam-malam begini.

Tiba-tiba, langkahku terhenti. Pandanganku yang tadinya hanya fokus menatap tanah kini teralih pada seorang gadis yang tengah berbicara pada dirinya sendiri. Gadis itu Anjani. Sedang apa dia malam-malam seperti ini di luar rumah!? Mengganggu acaraku saja!

Apakah harus berbalik badan lalu mengurungkan niat untuk mencari sinyal? Tidak mungkin. Sudah sejauh ini aku melangkah. Enak saja!

Mencoba untuk menggunakan kemampuan mengendap-endapku. Prajurit sepertiku pasti sudah cukup khatam dengan hal yang satu ini. Tetapi sialnya, aku tidak mempelajari medan gelap yang akan kulewati ini. Sehingga beberapa suara timbul dan terdengar. Gara-gara rerumputan liar dan daun-daun kering yang berjatuhan ini gadis itu langsung ngacir ke dalam rumah. Sempat aku tertawa kecil melihatnya. Namun segera aku enyahkan segala hal tentangnya. Untuk apa memikirkan dia! Persetan dengannya yang panik!

Baru saja merasakan kelegaan karena aku bisa leluasa memanfaatkan dan menguasai area ini untuk berkomunikasi dengan kedua orang tuaku melalui sambungan suara. Akan tetapi agaknya tertunda untuk beberapa saat.

Masih ingat bapak yang pernah kutolong untuk naik ke atas karena motor bututnya terjerat diantara pasir? Beliau ternyata bapak Anjani. Kukira, aku akan disangka orang gila yang menyelinap rumahnya malam-malam seperti ini. Namun ternyata si bapak masih sangat mengingatku. Beliau mengajakku berbicara, hingga merembet pada Anjani yang tadi panik dan tergopoh-gopoh masuk ke dalam rumah karena ulahku yang gagal mengendap-endap.

Malu aku! Jika seperti ini, untuk apa latihanku siang-malam di bawah terik matahari dan hujan lebat itu!?

Tidak berhenti di situ saja. Bapak Anjani juga sangat baik hingga membuatku sungkan untuk menolak ajakannya. Akhirnya, meski dalam hati aku sudah cukup nyaman dan puas untuk menggunakan depan rumah Anjani. Ajakan bapak yang menginginkanku untuk masuk ke dalam rumah pun tak bisa kutolak. Ini kali pertamaku menginjakkan kaki di rumah seorang gadis yang selama ini selalu kubenci tanpa sebab. Kuhindari tanpa kesalahan satu pun yang ia buat. Masa bodoh!

Tatapanku langsung tertuju pada sebuah figura foto yang berukuran sedang. Figura tersebut terletak tepat di kursi kecil yang berada di samping tempat duduk kayu yang kini kududuki. Di sana, dapat kulihat dengan jelas. Wajah Anjani yang sumringah. Senyum dengan kedua lesung pipitnya memang memberikan kecantikan tersendiri yang natural dan khas pada dirinya. Bajunya.. putih abu-abu. Kutebak, ini mungkin foto kenangan bersama kawan-kawannya.

BERBATAS (Bertanya Balas atau Lepas) [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang