2014, Di Sebuah Desa Kecil | Binar Anjani
Mengitari hamparan ladang dengan tanaman tandus merupakan kebiasaanku. Tak hanya mengitarinya sambil bersenandung, akupun juga terkadang menyapa para petani ladang yang tengah mencabuti rumput-rumput kering tak berguna itu. Mungkin sebentar lagi musim hujan tiba.
Disitulah.. rezeki kami, orang-orang ujung negeri mulai melimpah. Hanya hujan yang turun dari langitlah yang menjadi harapan kami selepas musim panas.
Aku kembali ke rumah dengan menuntun sepedaku. Sebenarnya bisa saja aku menaikinya. Namun agaknya kurang sopan karena sebentar lagi aku akan melewati markas para pengabdi negeri yang begitu kukagumi. Disana sudah menyambutku.
Senyum ramah Bang Adin
Kekonyolan Bang Dwiki
Kewibawaan seorang pimpinan muda yang biasa kupanggil Bang Feri
Dan, yang terakhir.. si datar, dingin triplek Bang Alwi.
Keempat orang tersebut memang dapat kukategorikan satu geng. Memang mereka acap kali bersama setiap hari. Mengabdikan beberapa bulannya di desaku ini. Semoga betah ya Abang-Abangku. Ex-Bang Alwi!
Bukannya aku membenci Bang Alwi. Hanya saja, aku bukan tipe orang yang akan luluh dengan lelaki-lelaki dingin dan irit bicara bahkan irit tersenyum sepertinya. Padahal kata Pak Ustadz-ku ketika mengaji rutinan tiap malam jum'at sore, "Senyum di hadapan saudaramu itu shodaqoh."
Seperti sekarang ini. Bang Adinlah yang mendekat dan menyapaku. "Kenapa lagi sepedamu Anjani? Rusak 'kah?"
Begitu perhatiannya Bang Adin padaku. Namun sayangnya, gosip yang kudengar dan beredar dikalangan anak gadis desaku. Bang Adin sudah bertunangan sebelum berangkat satgas di desaku. Oke.. aku tak mau menjadi wanita perebut. Cukuplah kekaguman saja yang aku tunjukkan. Selebihnya kupercayakan takdir jodohku di tangan Tuhan.
"Nggak kok Bang. Sungkan kalau mau naik sepeda. Ada om-om yang lagi kerja bersihkan jalan," jawabku dengan senyum manis andalanku. Kedua lesung pipitku kerap membuat para jejaka di desaku klepek-klepek. Tak jarang Bang Dwiki akan menggodaiku.
"Dek-dek. Senyummu itu loh.. kalau disandingkan dengan gula jawa, kalah gulanya!"
Nahkan, baru saja aku membatin. Bang Dwiki selalu saja seperti itu. Berbeda dengan Bang Alwi yang sibuk sendiri dengan ponsel di tangannya. Sesekali ia mengangkat ponselnya. Mencari sinyal mungkin..
Aku memberi sedikit dorongan semangat pada Bang Adin dan Bang Dwiki. Tak lupa sang komandanpun juga, Bang Feri. Lalu mulai menuntun sepedaku lagi. Hingga jarakku dan Bang Alwi semakin dekat.
Melihat wajah Bang Alwi yang tampak sedang murung dan kesalpun. Hatiku tergerak untuk bertanya, "Bang Alwi, kenapa? Tidak ada sinyal ya?"
"Hm."
Lihat, hanya sebatas itu saja dia menyahutiku. Astaga! Baru saja tadi aku berdalil dengan senyum. Setidaknya senyum saja. Daripada ini? Menjawab hanya berdehem, tanpa menatap lawan bicara pula. Apakah itu sopan?
Tentu saja tidak!
"Bang Alwi kalau mau mencari sinyal, bisa ikut saya naik. Rumah saya di atas gunung. Mungkin ada nanti sinyalnya. Meskipun tidak se-lancar di kota sih.."
Tak mendapati balasan apapun dari Bang Alwi. Akupun menghela napas. Sudah kubilang bukan. Manusia triplek ini tidak akan pernah membalas ucapanku. Padahal akupun kali ini bukan sekedar menyapa ataupun berbasa-basi. Aku menawarkan bantuan lhoo ini..
Kembali aku menuntut sepedaku. Tak kusangka sebuah langkah kaki ikut menyertai tiap langkahku. Kemudian langkah kaki di belakangku itupun kini menyamai langkahku. "Saya ikut kamu."
Entah mengapa hatiku bak tersiram air dingin. Sangat sejuk mendengar kata Bang Alwi barusan. Ngomong-ngomong ini kali pertamanya Bang Alwi mau menggubrisku. Selama sebulan bertugas di sini, ia sama sekali menutup akses untukku. Padahal niatku tidak macam-macam. Dan, satu lagi. Aku tidak modus seperti kawan-kawan gadisku lainnya.
Sesampainya di depan rumahku. Bang Alwi menunjukkan senyum sumringahnya. Ya mungkin karena ini kali pertamanya Bang Alwi bertandang kemari. Setelah beberapa kali ia menolak ajakan lettingnya itu.
Jika sudah melihat pemandangan indah di depan mata saja, sedari tadi aksi memotret dengan ponsel canggihnya itu seakan tak berhenti. Ia bahkan tak menyadari aku yang sudah kembali mendekatinya dengan membawakan teh hangat dan juga pisang goreng buatan ibu siang ini.
"Diminum Bang.." ucapku mempersilahkan.
Ia pun dengan santainya mengambil secangkir teh hangat itu dari tanganku. Menyeruputnya perlahan. Sembari menikmati semilir angin di depan rumahku yang setelah terdapat teras luasnya, langsung berhadapan dengan jurang.
"Alhamdulillah.." Kali ini senyumnya semakin lebar saja tatkala memandangi ponselnya itu.
Aku yang penasaranpun mencoba bertanya, "Kenapa Bang?"
"Pesan saya pada Ibu terkirim."
Aku hanya membulatkan bibirku membentuk O dan manggut-manggut saja. Memang yang namanya kerinduan pada Ibu itu kadang begitu menyiksa dan harus segera dituntaskan.
Tak lama kemudian, Bang Alwi bangkit dari duduknya di sebuah batang pohon yang telah ditebang oleh bapak.
"Saya tidak izin tadi pada Komandan Feri. Saya turun," pamitnya.
Tanpa ada kata terima kasih, ia pergi meninggalkanku yang hanya dapat menatapi punggungnya yang semakin mengecil. Bukannya aku tak ikhlas. Hanya saja, aku sedikit kecewa ketika ia tak mengucapkan kata 'terima kasih'. Padahal karena ajakanku juga ia dapat mengirim pesan pada ibunya.
"Astaghfirullah.." Aku lagi-lagi menghela napas dan mengelus dada. Aku merasa berdosa karena menolong dengan tidak ikhlas.
"Kok ada ya manusia dingin dan kaku seperti dia," gumamku seorang diri, sekali lagi memuaskan rasa kecewaku terhadapnya. Ampuni dosaku Ya Allah!
Kuabaikan tentangnya yang pergi hanya dengan berbekal kata pamitan singkat dan kaku itu. Nyatanya pemandangan depan rumahku ini mampu membuatku kembali melengkungkan bibirku membentuk sebuah senyuman. Sejuk sekali hidup di sini. Meskipun desaku jauh dari kata kemajuan teknologi. Tetapi aku nyaman tinggal di sini..
***
Next? Vote dan komen ya💚
KAMU SEDANG MEMBACA
BERBATAS (Bertanya Balas atau Lepas) [Completed]
RomanceKisah Binar Anjani yang tanpa sadar mengagumi sosok Alwitra Dwitama. Kekagumannya tersebut lantas berujung pada rasa cinta dalam diam. Keduanya terpisahkan karena tugas Alwi telah usai. Hingga Tuhan kembali mempertemukan lagi keduanya di kondisi y...
![BERBATAS (Bertanya Balas atau Lepas) [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/232445477-64-k783807.jpg)