BAB XXXII

3.4K 293 16
                                        

Menghadap, 2015. Alwitra Dwitama

Ditertawakan habis-habisan oleh Dwiki. Sepertinya aku salah menjadikannya sebagai tempat mencurahkan segala isi hatiku. Tentang apa yang kurasakan. Lagi-lagi aku kecewa karena tak bisa mendapatkan hati Mita. Gadis itu nyatanya masih tetap menganggapku sebagai sahabatnya saja. Tidak lebih dan kurang!

Aku semakin kesal dan membenci keadaan. Tawa Dwiki tak henti-hentinya menggelegar. Bahkan, sprei yang membalut kasur empukku sudah berantakan karena lettingku itu berguling-guling. Dipikirnya lapangan tempat kami berlatih apa!?

"Ki!? Berantakan semua ini!! Ngaleh!" (Pergi!)

"Huahahahaha.."

"Bang!! Bang Alwan! Adikmu galau!"

"Sek-sek, kudu cepak-cepak kipas gedhe ki. Soale hawane puanas, Bang!!" (Sebentar-sebentae, harus siap-siap kipas besar nih. Soalnya hawanya panas banget, Bang!!)

Teriakan Dwiki tetap menggelegar meski sudah kuusir ia hingga keluar kamar. Samar-samar juga terdengar suara Bang Alwan.

"Heh! Sudah malam teriak-teriak. Belum tahu rasanya jungkir?"

"Siap salah, Bang. Adik kesayangan Bang Alwan, galau di kamar. Coba dilihat. Takutnya lagi nyemil kapuk di bantal!"

Sial!

"Ki, kalau mau duel gelud besok aja di batalyon!" teriakku tak peduli akan terdengar oleh seluruh anggota keluargaku.

Memang sudah biasa. Bila IB tidak hanya aku saja yang pulang. Makhluk lain yang turut ikut ke rumahku-lah yang akan meramaikan rumah ini.

"Ada apa to, Le? Kok teriak-teriak. Alwi sudah makan belum? Makan dulu, Le.."

Suara lembut ibuku terasa menenangkan. Sesegera mungkin aku keluar dari dalam kamar. Meski di Mall tadi sempat makan bersama Mita. Rasanya aku kembali lapar ketika melihat meja makan ini masih dipenuhi dengan berbagai macam lauk-pauk. Aku rindu masakan ibu!

"Bang, aku kira kira orang galau nggak nafsu makan," sindir Dwiki padaku. Tetapi justru mengajak berbicara Bang Alwan yang tengah memasukkan keranjang burung peliharaannya ke dalam rumah.

Ngomong-ngomong soal peliharaan. Aku merasa masih berduka atas kepergian ikan kesayanganku. Bisa-bisanya Bang Alwan tega melupakan memberi makan ikan. Sementara sekarang ini dirinya asyik berdua-duaan dengan burung peliharaannya.

"Kenapa matamu ngelihatin burung peliharaan Abang? Kepengin pelihara burung juga?"

"Nggak! Malas."

"Dia maunya menafkahi anak orang, Bang. Bukan memelihara burung!"

"Siapa emangnya? Alwi punya pacar?" tanya Bang Alwan tampak sangat meremehkanku.

Sontak aku mendelik pada Dwiki. Memintanya agar cukup diam saja. Mengabaikan tanya abangku barusan. Tetapi, dasarnya bibir Dwiki lemes!

"Nggak jadi punya, Bang! Ditolak barusan."

"Sama siapa?" Bang Alwan mengerutkan dahinya. Aku sudah menduga. Abangku pasti akan kepo! Pasi Intel lewat.

"Mita, Bang!"

"Apa, Le? Ibu nggak salah dengar?"

Nah, kan.. bencana.

Ini semua gara-gara bibir lemes  Dwiki. Memang siap beradu otot denganku dia. Awas saja bila besok kembali ke batalyon. Sekrup-sekrup tidak akan mampu menyatukan tulang-tulangmu yang patah karena ulah tanganku, Ki!

BERBATAS (Bertanya Balas atau Lepas) [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang