Insiden, 2016. Binar Anjani.
Rutinitas pagiku sebelum berangkat kuliah untuk jadwal pagi hari ini. Aku membantu ibu untuk mengambil tugas berbelanja ke toko sayur yang ada di persimpangan jalan sana. Dengan mengendarai sepeda yang kubeli dari menyisihkan sebagian uang dari mengajar les anak-anak SD sekitar rumahku ini. Memang sih, tidak baru. Tapi masih sangat bagus dan tidak terlihat jika sepeda yang kukayuh ini merupakan sepeda bekas.
Sembari bersenandung kecil dan menikmati sinar matahari yang tampak masih malu-malu itu, aku sangat senang berkeliling area rumahku. Semua orang-orang yang kusapa pun tampak ramah. Beberapa kali mereka bertanya tentang tujuanku, berkali-kali pula aku memberikan senyum manisku pada mereka dan menjawab, "Belanja sayur, Bu!"
"Hati-hati.."
Bagaimana bisa mereka mengenalku dengan cepat sementara aku belum setengah tahun tinggal di area sini?
Syukurlah.. tidak terlalu sulit bagiku menyesuaikan diri di tempat kelahiranku ini. Orang-orang di sini masih sama seperti dulu. Masih sangat ramah dan mengenalku cucu dari bapak kepala desa yang dahulu pernah menjabat dan berjaya pada masanya. Ya, tempat tinggalku sekarang ini memang terletak tidak jauh dari rumah Kakungku dahulu. Namun sayangnya, rumah itu sekarang ini sudah disulap menjadi rumah megah tetapi masih meninggalkan ciri khas bangunan yang dibangun oleh Kakungku. Ya, gerbang depan rumah itu masih sama seperti foto ibuku bersama kedua orang tuanya—Kakung dan Utiku.
Sebentar lagi aku akan melintasinya. Pemiliknya juga sangat ramah dan mengenalku baik. Beliau seseorang yang berbeda keyakinan dengan warga di sini, namun jangan tanyakan tentang sikap toleransinya. Benar-benar patut dijadikan contoh bagi umat di dunia ini.
Kusiapkan senyum terbaikku bilamana sebentar lagi kulihat beliau menyapu halaman rumah.
BBBRRUUKKKK
Aku terjatuh ke aspal dalam waktu yang begitu cepat. Penyebabnya adalah sebuah motor yang dituntun oleh seorang pria yang tidak mau melihat ke samping kiri dan kanannya. Nyelonong!
"Ya Tuhan! Anjani..kamu tidak apa-apa?" tanya Pak Hoshea—pemilik rumah almarhum Kakungku saat ini.
Masih syok karena kejadian yang terjadi secara tiba-tiba itu. Aku memegangi kepalaku yang sempat terbentur. Sakitnya, masyaallah! Ingin sekali bibirku mengeluarkan kata-kata kasar untuk memaki pria yang sembarangan menuntun motornya keluar dari gerbang rumah Pak Hoshea itu. Tapi sebisa mungkin kutahan, karena kulihat ia tidak kabur. Justru berjalan mendekatiku kini. Kulihat ia mengulurkan tangan padaku, sedangkan Pak Hoshea mengecek sepedaku.
Saat kuterima uluran tangannya. Kudengar ia bergumam, "Berat banget sih.."
Tunggu dulu..
"Bang Alwi!? Abang n—ngapain di sini?"
Sontak aku terkejut. Sepagi ini aku tidak pernah menyangka bila Tuhan akan menyuguhkan pemandangan wajah tampannya. Bang Alwi berdiri di sampingku kini. Ia sudah rapih mengenakan seragamnya. Lalu, untuk apa ia berada di rumah Pak Hoshea? Apa motor yang dituntunnya itu miliknya?
"Nggak usah minta diceritakan ya, panjang soalnya. Lututmu nggak kenapa-kenapa 'kan?"
Aku bukan Anjani gadis desa ujung negeri lagi. Sekarang, aku—Binar Anjani. Gadis Solo yang kembali ke tempat kelahiranku untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi demi mewujudkan cita-citaku dan membuka lembar baru di sini. Tidak akan ada lagi aku yang mengalah seperti dahulu! Apalagi pada pria yang kucintai ini. Ya, meskipun aku mencintainya..tetapi bolehkah aku memanfaatkan insiden kecil ini untuk menarik perhatiannya?
"Sakit. Berdarah, Bang.."
Aku mencoba berjalan. Akan tetapi, ini memang benar sakit. Sepertinya ada yang kesleo. Aduh, bagaimana caraku pulang ke rumah. Belum lagi, aku kepikiran segala list belanjaan ibuku. Ibu pasti menunggu di rumah. Beliau juga belum sarapan dan menunggu belanjaanku untuk dimasaknya. Ini semua karena Bang Alwi!
"Kesleo Bang!"
"Kalau kamu masih pengen bisa jalan, jangan minta saya untuk urut kakimu. Hanya mengingatkan," katanya dengan wajah begitu berdosa. Aku tahu, ia merasa bersalah saat ini. Pasalnya, aku berpura-pura kesakitan pun dengan kondisi yang mendukung, Teman-teman..
Cara paling berkelas untuk mendapatkan perhatian orang yang kita cinta adalah dengan berpura-pura kesakitan. Akan tetapi ada bukti nyata yakni, luka pada diri! Jangan diambil pelajaran ya, ini tidak patut disengaja. Sakitnya masyaallah terasa!
Tapi pagi ini sebuah insiden yang sama sekali tidak terduga apalagi disengaja. Jadi, mungkin inilah sebuah jalan dari Tuhan atas segala do'aku untuk Bang Alwi. Terima kasih, Ya Allah. Nggak apa-apa deh lutut berdarah, kaki kesleo, sepeda lecet-lecet. Nggak apa-apa..ikhlas adik, Bang..
"Diminum, Anjani.." ucap Pak Hoshea yang ternyata beliau ke dalam rumah untuk mengambilkanku segelas air putih ini. Segera kuteguk air tersebut hingga sisa setengah isinya.
"Terima kasih, Pak Hoshea."
"Pagi-pagi seperti ini, pasti kamu mau belanja ya? Bapak antar pulang saja ya? Kakimu kesleo, nggak mungkin kamu naik sepeda lagi untuk pulang. Lagipula, sepedamu juga rantainya putus waktu Bapak cek tadi. Masalah belanjaan, biar nanti Bapak minta Mbak Ester yang mengantarkan ke rumahmu.." jelas Pak Hoshea panjang lebar. Setiap tawaran baiknya penuh dengan ketulusan. Sebenarnya, hati beliau ini terbuat dari apa?
"Tidak usah repot-repot, Pak. Tidak apa-apa, saya masih bisa berjalan. Saya titip sepeda saya di sini ya, Pak? Nanti sore saya ambil.."
"Lha terus?"
"Saya mau jalan kaki saja belanja di depan sana. Kasihan ibu saya di rumah sudah menunggu belanjaan saya," ucapku dengan jujur. Kali ini bukan karena modus agar dibantu Bang Alwi ya! Tidak sama sekali. Lagipula, mana mungkin? Kalau pun mungkin, itu berarti anjing galak Pak Hoshea berhasil meniupkan hawa perdamaian di sini!
"Kamu yakin?"
Kulihat tatapan mata Pak Hoshea menatapku penuh dengan kekhawatiran. Seolah-olah beliau tengah mengkhawatirkan Mbak Ester—putri pertama Pak Hoshea. Kalian penasaran dengan Bu Hoshea? Sayangnya, beliau telah berpulang ke Tuhan beberapa tahun yang lalu. Yang tersisa di rumah ini hanyalah Pak Hoshea dan keempat putra-putrinya.
"Yakin, Pak."
"Anjani?"
"Oh ya, bagaimana bisa kalian saling mengenal? Bapak sampai lupa mau bertanya karena saking syoknya dengan kondisi kamu, Anjani."
"Ceritanya panjang, Pak. Yang jelas, kami mengenal baik sebagai teman. Teman jauh."
Pak Hoshea hanya manggut-manggut mengerti. Aku dan hati kecilku mendumel. Bang Alwi menganggapku teman jauh? Selama ini 'kan kami selalu dipertemukan di momen-momen yang tidak terduga. Bagaimana bisa ia membohongi orang sebaik Pak Hoshea!?
"Anjani, biar saya yang belanjakan belanjaan ibumu."
"A—abang yakin?"
"Iya. Kamu tunggu di sini saja. Jangan kemana-mana!" Aku hanya mengangguk saja. Masih belum percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Seorang Alwitra Dwitama, pangkat prajurit dua—repot-repot membantu Binar Anjani—gadis yang selama ini selalu saja dihindarinya! Tidak disukainya! Intinya aku yang bagian jelek-jeleknya!
"Nanti juga saya pinjam motor Pak Hoshea untuk mengantarkan kamu pulang, karena motor saya masih mogok. Boleh 'kan, Pak?"
"Boleh sekali! Modus yang tertata halus, Nak."
Modus? Bang Alwi modus padaku?
Sepertinya dunia memang sudah merestui kedekatanku dengannya? Hingga Pak Hoshea menyimpulkan demikian. Wah, bisa masuk ke dalam catatan sejarah hidup seorang Binar Anjani. Haha! Sementara aku mesam-mesem sendiri membayangkan modusnya Bang Alwi. Kusadari raut wajah pria itu berubah datar kini. Oke, aku salah. Aku mengembalikan ekspresi wajahku seperti semula—ekspresi kesakitan!
***
Jangan cuman senyum-senyum yaaa
Komen yang banyak biar aku semangat ngetiknya :v
KAMU SEDANG MEMBACA
BERBATAS (Bertanya Balas atau Lepas) [Completed]
RomansaKisah Binar Anjani yang tanpa sadar mengagumi sosok Alwitra Dwitama. Kekagumannya tersebut lantas berujung pada rasa cinta dalam diam. Keduanya terpisahkan karena tugas Alwi telah usai. Hingga Tuhan kembali mempertemukan lagi keduanya di kondisi y...
![BERBATAS (Bertanya Balas atau Lepas) [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/232445477-64-k783807.jpg)