Bab 3 - Nomor aneh

3K 303 0
                                        

Lyn masih tidak percaya Satya pergi secepat itu. Dia juga tidak percaya kalau Satya mati karena bunuh diri. Dia sudah mengenal pria itu selama dua tahun dan hubungan mereka cukup dekat. Tidak ada alasan untuk Satya melakukan hal sia-sia seperti itu. Apalagi dia masih memiliki keluarga yang amat dia cintai. Dia juga masih memiliki satu adik yang harus ia sekolahkan hingga lulus kuliah. Baginya, sangat tidak masuk akal kalau Satya mengakhiri hidupnya dengan cara mengenaskan seperti itu. Apalagi pria itu pernah mengatakan pada Lyn, bahwa dia sangat takut ketinggian.

"Tidak ada tanda-tanda kekerasan. Justru kami menemukan sebotol obat penenang di kantong saudara Satya. Kesimpulan sementara, saudara Satya bunuh diri karena depresi. Tapi, keputusan resmi akan keluar setelah hasil otopsi selesai," ucap petugas Arsen. Dia adalah orang dari kepolisian yang bertanggung jawab menyelidiki kasus Satya hingga tuntas.

"Itu tidak mungkin, Pak. Satya tidak memiliki alasan untuk melakukan itu. Dan selama saya mengenalnya, saya tidak pernah melihat dia memakai obat-obatan seperti itu. Pasti ada sesuatu di balik kasus ini."

Lyn yang diminta datang  ke kantor polisi sebagai saksi — karena Satya datang ke gedung itu untuk menemui dirinya — tidak puas dengan  analisis yang petugas itu ungkapkan.

"Kenapa anda begitu yakin?" tanya petugas berusia empat puluh tahunan itu. Dia menatap Lyn dengan sorot curiga. "Dari rekaman cctv, tidak ada orang lain yang menaiki atap selain Satya di hari itu."

"Kemarin, di hari kejadian saya menemukan ini di lift gedung apartemen."

Lyn mengeluarkan ponsel milik Satya dari dalam saku celananya.

"Ini ponsel milik Satya," ucap Lyn menjawab kebingungan di wajah petugas itu. "Mungkin dia tidak sengaja menjatuhkannya. Tapi, aku menemukan nomor aneh yang meneleponnya sesaat sebelum waktu kejadian."

Petugas Arsen mengambil ponsel Satya dan menelisiknya sebentar.

"Anda tahu password-nya?"

Lyn mengangguk. Kemudian, petugas Arsen memberikan ponsel itu kembali pada Lyn agar gadis itu membukanya.

Setelah membuka kunci ponsel itu, Lyn tidak memberikannya langsung pada petugas Arsen. Dia membuka panggilan masuk dulu dan menunjukkan sebuah kombinasi nomor aneh yang sempat menghubungi Satya. Bahkan dari riwayat panggilan itu bisa dilihat bahwa Satya sempat menanggapi panggilan itu selama lebih dari dua menit.

"Kombinasi nomornya aneh, bukan? Aku sudah memeriksa di internet. Tapi, aku tidak menemukan kombinasi nomor seperti ini bahkan di belahan dunia mana pun."

Petugas Arsen juga dibuat heran. Selama hidupnya, dia baru melihat kombinasi nomor ponsel seperti itu. Nomor yang berada di panggilan masuk itu diawali angka 9 kemudian diikuti oleh angka 1 sebanyak empat belas digit. Totalnya menjadi lima belas digit.

Seperti ini, +9111111111111111.

"Menang aneh," gumam petugas Arsen. Kemudian dia menatap Lyn lamat-lamat. "Kenapa anda baru memberitahu tentang ponsel ini sekarang?"

Rasanya Lyn ingin menjambak kepala botak petugas itu. Berhubung kepala itu tidak memiliki rambut, Lyn lebih memilih untuk menjambak kumis lebat orang itu saja. Soalnya dia sangat kesal. Dari tatapan orang ini kepada dirinya, seolah mengatakan bahwa Lyn adalah seorang penjahat yang perlu dicurigai.

"Kemarin saya masih syok, Pak. Apa saya masih bisa berpikir untuk memberikan barang ini langsung ke polisi? Asal bapak tahu. Untuk ke sini saja saya masih harus mengalami guncangan batin yang hebat. Tapi bisa-bisanya bapak menatap saya dengan sorot seperti itu? Apa bapak mencurigai saya?"

Petugas itu malah mengangkat bahu.

"Semua orang bisa menjadi tersangka."

"As—" Hampir saja Lyn mengeluarkan kata-kata kasar untuk petugas itu. Tapi untungnya, dia masih bisa menahan diri. Lyn menghela napas guna menetralisir rasa kesal yang ia rasakan.

Killer, Lover! [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang