Kalau ada typo, tolong kasih tahu ya guys.... Aku belum sempat ngedit.
Terimakasih....
Happy reading
🍁
Semua berjalan sesuai rencana. Edwards bersedia menjadi peserta debat untuk menggantikan Dimas dan saat diuji pun anak itu mampu menyelesaikan ujiannya dengan nilai nyaris sempurna. Tentu saja hal itu membuat semua guru—terutama Bu Lyn dan kepala sekolah—lega. Akhirnya mereka tidak perlu pusing lagi memikirkan pengganti yang cocok untuk menggantikan Dimas untuk lomba nanti. Keberadaan Edwards benar-benar menyelamatkan sekolah mereka.
Dua hari sebelum waktu seleksi, ketiga murid yang akan mengikuti lomba dibebaskan dari tugas sekolah. Mereka lebih difokuskan untuk mempelajari dan memperdalam pengetahuan mengenai materi yang kemungkinan akan dibahas dalam seleksi maupun lomba nanti. Tentu saja mereka juga berlatih pengucapan dan bagaimana cara melakukan debat yang baik dan benar.
Lyn yang sedang sibuk menjelaskan bagaimana cara agar argumen kita bisa diterima dengan baik oleh orang lain, berhenti saat mendengar ponselnya berbunyi.
"Sebentar anak-anak, ibu harus mengangkat panggilan ini dulu," ucap Lyn meminta izin kepada ketiga siswanya kemudian keluar dari lab. Bahasa.
Citra yang duduk di antara Edwards dan Peju langsung meletakkan pulpennya saat Lyn keluar. Siswa perempuan itu lanjut mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya dan langsung menyodorkan benda itu kepada Edwards yang duduk di samping kirinya.
"Excuse me, bisa ketik nomor Kakak di ponsel aku?" ucap gadis itu tanpa basa-basi kepada Edwards.
Edwards yang sejak tadi fokus menatap Lyn yang sibuk menelepon melalui jendela kaca, menatap ke arah ponsel itu tanpa minat.
"Buat apa?" tanya Edwards.
"Buat nanya-nanya kalau nanti ada materi yang belum aku paham," jawab Citra beralasan. Padahal, dirinya memang sudah mengincar nomor cowok itu dari jauh-jauh hari. Untuk informasi saja, Citra sebenarnya masuk ke dalam jajaran penggemar Edwards. Selama ini dia hanya menjadi pengagum dalam diam. Tapi, melihat cowok itu yang sejak kemarin berada dalam radius jangkauannya, sepertinya Citra tidak akan menjadi pengagum rahasia lagi. Dia berencana akan menunjukkan rasa sukanya pada Edwards secara terang-terangan. Jujur saja, Citra sangat bersyukur akan kaki Dimas yang patah sehingga bisa membuat cowok yang ia sukai berada di dekatnya kini.
Edwards berpikir sejenak. Kemudian cowok itu tersenyum. "Oke, mana ponsel kamu?"
Senyum lebar di wajah Citra merekah seketika. Dia memberikan ponselnya pada Edwards.
"Sudah, ini," Edwards mengembalikan ponsel itu kepada pemiliknya setelah mengetikkan nomornya.
"Ah, makasih Kak Edwards," ucap Citra sangat riang. Ini benar-benar hari keberuntungannya.
🍁
"Aditya, panggil adikmu untuk makan malam bersama."
Seperti biasa, jika Bowo yang menyuruh, Aditya akan patuh dan langsung mengerjakan apa yang Kakeknya perintahkan.
"Baik, Kakek," ucap Aditya sopan kemudian langsung melangkah menuju lantai dua di mana kamar adiknya berada.
"Malvin? Malvin?"
Begitu tiba, Aditya langsung mengetuk pintu kamar adiknya itu.
"Malvin? Kakek menyuruhku memanggil mu untuk makan malam bersama. Malvin? Kamu di dalam, kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Killer, Lover! [TAMAT]
Ficción GeneralSMA SANJAYA kedatangan siswa baru dari Amerika. Dia bernama Edwards Robertson. Dia baik, tampan, dan pintar. Hanya saja dia sedikit tertutup dan tidak suka bergaul. Namun, hal itu justru membuat orang-orang semakin penasaran akan sosoknya. Dia menja...
![Killer, Lover! [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/260229322-64-k287116.jpg)