Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Bab 40 - Berkunjung diam-diam

585 75 3
                                        

Sudah beberapa menit sejak ia terbangun, namun rasa pening di kepalanya masih amat terasa. Lyn memijit pelipisnya. Berharap, tindakan itu bisa mengurangi setidaknya sedikit dari rasa pening di kepala. Namun, bukannya mereda, rasa pening itu semakin menjadi-jadi. Suara pintu yang terbuka mencuri perhatian Lyn. Dia hampir tidak mengenali Edwards yang memasuki kamar karena wajah pria itu terlihat blur dalam pandangan. Namun, mengingat selain dirinya hanya ada Edwards dan Ibunya yang tinggal di rumah ini, mau tidak mau Lyn mengambil kesimpulan bahwa pria tinggi yang baru saja memasuki kamar itu memanglah Edwards. Memangnya siapa lagi?

"Minumlah ini, maka kamu akan membaik," ucap orang itu. Dan sudah jelas bahwa itu adalah suara Edwards.

Lyn dengan ragu mengambil gelas yang Edwards sodorkan padanya. Aroma minuman dari dalam gelas itu sangat menusuk. Lyn tidak tahu apa sebenarnya yang ada di dalam gelas itu. Memikirkan kemungkinan bahwa Edwards bisa saja meracuninya membuat Lyn enggan untuk meminum minuman itu.

"Itu hanya ramuan herbal. Akan mengurangi rasa pening di kepalamu. Tidak perlu takut untuk meminumnya," jelas Edwards yang sepertinya dapat membaca apa yang sedang Lyn pikirkan.

Tetap saja, Lyn enggan untuk meminumnya. Gadis itu hanya menggenggam gelas itu tanpa berniat meminumnya.

Edwards menghela napas panjang mencoba bersabar. Dia merampas gelas itu dari tangan Lyn secara kasar kemudian meminumnya sedikit.

"Lihat! Aku sudah meminumnya dan aku baik-baik saja," ucap Edwards gusar dan menaruh paksa gelas itu kembali ke tangan Lyn. "Cepatlah minum. Aku sudah bersusah payah membuatnya. Jangan buang-buang waktu. Aku harus memastikanmu meminumnya sebelum aku berangkat sekolah atau efek obat bius itu tidak akan hilang dari tubuhmu."

Setelah Edwards mengatakan hal itu, barulah Lyn mau meminum minuman itu.

"Habiskan!" pinta Edwards. Namun, rasa pahit dari minuman itu membuat Lyn enggan untuk menghabiskannya.

"Aku bilang habiskan!" teriak pria itu. Dia menjejalkan gelas itu ke dalam mulut Lyn dan memaksa gadis itu untuk menelan semuanya. Jadilah Lyn tersedak dan terbatuk-batuk akibat dari perbuatan pria itu.

"Makanya jangan banyak bertingkah. Dengan begitu, baik kamu dan aku, kita bisa hidup bersama dengan damai," ucapnya kemudian mengambil kembali gelas kosong itu.

"Sebentar lagi ibuku datang untuk mengantarkan sarapan. Aku tidak ingin mendengar bahwa kamu tidak menghabiskan makananmu lagi. Mengerti?" ucap Edwards begitu mengintimidasi.

Lyn yang belum sadar sepenuhnya hanya bisa mengangguk lemah.

"Goodgirl," gumam pria itu sembari mengacak rambut Lyn pelan. Kemudian beralih mengecup kening gadis itu sebelum beralih pergi untuk berangkat ke sekolah.

🍁

"Edwards! Edwards! Tunggu!!!!"

Setelah usaha kerasnya memanggil dan mengejar Edwards sejak tadi, akhirnya Airin bisa juga menghentikan langkah cowok itu di koridor sekolah.

"Ada apa?" tanya Edwards bingung dengan sebelah alih melengkung.

"Sebentar," gumam Airin dengan suara bergetar karena hampir kehabisan napas. Gadis itu diam sejenak, menarik napas dalam-dalam untuk menormalkan detak jantung dan juga pernapasannya yang tidak karuan karena baru saja berlari-lari.

"Ada yang mau gue omongin sama Lo," lanjut Airin dengan suara yang masih sedikit ngos-ngosan.

"Apa?" tanya Edwards tidak seramah biasanya.

"Kalung gue ilang," ucap Airin.

"Kalung? Apa hubungannya dengan ku?" tanya Edwards masih sedikit bingung.

Killer, Lover! [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang