"Gimana? Ada sesuatu yang mencurigakan yang kamu lihat di rumah itu?"
"Sejauh ini belum ada, Kak. Tapi, saya akan usahakan untuk mencari lebih dalam lagi," jawab Anhar dengan suara pelan. Meski hanya ada dirinya seorang di kamar mandi ini, namun dia harus tetap berhati-hati agar tidak ada orang yang mendengar percakapannya dengan Kakak Malvin ini.
"Baiklah. Saya berharap banyak padamu dan teman-temanmu. Jika ada sesuatu yang mencurigakan langsung kabari saya."
Meski Aditya tidak akan melihatnya, tapi Anhar tetap mengangguk. "Lalu, bagaimana dengan Bu Lyn, Kak? Bukankah kita perlu berbicara dengan dia juga? Mengenai foto-foto itu. Saya rasa Bu Lyn juga berhak tahu tentang foto dirinya yang diambil secara diam-diam itu. Dan bisa saja kita mendapat sedikit informasi tentang Malvin darinya." Anhar memberi saran.
"Benar. Saya juga berpikir seperti itu. Itu sebabnya saya sedang dalam perjalanan menuju tempat tinggalnya. Sudah hampir satu minggu dia tidak datang mengajar. Saya selaku perwakilan dari sekolah juga berhak untuk melihat keadaannya, kan?"
Terdengar seseorang yang menggedor-gedor pintu kamar mandi.
"Baiklah, Kak. Saya harus segera kembali kepada teman-teman saya. Saya harap kita bisa segera menemukan titik terang tentang keberadaan Malvin sekarang."
"Baik. Saya tutup teleponnya sekarang."
Anhar bergumam dan di detik itu juga Aditya memutus sambungan teleponnya.
Setelah menyimpan ponselnya kembali ke saku, cowok itu segera berjalan menuju pintu kamar mandi. Dia cukup kaget melihat Cecile berdiri tepat di depan kamar mandi tersebut.
"Lama amat! Di dalam ngapain aja sih lo?" celetuk Cecile begitu melihat wajah Anhar. "Udah buruan keluar, gue udah kebelet banget ini," ungkap cewek itu lagi sembari menarik tangan Anhar agar segera menyingkir dari dalam kamar mandi. Setelah sudah, cewek itu langsung masuk dan tidak lupa untuk mengunci pintu kamar mandi tersebut.
Anhar hanya menghela napas pasrah menghadapi tingkah laku Cecile. Dia mulai berpikir, bagaimana caranya Jovas bisa sangat bersabar menghadapi tingkah cewek itu dulu. Berpacaran dengan Cecile selama hampir setengah tahun tentu bukan hal yang mudah bagi temannya itu. Tapi, meski begitu, Anhar tahu pasti bahwa sebenarnya Jovas belum benar-benar bisa move on dari cewek bar-bar yang centil itu.
Sebelum kembali ke teman-temannya, Anhar menyempatkan diri untuk melihat sekeliling. Area dapur dan sekitarnya nampak biasa saja dan tidak ada yang mencurigakan. Hanya saja, sesuatu dalam diri Anhar mengatakan bahwa ada sesuatu yang menarik di dalam rumah ini. Dirinya ingin menjelajah dan mengeksplor rumah ini lebih dalam lagi. Namun, bagaimana caranya? Apa mungkin Edwards memperbolehkan mereka melakukan home tour?
"Lama amat di toiletnya? Ngapain aja lo?" tanya Jovas berbisik begitu Anhar kembali ke tempat mereka.
"Pertanyaan lo sama noh sama mantan lo. Lama-lama gue curiga kalau kalian sebenarnya jodoh," celetuk Anhar.
Jovas nampak bergidik. "Amit-amit deh," ujar cowok itu gengsi.
"Alah! Gengsi lo gedein. Semua juga tahu kalau lo masih sayang sama tuh cewek," jawab Anhar tidak mau kalah.
Jovas terdiam dan langsung sok sibuk dengan catatan di tangannya.
"Dikit lagi udah selesai nih," ucap Airin menghentikan ketikannya di laptop dan melakukan peregangan sejenak. "Tapi, kok lama-lama gue laper ya?" lanjut cewek itu. Serempak tiga orang di ruangan ini melihat ke arah Edwards.
Edwards yang sibuk dengan buku biologi di tangannya balas menatap mereka. "Kenapa?" tanya cowok itu.
"Airin laper. Gue juga sih," ucap Jovas.
"Terus?" tanya Edwards.
"Kita mau pesen go food. Lo mau juga?" tanya Anhar.
"Boleh. Kalian mau pesen apa?" tanya Edwards.
"Gue mau ayam goreng pake nasi aja sih," jawab Airin.
"Kalau gue nasi padang sih. Terbaik," jawab Jovas.
"Gue ngikut Jovas deh. Kalau lo?" Anhar kembali bertanya pada Edwards.
"Nasi padang itu apa?" tanya cowok itu.
"Nasi padang itu. Nasi terus ditambah rendang dan bermacam-macam gulai yang pokoknya dijamin enak. Cobain deh. Lo enggak bakalan nyesel pokoknya," promosi Anhar pada Edwards.
"Ya sudah. Aku ngikut kalian aja," jawab Edwards.
"Wah, seru nih. Bule makan nasi padang," celetuk Anhar. "Bentar, biar gue pesenin sekarang." Anhar mengambil ponsel dan hendak memesan makanan untuk mereka. Namun, Jovas menahannnya.
"Cecile gimana? Kayaknya dia juga laper deh. Soalnya ini udah siang banget," ucap Jovas mengingatkan akan keberadaan Cecile.
"Cie... mantan perhatian nih," celetuk Airin. "Kenapa enggak balikan aja sih? Kan lumayan, saingan gue bisa berkurang," ucap gadis itu.
"Berisik banget sih lo!" ucap Jovas terlihat malu.
"Cie... cie..." Airin tidak berhenti menggodanya.
"Ya udah deh. Kita tungguin Cecile dulu baru gue pesen makanannya," ucap Anhar kemudian.
Di tempatnya, Edwards mulai resah. Apa yang dilakukan Cecile di kamar mandi selama ini?
"Kalian enggak ngerasa kalau ini sudah terlalu lama?" tanya Edwards tiba-tiba.
"Maksudnya lama? Tugasnya lama? Ya, iyalah, penjabaran materinya sebanyak ini jelas lama lah," jawab Jovas yang bergantian mengetik dengan Airin.
"Bukan. Maksud aku itu Cecile. Bukankah dia terlalu lama di kamar mandi?"
"Mules kali," celetuk Airin, cuek.
"Tapi, apakah selama ini? Udah lewat dua puluh menit loh," ucap Edwards melihat jam di tangannya.
"Rin, coba periksa deh. Jangan-jangan tuh anak ketiduran lagi di kamar mandi," ucap Anhar kepada Airin.
"Lo kok malah gue? Mager ah. Lo aja," jawab Airin kemudian berpura-pura sibuk dengan catatannya.
"Coba periksa dulu lah, Rin. Kalian kan sama-sama cewek. Masa iya, kami yang cowok ke sana," ucap Jovas mencoba membujuk Airin.
Airin menghela napas pasrah. "Berhubung gue orangnya emang baik hati, jadi terpaksa gue harus menuruti keinginan kalian," ucap cewek itu kemudian berdiri dan berjalan malas menuju kamar mandi.
Tidak lama, Airin kembali. Dia langsung duduk di tempatnya yang tadi.
"Loh Airin, Cecilenya mana?" tanya Jovas begitu Airin duduk.
"Enggak tahu deh ke mana. Orang kamar mandinya kosong," ungkap cewek itu kemudian memeriksa ponselnya karena ada pesan yang masuk.
Edwards merasa ada yang tidak beres. "Kalian tunggu di sini. Aku akan mencari dia," ucap cowok itu kemudian berdiri.
Belum ada respon dari teman-temannya, namun Edwards sudah keburu pergi membuat ketiganya heran.
Dan tempat pertama yang cowok itu periksa adalah lantai dua. Di mana, tidak ada seorang pun yang boleh ke sana kecuali dirinya dan ibunya.
🍁
Next?
Jangan lupa tinggalkan jejak ya bestie...
Dan jangan lupa baca ceritaku yang lain juga...
See u...
KAMU SEDANG MEMBACA
Killer, Lover! [TAMAT]
Fiksyen UmumSMA SANJAYA kedatangan siswa baru dari Amerika. Dia bernama Edwards Robertson. Dia baik, tampan, dan pintar. Hanya saja dia sedikit tertutup dan tidak suka bergaul. Namun, hal itu justru membuat orang-orang semakin penasaran akan sosoknya. Dia menja...
![Killer, Lover! [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/260229322-64-k287116.jpg)