Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Bab 4 - Sosok misterius di parkiran

2.7K 284 10
                                        

Jangan tanya dari mana Malvin tahu alamat apartemen Lyn. Dia adalah cucu dari pemilik yayasan di sekolah mereka, dia bisa saja dengan mudah menyusup ke ruang tata usaha untuk melihat data beserta informasi mengenai guru dan murid. Tapi, Malvin tidak pernah melakukan hal tersebut. Hal yang membuat Malvin bisa tahu alamat Lyn adalah, dia sering mengikuti gurunya itu saat pulang sekolah. Bahkan, sebelum berangkat sekolah pun, Malvin kerap kali menunggu Lyn di depan gedung apartemen gurunya itu. Mengikutinya dari belakang hingga mereka benar-benar sampai ke sekolah.

Segila itu seorang Malvin Andreas. Dia juga tidak tahu kenapa dia bisa menyukai gurunya itu sampai segitunya. Padahal banyak gadis seusianya yang menyukai dirinya. Bukannya terlalu percaya diri, tapi dia memang masuk ke dalam predikat cowok tertampan di sekolah.

Perasaan Malvin kepada Lyn memang terdengar sulit. Apalagi mengingat usia mereka yang terpaut cukup jauh, enam tahun. Tapi, bagi Malvin tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Selama perasaannya masih utuh dan dia berjuang keras untuk mendapatkan hati Lyn, kesempatan untuk memenangkan hati gadis itu akan selalu ada.

Saat ini, Malvin telah berdiri di depan unit apartemen Lyn. Sedikit ragu untuk menekan bel di depannya atau tidak. Dia juga kurang yakin jika Lyn ada di dalam, bisa saja gadis itu masih berada di kantor polisi.

"Mal—vin?"

Suara orang itu terdengar ragu. Malvin berbalik cepat. Dia cukup panik saat melihat Lyn tiba-tiba sudah berada di hadapannya. Malvin belum siap.

"Beneran Malvin. Ngapain?"

Lyn yang baru saja pulang dari kantor polisi cukup terkejut mendapati Malvin berdiri di depan apartemennya.

"A-anu, itu," Malvin salah tingkah. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Ini terlalu tiba-tiba.

"Malvin," panggil Lyn lagi.

"Maaf, Bu. Sa-saya,"

Lyn hanya bisa geleng-geleng kepala. Dia tidak tahu dari mana Malvin tahu alamatnya dan untuk apa anak itu datang. Tapi, Lyn yakin kalau Malvin memiliki alasan. Hanya saja anak itu sulit untuk mengungkapkannya.

Menghela napas, Lyn berjalan melewati Malvin. Membukakan pintu dan mempersilahkan muridnya itu untuk masuk. Dia tidak mungkin mengusir Malvin begitu saja padahal muridnya itu sudah jauh-jauh datang.

"Ayo masuk dulu," ajak Lyn.

Mata Malvin seketika membelalak.

"Serius?" tanyanya tidak menyangka.

Lyn mengangguk. "Atau kamu sudah mau pergi?"

Malvin buru-buru menggeleng. Tidak. Mana mungkin dia mau pergi sementara ada kesempatan emas di depan matanya. Hal seperti ini mungkin tidak akan datang dua kali.

"Ya udah, ayo masuk. Sebenarnya ada yang ingin ibu bicarakan dengan kamu," ucap Lyn.

Malvin segera masuk sebelum Lyn berubah pikiran.

Tanpa mereka ketahui, ada seseorang yang mengawasi mereka dari lubang intip pintu yang berada tepat di depan unit milik Lyn. Rahang orang itu nampak mengeras dan telapak tangannya mengepal kuat hingga urat-urat di tangannya terlihat jelas. Orang itu nampak sangat marah dan emosi.

🍁

Lyn menghidangkan secangkir jus jeruk dan beberapa camilan untuk Malvin, kemudian dia duduk tepat di hadapan muridnya itu. Lyn menatap Malvin lamat-lamat membuat Malvin grogi setengah mati. Jakunnya naik turun menahan gejolak aneh yang tiba-tiba menyusup ke dalam dirinya.

Ah, memikirkan fakta bahwa saat ini dia sedang berdua di dalam apartemen ini bersama Lyn membuat pikiran Malvin sedikit menggila. Dia berusaha sekuat tenaga untuk menekan perasaan aneh itu.

Killer, Lover! [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang