Bab 42 - Mencoba Pergi

564 74 7
                                        

"Ini di mana?" tanya Airin melongo melihat gedung bertingkat tiga di hadapannya.

"Rumah gue," jawab Reiki santai ketika tiba di samping cewek itu.

Airin refleks menoleh ke arah Reiki. "Seriusan? Ini rumah lo?" tanya Airin kurang percaya. Dibanding rumah, bangunan di hadapannya ini lebih cocok disebut gedung atau istana saking besar dan mewahnya.

"Kenapa? Lo baru tahu kalau gue ini kaya raya?" tanya Reiki menoleh ke arah Airin. Tatapan mereka bertemu, Reiki tersenyum jahil. "Jadi ... apa sekarang lo udah punya niat jadi pendamping hidup gue?" tanya Reiki sok serius. Cowok itu bahkan mendekatkan wajahnya perlahan ke arah wajah Airin membuat gadis itu mati kutu akibat dari serangan mendadak dan tatapan mematikan dari cowok itu.

"Apaan sih?" ujar Airin mencoba mengambil kembali kendali dirinya kemudian mendorong kening Reiki menjauh menggunakan jari telunjuknya.

"Jadi, lo masih enggak mau sama gue?" tanya Reiki mendramatisi dan menunjukkan ekspresi sedih seolah telah menjadi orang paling tersakiti di dunia.

Airin menggeleng. "Enggak."

"Walaupun setelah melihat kekayaan yang terpampang nyata ini?" tanya pria itu seolah tidak percaya.

"Lebay!" ujar Airin sembari menoyor kepala Reiki.

"Aduh! Sakit tahu!" ringis cowok itu sembari mengelus kepala bekas toyoran Airin.

"Biarin," cuek Airin.

"Tega kamu, Yang!" Reiki terus melakukan dramatisasi yang sudah pasti membuat Airin kesal.

"Yang, yeng, yang! Pala lo peyang! Sekarang jelasin kenapa lo malah ngiring gue ke rumah lo!?" omel Airin meminta penjelasan. Saking takut dan paniknya tadi, dia jadi tidak sadar akan tujuannya dan berakhir mengikuti Reiki ke mana pun motor cowok itu pergi.

"Lah! Mana saya tahu! Tadi saya memang berniat pulang. Saya tidak tahu bahwa anda ternyata mengikuti saya di belakang. Harusnya saya yang bertanya kenapa anda mengikuti saya sampai ke rumah seperti ini?" celoteh Reiki panjang lebar.

Seketika wajah Airin memerah. Hidungnya kembang-kembis dengan kedua telapak tangan yang sudah mengepal kuat di sisi kiri dan sisi kanan badan. Bersiap melayangkan bogem mentah ke wajah bocah prik  di hadapannya ini karena masih berani mempermainkannya di situasi genting begini.

"REI-"

BRUUMMM!!! BRUUMMM!!!

Kedatangan sebuah mobil sedan putih telah menyelamatkan nyawa Reiki. Fokus Airin langsung beralih ke arah mobil sedan itu, melihat dengan saksama siapa orang yang akan turun dari dalam mobil  itu.

Ternyata yang turun dari mobil itu adalah Anhar, kemudian disusul oleh Jovas yang keluar dari pintu kemudi.

'Lah, kenapa dua orang ini muncul juga?' batin Airin.

"Jadi, gini Rin, gue sengaja ngebawa lo ke rumah gue bareng Jovas dan Anhar buat ngebahas masalah tadi. Ini bukan masalah main-main karena hal ini menyangkut nyawa seseoang," Reiki mencoba menjawab kebingungan di wajah Airin secara singkat.

"Sebentar lagi Kak Aditya dan Pengacara Liem juga akan ke sini," Anhar memberitahu setelah tiba di hadapan mereka.

Reiki mengangguk mengerti. Sementara Airin hanya diam terpelongo, tidak mengerti dengan apa yang mereka ucapkan. Pengacara Liem? Siapa dia?

"Kalau gitu kita tunggu mereka di dalam. Kayaknya Airin perlu tahu mengenai masalah ini. Dia bisa menjadi saksi penting dalam kasus ini," ucap Reiki yang terdengar lebih dewasa dari biasanya.

Dan lagi, kenapa jantung Airin malah deg-degan mendengar suara Reiki ini?!

Anhar dan Jovas mengangguk setuju. Mereka pun memasuki rumah Reiki beriringan. Airin menatap ketiga cowok itu satu per satu, bertanya-tanya dalam hati. Ada apa sebenarnya?

  🍁

Pukul satu lewat tengah malam. Lyn terbangun dan mendapati Edwards tertidur nyenyak di sebelahnya. Wajah anak yang tertidur itu terlihat polos. Lugu seperti tidak ada dosa sama sekali.

Lyn akui, wajah Edwards memang tampan. Garis rahang yang sempurna, hidung mancung dan mata indah yang menawan. Siapa saja bisa jatuh cinta pada pandangan pertama. Namun, sayang sekali. Pria berwajah malaikat ini menyimpan jiwa iblis di dalam dirinya. Lyn sebenarnya tidak tahu pasti apa yang membuat Edwards menjadi seperti ini. Dulu, saat ia mengenal anak ini sebagai Gray untuk pertama kalinya, Gray adalah anak baik yang manis. Dan sesungguhnya, Lyn sangat menyayangi Gray seperti dia menyayangi adik kandungnya sendiri. 

Lyn mendengus. Menyayangkan segala hal yang telah terjadi. Dia bahkan belum tahu bagaimana anak ini bisa tiba di negara ini dengan identitas yang telah berubah. Bagaimana seorang Gray Franklyn bisa berubah menjadi Edwards Roberston semulus itu tanpa dicurigai orang-orang?

Lyn refleks menutup mata tatkala Edwards tiba-tiba berdengung dan bergerak dalam tidurnya. Lyn pikir, anak ini terbangun, ternyata dia hanya mengubah posisi tidurnya yang awalnya memeluk pinggang Lyn dan kini beralih membelakangi wanita itu.

Tunggu? Sepertinya ada hal yang Lyn lewatkan.

Lyn mengangkat kedua tangannya ke depan wajah. Kedua tangannya bebas! Tidak seperti biasanya, Edwards selalu mengikat tangannya lagi begitu dirinya hendak tidur. Tapi, kali ini tidak. Mungkin Edwards lupa atau berpikir tidak perlu mengikatnya lagi karena pria itu tidur di sebelahnya. Dia berpikir Lyn tidak mungkin bisa kabur.

Jika benar Edwards berpikir seperti itu, maka dia salah. Lyn akan terus mencoba melarikan diri bagaimana pun caranya. Dia tidak ingin terkurung selamanya seperti ini. Dan tidak ada jaminan anak ini tidak akan menghabisi dirinya di masa depan. Edwards melepaskan tangannya adalah hal yang langka. Dia harus memanfaatkan keadaan ini semaksimal mungkin.

Dengan gerakan hati-hati dan bergerak sepelan mungkin, Lyn berusaha turun dari kasur. Gadis itu berjalan pelan, mengendap-endap menuju pintu. Baru saja Lyn hendak bernapas lega karena tiba dengan selamat di dekat pintu, gadis itu harus kembali menekan pil kecewa karena begitu ia menakan pedal pintu mencoba untuk membukanya, namun tidak bisa, pintu itu terkunci.

Dan yang lebih sialnya, begitu ia berbalik, Edwards sudah berdiri di hadapannya. Dengan senyuman lebar mematikan khas anak itu. Edwards menatap Lyn berbinar.

"Membutuhkan ini, sayang?" tanya anak itu sembari menunjukkan dua buah kunci di hadapan Lyn.

Lyn hanya bisa mematung dan menelan ludah. Habislah dia!!!

🍁

Apakah saya akan double up malam iniiii!???

Killer, Lover! [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang