Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Bab 7 - Setelah Hujan Reda

2.1K 273 10
                                        

Kalau ada typo kasih tau ya, aku belum sempat ngedit. Terimakasih...

🍁

Hujan deras mengguyur kota Jakarta. Lyn membuka jendela apartemennya. Berdiri di sana, tatapan gadis itu menengadah jauh ke langit. Gelap. Suram.

Kenapa harus turun hujan sih?

Padahal Lyn berharap langit cerah malam ini. Dia berharap banyak bintang malam ini. Dia terlalu kesepian. Setidaknya, menatap bintang yang bertaburan di langit bisa mengurangi rasa sepi yang ia rasakan. Tapi, malam ini langit tidak memberikan satu pun bintang untuknya. Hanya ada air yang terus turun dan udara dingin yang lembab. Dia berharap, malam ini cepat berakhir.

Ting tong~~

Ting tong~~

Kening Lyn mengerut dalam. Kali ini siapa lagi yang datang? Pak Jamal lagi atau orang lain? Siapapun dia, Lyn tidak peduli. Mengabaikan bel yang berbunyi, Lyn lebih memilih meneruskan kegiatannya memandang langit. Tak lama, pandangannya beralih ke bawah. Ke arah jalan raya yang masih cukup ramai meski hujan.

Ting tong~~

Ting tong~~

Orang itu belum menyerah juga. Lyn berdecak. Dia menutup jendela kemudian berjalan ke luar kamar menuju pintu depan. Dia memutuskan untuk memeriksa siapa orang yang terus-menerus menekan bel apartemennya.

Lyn cukup terkejut melihat Malvin berdiri di depan pintu apartemennya.   Lyn menjauhkan wajah dari lubang intip, kemudian membuka pintu.

Malvin tersenyum lebar tatkala Lyn akhirnya membukakan pintu untuknya.

"Malam Bu Lyn," sapa Malvin sopan. Senyuman di bibir anak itu belum juga pudar. Padahal kakinya sudah pegal karena berdiri cukup lama di sini.

Lyn tidak menjawab. Lyn malah fokus pada penampilan Malvin yang nampak berantakan. Pakaian anak itu sangat basah dan di tangannya terdapat dua kantong plastik yang cukup besar. Apa anak ini baru saja menerobos hujan?

"Iya," jawab Lyn pada akhirnya.

"Ini, untuk ibu," ucap Malvin. Dia menyodorkan dua kantong plastik itu kepada Lyn.

Lyn tidak segera mengambilnya. Dia malah menatap Malvin aneh.

"Bu Lyn kan sedang kurang sehat. Jadi aku membelikan ini untuk ibu," ucap Malvin dengan tangan yang masih terulur. "Hanya buah-buahan dan beberapa cake. Aku harap Bu Lyn suka."

Tidak tega, Lyn akhirnya menerima pemberian Malvin itu dengan ragu.

"Makasih. Tapi, kamu tidak perlu repot-repot seperti ini," ucap Lyn.

"Enggak repot kok. Sebenarnya aku juga," Malvin nampak ragu untuk melanjutkan kalimatnya.

"Aku juga?" ulang Lyn berharap Malvin melanjutkan kalimatnya.

Tapi, Malvin malah salah tingkah. Anak itu beberapa kali menggaruk tengkuknya.

"Ah, enggak ada apa-apa kok Bu, enggak penting," ucap Malvin cepat.

Lyn hanya menatap Malvin aneh.

"Kalau begitu aku permisi dulu Bu Lyn," ucap Malvin lagi dan buru-buru berbalik, hendak pergi.

"Eh?" heran Lyn.

Hanya itu? Anak itu datang hanya untuk memberikan makanan ini untuknya? Yang benar saja.

"Malvin!" panggil Lyn. Seketika Malvin berhenti dan berbalik ke arah Lyn lagi.

"Iya."

"Kamu mau ke mana?" tanya Lyn.

Killer, Lover! [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang