Bab 36 - Suara Ketukan

630 94 5
                                        

Cecile keluar dari kamar mandi dengan perasaan lega. Dia hendak kembali ke tempat teman-temannya namun sesuatu menahan langkahnya. Ya, dia sudah di rumah ini. Di rumah seorang cowok yang benar-benar sangat ia sukai. Sudah sejak lama dia penasaran tentang segala hal yang menyangkut cowok itu. Sudah sampai di sini, dia tidak boleh setengah-setengah dong.

Melihat teman-temannya sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing, Cecile menaiki tangga dan berjalan pelan-pelan menuju lantai dua. Sejak masuk ke rumah ini, dia sudah memperhatikan hampir seluruh lantai satu, namun dia belum menginjakkan kaki sedikit pun di lantai dua. Dia tahu, ini mungkin sedikit lancang. Atau ... mungkin sangat lancang. Tapi, bagaimana lagi, rasa penasarannya akan sosok seorang Edwards sudah sangat menggebu-gebu. Dari pengamatannya sejauh ini, sudah pasti kamar Edwards ada di lantai dua. Karena di lantai satu hanya ada satu kamar, kemungkinan besar kamar itu adalah milik Ibunya. Lagipula, letak kamar itu berada di dekat ruang keluarga di mana teman-temannya sedang mengerjakan tugas sekarang. Tidak mungkinkan kalau dirinya masuk ke kamar itu sementara ada teman-temannya di sana? Jadi, tempat paling aman dan terjamin untuk menemukan kamar Edwards adalah lantai dua. 

Dengan pandangan yang terus mengawasi teman-temannya, Cecile melangkah perlahan. Begitu sampai di lantai atas, cewek itu tersenyum puas. Akhirnya, dia bisa menjelajah. 

Gadis itu berjalan melewati lorong pertama yang membawanya ke sebuah ruangan yang cukup luas. Di situ terdapat tiga buah pintu yang Cecile sendiri belum tahu ada apa di balik pintu-pintu itu. Sepertinya, di salah satu pintu itulah kamar Edwards berada. Gadis itu berjalan ke pintu pertama, yaitu pintu yang jaraknya paling dekat dengannya. Menekan kenop pintu dan mendorongnya, akhirnya pintu itu terbuka lebar. Senyum Cecile memudar seketika saat tidak menemukan apa yang ia cari di sana. Kamar itu bukan kamar Edwards. Di dalamnya hanya ada barang-barang yang tidak terpakai yang diselimuti kain-kain putih.

Gadis itu bergerak ke pintu selanjutnya, pintu yang letaknya bersebelahan dengan pintu yang tadi. Gadis itu menekan kenop dan mencoba membukanya. Namun, gagal. Mencoba membukanya lagi, tetapi gagal juga. Sepertinya pintu itu terkunci. Cecile menghela kecewa. Dia ingin melangkah ke pintu selanjutnya namun sebuah suara seperti ketukan terdengar dari dalam ruangan yang terkunci itu.

Awalnya, Cecile pikir ia salah dengar. Namun, ketukan itu terdengar dan terdengar lagi. Gadis itu mendekatkan telinganya ke pintu.

"Siapa?" tanya Cecile. Namun tidak ada jawaban hanya ketukan demi ketukan yang terus menerus terdengar. Tiba-tiba, Cecile merasa merinding. "Setan atau manusia?" tanya gadis itu memberanikan diri.

Tetap tidak ada jawaban. Hanya ketukan yang terdengar.

"Lo enggak bisa ngomong? Bisu atau bagimane?"

Tetap tidak ada jawaban, hanya saja ketukan itu terdengar semakin keras dan sering.

"Ih, enggak jelas banget sih!" gumam Cecile kesal sendiri.

"Gini aja deh. Gini. Kalau lo manusia, ketuk tiga kali. Tapi, kalau lo setan, cukup ketuk dua kali," ucap Cecile sedikit meninggikan suaranya.

"Setuju? Kalau setuju ketuk satu kali," pinta Cecile. Selang satu detik langsung terdengar suara ketukan satu kali.

"Oke berarti deal ya. Sekarang, ketuk dua kali kalau lo setan dan tiga kali kalau lo itu manusia. Empat kali kalau bukan di antara dua-duanya," ucap Cecile. Tapi, kalau bukan di antara dua-duanya, jadi apa dong? ALIEN!?

Ketukan itu terdengar. Satu kali... Dua kali... Dan...

"Kamu ... ngapain?"

"ASTAGANAGA!" teriak Cecile terperanjat dengan kedatangan Edwards yang tiba-tiba.

Tanpa mengatakan apapun lagi, cowok itu menghampiri Cecile dan langsung menarik dirinya menjauh dari tempat itu. 

"Ngapain kamu ke lantai dua diam-diam?" tanya Edwards sama sekali tidak ramah begitu mereka kembali ke lantai satu tempat teman-teman yang lain berada.

Cecile terdiam. Dia memijat pergelangan tangannya yang terasa cukup sakit akibat cengkeraman Edwards tadi.

"Gue... Gue..," Cecile mendadak gugup. Apalagi saat melihat tatapan Edwards kepadanya. Nyalinya benar-benar menciut. 

"Jawab aku! Kamu ngapain ke lantai dua!?" tanya Edwards lagi dengan suara lebih tegas daripada sebelumnya.

"Gue ... Gue cuma..."

"Ini kenapa sih?" tanya Jovas yang merasa bingung. Enggak ada angin. Enggak ada hujan. Kedua manusia ini tiba-tiba muncul dengan aura yang sangat tidak mengenakkan.

"Edwards, ini kenapa?" tanya Anhar sama herannya dengan Jovas. Cowok itu menatap ke arah Edwards dan Cecile secara bergantian, namun tidak ada di antara mereka yang merespon pertanyaannya.

"Please deh! Kalau ada masalah ngomong. Omongin baik-baik. Jangan saling diam kayak gini. Kalau kalian berdua sama-sama diam. Gimana kita bisa nyelesain semuanya," ucap Jovas greget sendiri.

"Cecile, kenapa sih? Lo buat masalah? Masalah apa yang lo perbuat sampe Edwards keliatan semarah itu sih?" tanya Airin yang mulai tidak nyaman dengan situasi yang terjadi.

"Gue ..., oke, gue ngaku, di sini emang gue yang salah. Guenya yang terlalu over ingin tahu segala hal tentang Edwards. Tadi gue ke lantai dua, niatnya gue mau nyari di mana kamar Edwards karena terlalu penasaran bagaimana sih bentuk kamar cowok yang gue suka. Tapi, apa dia harus semarah itu ke gue?"

Hening beberapa saat di antara mereka.

"Ya, jelas dong, goblok! Itu artinya lo enggak ngehargain privasi dia," celetuk Airin kemudian menatap Edwards. Raut wajah cowok itu sangat berbeda dengan yang ia lihat selama ini. Cowok itu seperti sedang menahan sesuatu. Sepertinya, dia sedang menahan emosinya agar tidak meledak. Seandainya pun emosi cowok itu meledak, Airin bisa memakluminya. Jika itu dirinya, sudah pasti dia juga akan marah dan memaki orang yang dengan seenaknya memasuki ranah pribadinya.

"Jadi, kita sekarang gimana?" tanya Anhar. "Tugas kita harus diselesain hari ini. Kalau ribut gini gimana kita ngerjainnya?"

"Maaf, tapi sepertinya kalian harus pulang. Masalah tugas, serahin ke aku aja. Biar aku yang selesaikan," ucap Edwards. Cowok itu benar-benar sudah tidak memiliki selera untuk berurusan dengan mereka hari ini.

"Kok gitu sih?" komentar Airin tidak terima. Jatah waktunya bersama Edwards hari ini harus berakhir dong. Ini gara-gara si Cecile! Sialan emang! Airin terus menggerutu dalam hati.

"Kalo lo maunya gitu, oke deh. Asal tugasnya selesai dengan baik, kami oke-oke aja kok," jawab Anhar mengerti apa yang dirasakan Edwards saat ini. Pasti sudah tidak nyaman bagi Edwards untuk berada di dekat Cecile hari ini. Dan tidak mungkin juga jika dia harus mengusir Cecile seorang, jadi pilihan terbaik adalah mengusir mereka semua dengan cara yang paling sopan. "Kalau kalian gimana? Pasti setujulah sama gue." Anhar menatap teman-temannya.

"Gue sih ngikut lo aja, Har. Gue juga seneng bisa bebas dari tugas. Gue bisa balik dan main MOBA seharian," ujar Jovas merasa senang.

"Tapi..." Airin ingin mengajukan keberatan. Tapi, kalau sudah seperti ini, dia bisa apa. "Oke deh. Kita balik," ucap Airin tidak ikhlas. "Gara-gara lo nih," lanjutnya menatap Cecile sarkas.

Jadilah mereka berempat mulai membereskan barang-barangnya. Setelah selesai, mereka pun berpamitan pada Edwards.

Setelah keempat orang itu meninggalkan rumahnya, Edwards memastikan bahwa mobil mereka sudah benar-benar pergi. Setelah itu, cowok itu mengunci pintu rapat-rapat dan segera berlari ke lantai dua dan menuju ke dalam kamar yang mana ada Lyn di dalamnya.

"Jadi, kamu mencoba memberitahukan keberadaanmu pada mereka?" tanya Edwards begitu masuk dengan senyum yang mengerikan. "Baiklah, kalau memang itu mau mu. Jangan salahkan aku yang akan menghukummu kali ini."

🍁

Kapan-kapan lanjut lagi...

Killer, Lover! [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang