Pria ini sengaja!
Dia sengaja tidak mengikat tangan Lyn malam ini hanya untuk melihat apakah gadis itu akan mencoba kabur atau tidak. Dan, benar saja, sesuai dengan prediksi Edwards sebelumnya, gadis itu akan tetap mencoba kabur meski dirinya telah memperlakukan gadis itu lebih baik akhir-akhir ini.
"Maaf! Maafkan aku! Aku tidak bermaksud untuk pergi. Aku, aku hanya-"
"DIAM!" teriak Edwards tepat di telinga gadis itu sembari menjambak rambutnya ke belakang. Lyn merintih kesakitan. Air mata yang terus mengalir di sudut mata gadis itu tidak pria itu hiraukan.
"Aku hanya meminta untuk tetap di samping ku! Besamaku! Apakah itu hal yang sulit, huh!?"
Kali ini Edwards benar-benar marah. Dari sorot matanya, Lyn yakin, anak ini bisa menghabisi nyawanya sekarang juga jika Lyn berani melawan atau membantah ucapan anak itu. Jadi, Lyn memilih diam. Dia menerima semua perlakuan buruk yang anak itu lakukan padanya.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, muncul ibu Edwards di sana.
"Ada apa ibu?" tanya Edwards bingung karena tidak biasanya ibu datang menganggu seperti ini. Biasanya, apapun yang Edwards perbuat, seribut apapun itu, ibunya tidak akan datang tanpa diminta terlebih dahulu.
Ibu Edwards melangkah cepat menuju anaknya. "Lihat apa yang ibu temukan," ucap Zhafira sembari menunjukkan sebuah benda kecil yang berada di telapak tangannya.
Edwards menatap benda berbentuk seperti kancing baju yang sangat kecil tersebut dengan saksama.
"Kamera?" Edwards terpana. Sudah pasti benda ini kamera dan ini bukan milik mereka karena mereka tidak memiliki satu pun kamera jenis ini.
Zhafira mengangguk. "Salah satu teman sekelasmu menaruhnya di dinding dekat tangga. Ibu sudah mengeceknya di cctv."
Edwards tidak bisa berkata-kata. "Mereka tahu?"
"Kemungkinan besar, iya. Tapi, bisa juga tidak karena kamera ini mati. Sepertinya dia lupa menyalakannya saat menaruhnya di dinding. Mereka tidak memiliki bukti. Mungkin mereka hanya sekadar mencurigaimu."
"Kenapa mereka mencurigaiku?" tanya Edwards sama sekali tidak menyangka.
"Ingat siswa yang ibu habisi dan jasadnya ibu taruh di laboratorium sains?" tanya Zhafira. Edwards mengangguk.
"Anak sialan yang sering menguntit Lyn itu?"
Zhafira mengangguk. "Teman-temam Malvin sudah melihat foto-foto Lyn yang diambil anak itu. Sepertinya mereka melihat beberapa potretmu di sana dan mulai mencurigaimu," ujar Zhafira memaparkan analisisnya. Mantan agent handal sepertinya tentu bisa dengan mudah menebak alur ceritanya.
"AKHHH!!!" Edwards berteriak kesal dan meninju dinding. Kenapa dia bisa melupakan kotak itu, sih? Dia sendiri tahu bahwa dia dan adik kelas itu pernah beberapa kali mengikuti Lyn di waktu yang bersamaan dan adik kelas itu beberapa kali berhasil mendapatkan potret dirinya juga. Itu sebabnya Edwards menyuruh Ibunya untuk menghabisi anak itu secara diam-diam karena anak itu tahu bahwa dia juga suka menguntit Lyn diam-diam. Hanya saja, saat anak itu berhasil dihabisi, entah bagaimana caranya Malvinlah yang pertama kali menemukan kotak berisi foto-foto itu di rumah kos anak itu mendahului dirinya. Dan kini, foto-foto itu sudah dilihat oleh teman-teman Malvin yang lain juga? Ini benar-benar situasi yang sulit dan berbahaya. Tidak mungkin dia menghabisi mereka semua begitu saja. Itu terlalu beresiko.
"Ibu, aku tahu," ucap anak itu mendapat akal tiba-tiba.
"Apa yang kau rencanakan?" tanya Zhafira.
"Sepertinya kita harus mempercepat kepergian kita. Kita tinggalkan negara ini secepatnya dan memulai hidup baru di negara baru seperti rencana awal kita," cetus Edwards.
"Kau yakin?" tanya Zhafira.
Edwards mengangguk cepat. "Yakin, Ibu. Kak Lyn sudah bersamaku sekarang. Lebih cepat kita pergi, lebih baik."
Berpikir beberapa detik, Zhafira langsung menyetujui permintaan anaknya.
"Anythings you want, My son," jawab wanita itu tersenyum manis ke arah Edwards.
Edwards balas tersenyum. "Terima kasih, Ibu," ucapnya tulus.
"Besok pergilah ke sekolah seperti biasa. Di sini, ibu akan mengurus semuanya. Paling lama, tujuh hari, kita sudah meninggalkan negara ini," ucapnya.
Edwards mengangguk girang. "Kamu dengar itu Kak Lyn? Ibuku akan mengurus semuanya. Kita akan hidup bahagia selamanya. Tidak akan ada lagi penghalang bagi kita," ucap Edwards yang berbalik menatap Lyn.
Lyn hanya menatap anak dan ibu itu dengan hampa.
Tapi ... tunggu?
"Malvin? Bagaimana dengan Malvin?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Lyn. Dan, Lyn segera menutup mulutnya rapat-rapat karena dia baru ingat bahwa Edwards tidak pernah suka Lyn menyebut nama Malvin.
Lyn kira, Edwards akan marah dan menyakitinya lagi. Namun, sebaliknya, pria itu malah tersenyum semakin lebar dan mengelus rambutnya lembut.
"Tenang saja. Penderitaannya akan segera berakhir. Kau tidak perlu khawatir," ucap Edwards tenang. "Mau bertemu dengannya?"
Lyn terkejut. Edwards menawarkan pada Lyn untuk bertemu dengan Malvin? Seriously?
"Untuk yang terakhir kali. Bukankah aku sangat baik pada mu, hmmm?" lanjut Edwards masih dengan senyuman manisnya membuat Lyn tidak bisa berkata-kata.
Kenapa ada orang-orang gila seperti ini di hidupnya, Tuhan?
Rasanya ... Lyn ingin melompat saja dari atas gedung tertinggi di dunia.
Tapi, orang ini tidak akan membiarkan dirinya mati semudah itu.
Lalu, Lyn harus apa? Jangankan untuk menyelamatkan Malvin. Menyelamatkan diri sendiri pun rasanya mustahil.
🍁
Yeayyyy!!!!
Malam ini aku double upppp!!!!
Jangan lupa vote dan komen ya guyssss...
Anggap aja sebagai apresiasi untuk aku yang belum menyerah dengan cerita ini...
Thank youuuuu.....
KAMU SEDANG MEMBACA
Killer, Lover! [TAMAT]
BeletrieSMA SANJAYA kedatangan siswa baru dari Amerika. Dia bernama Edwards Robertson. Dia baik, tampan, dan pintar. Hanya saja dia sedikit tertutup dan tidak suka bergaul. Namun, hal itu justru membuat orang-orang semakin penasaran akan sosoknya. Dia menja...
![Killer, Lover! [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/260229322-64-k287116.jpg)