Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Bab 26 - Rencana mencari Malvin

844 101 14
                                        

"Lepaskan aku, lepaskan. Tolong... Tolong... Siapapun, tolong keluarkan aku dari tempat ini," gumaman lirih terdengar dari bibir Malvin yang semakin lama semakin lemah dan pucat.

Dia sudah lelah. Memanggil, memaki, juga berteriak. Namun tetap saja, tidak ada seorangpun yang datang menghampirinya. Dia ingin menyerah. Mungkin tidak ada harapan lagi untuk dirinya bisa bebas dari tempat sialan ini.

Tubuh pria itu terkulai lemas. Kepala menunduk dengan bahu bersandar di dinding. Beberapa kali nyaris jatuh karena sudah tidak ada tenaga yang tersisa. Kedua tangannya seperti mati rasa. Entah kapan ikatan ini bisa terlepas. Dia rindu menggerakkan tangan dan kakinya secara bebas.

Malvin haus. Juga lapar. Rasanya sudah berhari-hari dia tidak makan dan minum. Perutnya terasa amat kosong dan kerongkongannya terasa amat sangat kering.

Apa orang itu sengaja ingin membuat dirinya mati kelaparan di tempat ini?

Cklek...

Dengan pandangan yang sedikit kabur, Malvin dapat melihat pintu kayu itu perlahan terbuka untuk pertama kalinya sejak ia berada di tempat ini.

Seseorang memasuki ruangan. Malvin hanya bisa melihat kaki orang itu yang mengenakan sepatu coklat berbahan kulit, berjalan perlahan ke arahnya, dengan aroma lezat makanan yang orang itu bawa bersamanya.

"Siapa kamu?" tanya Malvin setelah mati-matian mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah orang itu.

Tidak ada ekspresi berarti dari orang di hadapannya.

Orang itu hanya meletakkan sepiring nasi dengan sepotong ayam goreng dan segelas air putih di hadapan Malvin. Kemudian pergi begitu saja tanpa mengatakan sepatah kata pun.

"Hei!!! Anda mau ke mana?! Bebaskan saya!? Hei!!!! Jangan tinggalkan saya di sini!!!" Malvin berusaha memanggil orang itu dengan segenap jiwa dan raganya. Namun, orang itu tetap berjalan, keluar dari ruangan itu dan mengunci pintu rapat-rapat. Membiarkan Malvin sendirian. Meratapi rasa sakitnya.

🍁

Setelah tiga hari tidak masuk sekolah karena sakit, hari ini, Edwards akhirnya kembali masuk ke sekolah lagi.

Airin adalah orang pertama yang menyambut Edwards saat pria itu memasuki kelas.

"Oh My God! My prince is back!" gumam Airin begitu melihat Edwards. Gadis itu refleks berdiri. Ponsel di tangannya tergelincir dan hampir menyentuh lantai kelas. Untung ada Disa yang duduk di sebelah gadis itu yang sigap menangkapnya.

"Pagi, Edwards. How are you today?" sapa Airin menghampiri pria itu. Dia sudah tidak peduli dengan ponselnya yang kini berada di tangan Disa.

"Oh, hai, Airin," jawab Edwards dengan senyum ramah kemudian melepas tas dari bahunya dan meletakkannya di atas meja.

"Edwards kamu tahu enggak apa bedanya kamu sama hotel bintang lima?" tanya Airin setelah menggeser kursi dan duduk di sebelah pria itu.

Edwards mengeluarkan buku dari tasnya kemudian menggeleng.

"Enggak tahu," jawab Edwards singkat sekaligus bingung kenapa Airin tiba-tiba bertanya seperti itu.

Airin tersenyum cerah. "Kalau hotel bintang lima bisa digunakan siapa aja. Kalau kamu kan, cuma punya aku," lanjut Airin kemudian tertawa kecil.

"Garing!" komentar Disa yang kini sedang membaca komik. Sementara Edwards hanya memasang ekspresi datar karena kurang mengerti tentang hal-hal yang Airin sebut barusan.

"Ki, masih pagi, tapi calon bini Lo udah godain cowok lain," ledek Jovas yang langsung mendapat pukulan di kepala dari Reiki.

"Masih pagi, jangan bikin gue enggak mood. Mending Lo urusin mantan Lo yang kerjaannya tiap hari ngaca, lipstikan. Ngaca, lipstikan. Gitu aja terus sampe telur T-REX ditemuin di belakang rumah gue," balas Reiki kemudian berjalan santai menuju mejanya.

Killer, Lover! [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang