Bab 44 - Signal Bahaya

582 82 6
                                        

Seolah belum mengetahui apapun, Edwards pergi ke sekolah seperti biasa. Ada perubahan yang sangat besar akan sikap beberapa teman sekelasnya, yakni Anhar, Jovas, dan Reiki. Dari cara ketiga orang itu menatap dirinya, sudah dapat dipastikan bahwa mereka memang menaruh rasa kecurigaan yang begitu besar padanya. Terbukti selama pelajaran berlangsung, mata ketiga orang itu tidak hentinya mengawasi dirinya. Meski tidak dilakukan secara terang-terangan, tapi insting kuat Edwards mengatakan bahwa ketiga orang itu sedang memata-matai dirinya. Mengawasi setiap pergerakan yang ia lakukan.

AHK!!! Ingin rasanya Edwards menarik keluar bola-bola mata sialan itu dan menjadikannya santapan anjing peliharaan penjaga sekolah!

Saat bel istirahat, Edwards menghampiri ketiganya yang masih duduk di kursi masing-masing.

"Tumben kalian tidak pergi ke kantin?" tanya Edwards sok asik, tidak lupa melempar senyum manis khas miliknya. Dia benar-benar bersikap normal, seolah tidak terjadi apa-apa.

Edwards dapat menangkap sorot Jovas yang seperti ingin memangsanya hidup-hidup, namun Reiki menahan Jovas, meminta temannya itu untuk mengendalikan emosinya.

Sepertinya orang-orang ini sedang berusaha keras untuk berakting. 

Edwards tersenyum tipis melihat aksi mereka yang amatir.

"Lo sendiri kenapa enggak ke kantin?" Reiki balik bertanya.

"Ah, aku? Sebentar lagi ke kantin kok. Aku cuma mau bertanya. Apa kalian tahu alasan Airin tidak masuk hari ini?" tanya Edwards yang merasa aneh karena Airin tidak masuk tanpa pemberitahuan sama sekali. Jangankan dirinya, guru pun tidak tahu apa alasan gadis itu membolos hari ini.

"Kenapa tiba-tiba nanyain Airin?" tanya Reiki. Meski tidak diperlihatkan secara jelas, tapi sorot matanya menyiratkan rasa penasaran dan kekhawatiran.

"Akh, ini, aku sebenarnya ingin mengembalikan kalung miliknya yang ternyata memang terjatuh di rumahku kemarin," jelas Edwards. Pria itu mengeluarkan sebuah kalung perak yang cantik membuat tiga orang di hadapannya terdiam dan saling menatap. "Sekaligus ingin meminta maaf karena sikapku yang ketus padanya waktu itu."

"Mana kalungnya? Kasih sama gue aja. Biar gue yang ngasih sama Airin," ujar Reiki hendak merebut kalung dari tangan Edwards. Dia tidak peduli dengan ekspresi menyesal yang Edwards perlihatkan. Palingan ... itu cuma akting.

Namun, cowok itu lebih gesit. Edwards memasukkan kembali kalung itu ke dalam saku seragamnya sebelum Reiki menyentuhnya.

"Ah, tidak perlu. Biar aku saja," jawab pria itu santai kemudian pergi meninggalkan kelas dengan gaya khas miliknya.

Hampir saja Jovas berdiri mengejarnya jika tidak ditahan oleh Anhar.

"SIALAN!" umpat Jovas yang merasa tidak berguna. Sudah sejauh ini tapi belum bisa melakukan apa-apa. 

"Tetap tenang, guys. Ingat dengan apa yang dikatakn oleh Mr. Liem. Tetap fokus pada rencana awal kita. Ini berbahaya. Edwards atau siapapun sebenarnya dia, bukanlah orang sembarangan. Jangan sampai tindakan ceroboh kita membuat Bu Lyn atau siapapun terluka," peringat Anhar tegas. 

Kedua temannya hanya bisa mengangguk mengerti.

🍁

"Siap bertemu murid kesayanganmu untuk terakhir kalinya?" tanya Edwards. Tangan pria itu berada di belakang kepala Lyn, bersiap melepas kain penutup mata gadis itu.

Lyn diam. Gadis itu tidak berani menjawab. Jika ia mengiyakan, sama saja dia setuju dan membenarkan bahwa ini adalah hari terakhir dia bisa melihat Malvin. Dan lyn tidak ingin hal itu terjadi.

Killer, Lover! [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang